Hati Nana
Suatu
ketika, Ibu mengajak Nana pergi ke pasar. Di sana, Nana melihat seorang anak
kecil yang membantu Ibunya berjualan ikan teri. Karena tersentuh hatinya oleh
perjuangan sang anak, Nana pun meminta ibunya untuk membeli ikan tersebut.
"Bu,
boleh Nana beli ikan teri itu?" tanya Nana.
Ibunya
tertegun mendengar pertanyaan Nana. Tak disangka, Nana bertanya demikian.
Selama ini, Nana paling tidak suka dengan ikan teri.
"Nana,
mau beli ikan teri?" tanya Ibunya.
Nana
mengangguk.
"Ibu
nabelikan 2 plastik kecil ya. Kebetulan ini udah matang. Jadi dimakan dengan
nasi hangat," kata ibu bijak.
Ibu
lalu membelikan ikan teri untuk Nana. Gadis kecil itu menerima ikan teri dengan
gembira. Apalagi, saat Nana melihat anak yang membantu ibunya yang menjual ikan
teri, hati Nana semakin tergugah. Setelah membeli, Nana dan ibunya kembali
melanjutkan perjalanan.
Di
tengah perjalanan, Nana mengangkat ikan teri itu dengan gembira. Ibunya
terheran-heran melihat kegembiraan putrinya.
"Ikan
teri! Ikan teri! Yuk aku makan yaa ..." Nana bersenandung riang.
Meskipun
demikian, ibunya merasa bahagia mendengar senandung riang putrinya. Tiba-tiba,
di tengah jalan, mereka bertemu dengan seorang nenek renta yang mengangkut kayu
bakar. Tak disangka, hati Nana berkaca-kaca melihat nenek tua itu.
"Bu,
ikan terinya diberikan ke nenek ya," kata Nana.
Sang
ibu merasa bingung melihat sikap putrinya. Padahal, putrinya tadi merasa
tertarik makan ikan teri. Si Nana langsung memberikan ikan teri pada sang
nenek.
"Nek,
Nana berikan ikan teri ya untuk dimakan. Maaf, Nana adanya ikan kecil. Kalau
besar, Nenek mungkin kenyang," kata Nana polos dengan mimik muka yang
sedih.
Hati
ibu Nana tersentuh melihat kebaikan hati putri kecilnya. Sementara itu, sang
nenek menerima pemberian Nana dengan tersenyum.
"Terima
kasih gadis manis," ucap Nenek.
Nana
menjawab dengan ramah.
"Sama-sama
Nek!"
Mereka
lalu pulang kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, Nana langsung membersihkan
dirinya dan menyiapkan piring dan sendok di atas meja makan. Ibunya kaget
melihat sikap putrinya. Padahal, Nana hobi menonton film kartun setelah pulang dari pasar.
"Sayang,
kenapa kamu terlihat berbeda?" tanya ibunya heran.
"Bu,
Nana sedih lihat film di TV. Ada anak SD yang membantu ibunya berjualan nasi
uduk. Ia hebat Bu. Bisa belajar sambil jualan. Nana sedih ya Bu. Nana nggak
bisa membantu Ibu," ujar Nana polos.
Hati
ibu menjadi sedih. Ia tak menyangka, jika sang anak memiliki keluasan hati.
Meski usianya masih kecil, tetapi pikirannya seperti orang dewasa. Ibu Nana
lalu mengusap lembut rambut putri kecilnya.
"Nana,
besok kalau besar Nana mau jadi apa?" tanya ibunya.
"Nana
nggak mau jadi yang terhebat Bu. Nana mau jadi orang yang biasa-biasa
aja," celotehnya.
"Kenapa
Nana?" tanya sang ibu heran
"Biar
Nana bisa bermanfaat Bu. Bisa menjadi diri sendiri dan membantu sesama,"
kata Nana.
Sang
ibu tersenyum mendengar jawaban putrinya yang bijak. Ia lalu mendekap hangat
Nana, putri kesayangannya.

so sweet nana yang dilembutkan hatinya... usul dilanjutin lagi ceritnya kak, hehehe
BalasHapusCerita yang sederhana tapi bermakna. Tak muda bikin cerita kayak gini, terutama buat cerita anak. Bahasanya pun harus paling sederhana
BalasHapusSemangat kakak
Wah Nana keren banget. Berbuat baik bisa dimulai dari yang kecil dan sederhana.
BalasHapusYa ampun Nana baik bgt sihhhh. Masih kecil tapi hatinya udah tulus. Andai orang dewasa bisa mencontoh Nana, huhu.
BalasHapusAaaa Nana masih kecil tapi sudah punya keinginan untuk bermanfaat bagi orang lain
BalasHapusSemoga banyak nana2 kecil yang lembut hati dan tulus hatinya. Pertahankan itu hingga dewasa ya Na.
BalasHapusNyess banget sama kisahnya nana. Pesan moralnya dalem banget. Dimana orang sekarang pengennya berlomba2 jadi orang terhebat. Tapi nana beda~~
BalasHapusSebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lain... 🍁
BalasHapusMenjadi sederhana itu hebat, Nana. Menjadi bermanfaat jauh lebih hebat lagi.
BalasHapusCeritanya baguus. Harus coba dikirim ke majalah anak, Kak. Pesannya sederhana dan mudah diterima anak-anak :D
BalasHapusNana. Karakternya sama seperti kakak tingkat saya kebetulan namanya sama. Ditambah dengan cerita yang begitu menghanyutkan
BalasHapusreminder for my self
BalasHapusBagus banget. Moral valuenya dapat. Tulisannya juga ringan dan rapi jadi enak dibaca. Semangat terus kaak
BalasHapusWaah Nana kecil-kecil baik banget... Nana kelas berapa ya Kak?
BalasHapusCerpennya bagus, ditulis dengan ringan dan mengalir sehingga enak dibaca. nilai pesannya juga ikut tersampaikan dengan baik. ditunggu cerpen-cerpen yang lainnya kak
BalasHapus