The Greatest Love of All


Sumber gambar

Diedit menggunakan aplikasi Canva secara pribadi

Daynne merasa biasa-biasa saja. Ia merasa tak istimewa seperti anak lainnya. Pemalaskah dirinya? Tidak. Santai? Tidak juga. Ia hanya belajar sesuai dengan kemampuan dirinya. Ia tak mau pusing-pusing. Baginya, hidup adalah sebuah perjalanan. Hidup tidak perlu dibanding-bandingkan, karena setiap pribadi berproses dengan caranya masing-masing.

Daynne merupakan seorang anak di Desa Blueberry. Orang tuanya bekerja sebagai petani anggur. Setelah pulang sekolah, Daynne terbiasa membantu ayah dan ibunya. Selama bekerja, Daynne tidak banyak bicara. Ia hanya mengatakan seperlunya saja. Namun, ia memiliki hati yang tulus dan kecekatan dalam bekerja. Ketika dibantu oleh Daynne, pekerjaan di kebun anggur menjadi cepat selesai.

“Daynne, apakah boleh ayah minta tolong untuk memetik anggur di bagian depan?” tanya ayahnya.

Tanpa banyak berbicara, Daynne segera menuju ladang anggur bagian depan. Di sana, ia memetik anggur dengan sabar. Ia sungguh menikmati pekerjaannya. Dengan berhati-hati, ia memilih anggur yang telah masak. Tak lupa, Daynne memetik satu anggur dan mencoba mencicipnya. Hal itu dilakukan untuk memastikan apakah anggur yang dimakannya terasa manis atau tidak. Ternyata, rasanya manis. Daynne lalu melanjutkan aktivitasnya. Setelah selesai, Daynne lalu menyerahkan hasil petikannya pada sang ayah.

“Wah kamu hebat Daynne … Anggur ini rasanya manis sekali … Kita bisa segera menjualnya di pasar kota. Di sana, anggur ini akan dibuat selai sebagai isian untuk makan roti,” tukas ayah Daynne.

Daynne mengangguk sambil tersenyum.

“Saat ini, anggur langka, Nak. Kita harus mengolah kebun anggur ini dengan tekun dan sabar. Kalau kita bisa melakukannya, kelak anggur ini akan berbuah manis. Harga anggur pun juga mahal. Namun, kita perlu konsisten dan sabar dalam mengelolanya,” nasihat ayah Daynne bijak.

“Betul yah …” sahut Daynne singkat.

Daynne dan sang ayah lalu kembali melanjutkan pekerjaannya di kebun anggur. Tak terasa, mentari hampir pulang ke peraduannya. Daynne dan ayahnya bergegas menyelesaikan pekerjaannya. Sebelum malam tiba, pekerjaan mereka telah selesai. Ketika malam, mereka makan malam bersama.

“Daynne, kalau besar mau jadi apa?” tanya ibunya dengan lembut.

Daynne hanya terdiam. Dengan tenang, ia menjawab.

“Daynne hanya ingin menjadi petani anggur … .”

Jawaban Daynne cukup membuat ibunya menjadi tersentak. Bagaimana tidak, putrinya hanya bercita-cita sama seperti dirinya. Namun, ia berusaha mencerna dan menanggapi jawaban putrinya dengan bijak.

“Nak, sungguh cita-cita yang mulia. Ibu merasa bahagia mendengarnya. Nak, dengan menjadi petani anggur, kamu bisa mengembangkan kebun anggur milik keluarga kita. Mungkin, kamu bisa mengolahnya menjadi susu anggur, roti anggur, tepung anggur, dan aneka produk lainnya,” kata sang ibu dengan bijak.

“Benar Nak. Ayah setuju dengan ibu. Tidak ada yang buruk dengan cita-citamu. Semoga Tuhan selalu memberkati langkahmu ya Nak,” ujar sang ayah sambil tersenyum.

Daynne mengangguk-angguk sambil tersenyum. Gadis itu menatap hangat orang tuanya.

***

Daynne bekerja dengan rajin di kebun anggurnya. Tak lupa, ia juga membantu sang ayah mengantarkan anggur pesanan orang di kota. Meskipun menggunakan kereta kuda, Daynne jarang mengeluh. Ia benar-benar menikmati pekerjaannya. Sang ayah merasa bangga dengan proses Daynne. Di rumah, Daynne juga membantu ibunya membuat makanan dan minuman yang terbuat dari bahan dasar anggur. Makanan itu di antaranya: selai anggur, roti anggur, susu anggur, dan teh anggur. Daynne juga belajar untuk memasarkan dan mempromosikan produknya.

Awalnya, produknya belum menyentuh pasar secara luas. Daynne tak kenal menyerah. Ia berusaha. Ketika ada kesulitan, Daynne dan orang tuanya mencoba mengatasi. Ketika mengalami kekurangan, Daynne mencari penyebab dan berusaha menyelesaikannya. Lama kelamaan, produk karya Daynne dan keluarganya semakin dikenal oleh masyarakat luas.

***

Seiring berjalannya waktu, Daynne akhirnya dikenal sebagai petani dan pengusaha anggur yang sukses. Saat orang tuanya telah memasuki usia senja, Daynne melanjutkan usaha milik orang tuanya. Di lingkungan sekitarnya, Daynne yang tak banyak bicara juga dikenal sebagai sosok yang dermawan. Ia juga melibatkan orang di sekitarnya dan siapa saja untuk bekerja bersamanya. Gadis manis ini juga tidak pelit membagikan ilmunya mengenai cara pembuatan makanan dan minuman berbahan anggur. Alhasil, muncul pengusaha anggur yang semakin berkembang. Meskipun demikian, Daynne tidak merasa tersaingi, apalagi merasa sombong. Ia hanya merasa biasa-biasa saja. Bagi Daynne, kesempatan dan kemampuan yang dimilikinya hanyalah berkat Tuhan. Tanpa Tuhan dan orang tua, Daynne tidak bisa melakukan apa-apa. Sejak saat itu, Desa Blueberry dikenal sebagai ‘desa anggur’. Ketika orang melewati desa tersebut, mereka akan teringat akan ketulusan dan kerendahan hati dari seorang Daynne.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hope

Hati Nana

Ngerasa Gabut? Yuk, Baca Buku yang Ringan!