Kemelut Hana

 Sumber gambar

Diedit menggunakan aplikasi Canva secara pribadi


Hana berasal dari keluarga menengah ke bawah. Sejak duduk di kelas 11 SMA, ia memutuskan keluar dari sekolah karena terkendala biaya. Hana lebih memilih untuk membantu orang tuanya bekerja sebagai pemulung dan buruh cucian. Tak jarang, ia juga bekerja sebagai kuli gendong. Bagi Hana, tidak masalah untuk mengerjakan pekerjaan yang kasar, asalkan halal.

Hana menyadari jika dirinya telah meneguk pahitnya kehidupan. Ia ingin sekali menggapai mimpi dan cita-citanya. Sayangnya, karena keterbatasan biaya, ia terpaksa harus mengubur dalam-dalam. Lagipula, Hana masih memiliki 2 adik yang masih kecil-kecil. Ia rela meninggalkan harapannya, demi membantu orang tua dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

Dalam keluarga kecilnya, orang tua Hana tidak berpendidikan tinggi. Orang tuanya bernama Pak Marso dan Ibu Ranti. Mereka bertipikal temperamen, tetapi tidak bermain fisik. Sayangnya, mereka sering membuat adik Hana menangis. Sebagai anak tertua, Hana berusaha menenangkan adik-adiknya.

“Han!!! Han!!!” panggil ibunya.

“Iyaa Mak …” Hana tergopoh-gopoh menghampiri ibunya.

“Han, itu adikmu nangis terus! Semalam, Mak udah buatkan dia air hangat pakai gula! Masih aja mau susu! Nggak mikir apa, harga susu tuh mahal …” keluh ibu Hana kesal.

Hana tertegun sedih mendengarnya. Wajah Ibu Ranti seketika cemberut melihatnya.

“Kenapa Han, kamu sedih?! Mak nggak suka lihat kamu mukanya begitu! Coba deh, tegar dikit napa?! Mak capek, kerja terus buat kalian bertiga!” Ibu Ranti menjadi kesal.

“Maafkan Hana Mak … . Mak, Hana’kan udah keluar dari sekolah ini. Hana udah jaga adik-adik Hana selama di rumah ketika Bapak dan Mak bekerja …” kata Hana pelan.

“Ah … Gitu aja ngeluh! Itu kewajibanmu sebagai kakak! Anak tertua Mak! Mak pusing kalau mereka nangis. Mau mereka minta susu kah, jajanan kah, Mak nggak bakal kasih! Enak aja, Mak udah capek-capek kerja. Kalian bisanya minta doang!” nyinyir ibu Hana.

Hati Hana sedih mendengarnya. Batinnya terisak. Ia ingin sekali melawan ibunya. Tetapi, ia tersadar kalau seseorang yang di depannya adalah wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya sampai saat ini.

“Han, besok Mak kerja lagi. Mak kerja jadi pemulung! Lumayan Han, duitnya dapat 100 ribu satu hari. Bapakmu kerja juga. Lumayan kan kalau kita semua kerja, duit ngumpul banyak! Bisa beli sembako, perbaiki rumah. Mana lagi genteng bocor. Aduh Mak kesel lihatnya …” kata ibu Hana.

“Iya Mak … . Hana besok kerja ya … Mak sendiri yang bilang, Hana suruh jaga adik Hana. Hana dah kerja buruh cuci Mak. Udah buruh gendong juga … Besok Hana coba deh jadi kasir toko …” kata Hana dengan muka lesu.

“Eh Han, jangan lesu dong! Kamu mau kaya nggak? Duit banyak! Makanya kerja dulu … Jangan coba-coba kerja yang nggak jujur. Kalau perlu, kerja keras. Tapi halal …” nasihat ibu Hana.

“Iya Mak …” jawab Hana lesu. Ia bergegas menuju kamar dan menemani kedua adiknya yang telah tidur.

***

Keesokan harinya, Hana bergegas menuju ke sebuah toko perabotan rumah tangga. Di sana, ia mencoba menanyakan lowongan kerja.

“Permisi kak. Perkenalkan saya Hana Pangestu. Maaf kak, saya mau bertanya …”

“Silakan Kak Hana. Ada yang bisa dibantu?” tanya salah satu karyawan toko ramah.

“Maaf Kak, apakah di sini ada lowongan kerja?” tanya Hana.

“Wahh ... Ada kak. Silakan kak. Untuk sementara, posisi yang dibutuhkan adalah kasir toko kak …” kata karyawan toko itu.

“Wahh boleh kak,” jawab Hana riang.

“Syaratnya foto copy KTP ya kak. Besok sudah mulai bekerja,” kata karyawan toko itu.

“Baik kak … . Terima kasih …” ucap Hana riang. Karyawan toko itu menganggukkan kepalanya dengan ramah.

Hana segera pulang di rumahnya. Sesampainya di rumah, Hana merasa heran karena ada seorang pria bertubuh tegap dan tinggi datang ke rumahnya. Ia ditemani dengan dua kawannya, seorang pria yang botak dan bertubuh kerempeng. Pria itu seperti bapak-bapak. Hana merasa tidak asing dengan pria itu. Ia mengintip dari jauh.

“Saya berikan uang 1 miliar untuk Pak Marso dan Bu Ranti! Uangnya ada di koper ini,” kata pria itu sambil menunjuk ke arah tas koper.

Pak Marso dan Bu Ranti merasa kegirangan. Ia sudah tak sabar dengan isi koper itu.

“Tolong buka kopernya!” perintah pria itu.

Kedua anak buahnya segera membuka koper tersebut.

“Wahhhh banyak sekali Bu …” Pak Marso berdecak kagum melihatnya. Ia memungut uang itu dengan tangan gemetar. Ia sama sekali melihat uang sebanyak itu. Begitu juga dengan Bu Ranti. Tak henti-hentinya, ia melongo karena melihat tumpukan uang yang banyak.

“Ada syaratnya tapi …”

“Apa Pak?” tanya Pak Marso.

“Punya anak gadis?” tanya pria itu.

“Ada Pak … Namanya Hana. Dia tidak tamat SMA … Kelas 11 keluar …” kata Pak Marso.

Pria itu mengangguk senang. Ia berbisik pelan pada kedua anak buahnya.

“Masih gadis … Cantik pasti … Kebetulan, aku sudah lama sendiri. Boleh kalau aku melamarnya besok dan kita segera menikah!” kata pria itu.

Pak Marso dan Bu Ranti terkejut mendengarnya. Namun, kedua anak buah itu memamerkan segepok uang di depan mereka. Mata dan hati Pak Marso dan Bu Ranti menjadi kalap. Mereka tergiur dengan tumpukan uang merah dengan jumlah yang fantastis. Tanpa berpikir panjang, Pak Marso mengiyakan permintaan pria itu. Lantas, pria itu memberikan koper pada mereka. Pria tegap dan kedua anak buahnya lalu pulang. Setelah melihat dan memastikan para pria itu benar-benar pergi, Hana keluar dari persembunyiannya. Ia segera berlari ke rumah.

“Mak! Pak!” panggil Hana.

“Hana! Cepat pulang!” seru bapaknya marah.

Hana merasa kebingungan melihat ekspresi wajah bapaknya.

“Jangan lelet! Sini!” Bu Ranti menarik kasar tangan anaknya.

“Aduh sakit!” Hana mengeluh kesakitan.

“Mak kenapa … . Keras sama Hana?” tanya Hana penasaran sambil mengaduh.

“Jangan manja! Mak nggak suka sama anak yang manja! Eh Hana, besok jangan kemana-mana ya! Besok di rumah aja! Dandan yang cantik …” cerocos Bu Ranti.

“Kenapa Mak? Hana udah diterima kerja Mak …” kata Hana dengan wajah sedih.

“Dengerin Mak ya … . Kalau Mak udah bilang, ya harus dituruti. Intinya, besok nggak usah kerja! Bentar lagi, hidup kita bakal enak!” kata Bu Ranti tersenyum licik. Begitu juga dengan Pak Marso.

Hana semakin penasaran dengan orang tuanya. Ia heran, karena bapak dan ibunya mendadak berubah. Tak terasa, siang yang terik menjelma sore. Sore pun berganti malam. Hana tidak bisa tidur. Ia tenggelam dalam kebingungan dan seribu tanya.

***

Keesokan harinya, keluarga Hana kedatangan tamu. Betapa terkejutnya, Hana! Ternyata, tamu yang datang adalah para pria yang dilihatnya kemarin. Hati Hana merasa tidak enak. Ia mulai curiga. Ia bergegas meninggalkan ruang tamu. Akan tetapi, tangannya ditahan dengan kuat oleh ibunya.

“Duduk sini! Jangan buat Mak malu!” bisiknya keras.

Hana mengangguk pasrah. Ia terpaksa duduk kembali.

“Terima kasih Pak Marso dan Bu Ranti … Benar-benar sambutan yang meriah. Saya sangat tersanjung. Apalagi, melihat kecantikan sempurna dari putri Bapak …” puji pria itu.

Hana semakin gelisah. Bulu kuduknya berdiri. Ia merasa ngeri dengan perkataan pria itu.

“Putri Bapak dan Ibu benar-benar matang. Ia cantik dan indah. Saya benar-benar terpana dengan malaikat yang anggun dan menawan. Benar-benar mempesona Pak.” Pria tegap itu menelan air liurnya. Hana melihatnya dengan jijik.

“Terima kasih Pak Toni … Saya benar-benar tidak enak karena dipuji oleh orang terkaya di kampung ini. Juragan kelapa! Bos perusahaan emas. Saya tidak menyangka Pak … Bapak benar-benar …” Belum sempat Pak Marso berkata-kata, Pak Toni telah mengisyaratkannya untuk diam. Ia menjentikkan jarinya. Kedua anak buahnya lalu membuka kotak yang berisi perhiasan emas murni yang banyak.

“Perhiasaan ini seharga 20 juta. Cocok dikenakan oleh gadis ini …” kata Pak Toni.

Mata Pak Marso dan Bu Ranti terbelalak kaget. Mereka telah buta hatinya. Tanpa sabar, mereka menyenggol Hana. Gadis itu hanya diam kebingungan dan gelisah. Ia merasa gemetar.

“Nak, namamu Hana’kan? Izinkan saya melamarmu menjadi istri saya. Saya akan bahagiakan kamu sepenuhnya. Saya cukupi apapun yang kamu inginkan …”

Hana tersentak kaget. Hatinya terasa sesak. Bagaikan disambar petir di siang bolong, Hana mendengar kenyataan pahit.

“Han, kamu harus denger kata Mak! Kita bakal bebas dari kemiskinan! Usiamu 17 tahun, Pak Toni 58 tahun! Nggak masalah Han!” kata Bu Ranti. Mereka mengangguk-angguk setuju, kecuali Hana. Dirinya tak setuju dengan pernikahan ini.

“Han, kalau kamu nggak setuju. Kamu durhaka sama Mak dan Bapak!” celoteh Pak Marso.

Hana semakin takut kalau dia benar-benar durhaka terhadap orang tuanya. Ia sendiri tak bisa berbuat apa-apa. Dengan berat hati, ia akhirnya menganggukkan kepalanya. Hana sudah pasrah dengan pilihannya ini.

***

Dua hari kemudian, pernikahan Hana dengan Pak Toni akhirnya diselenggarakan. Semua tampak bahagia pada hari yang sakral itu, kecuali Hana. Ia terlihat lesu. Matanya bengkak dan sembap, karena kebanyakan menangis. Bu Ranti, terus menyenggol Hana dan memaksa anaknya untuk tersenyum ketika menyalami tamu. Hana tersenyum dengan terpaksa, karena tidak ingin membuat orang tuanya sedih dan marah. Hana tampak cantik dengan balutan kebaya putih yang anggun, sedangkan Pak Toni tampak gagah dengan jas hitamnya. Pak Toni melemparkan senyum ramah pada tamu-tamunya. Sementara itu, Hana banyak diam tertunduk. Ia merasa malu dan tidak berharga. Diam-diam, Hana menitikkan air mata. Ia buru-buru menghapus air matanya dan berusaha tersenyum di balik riasan wajahnya. Sungguh … . Hana benar-benar menderita. Hatinya amat terluka, akibat keegoisan orang tuanya …

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hope

Hati Nana

Ngerasa Gabut? Yuk, Baca Buku yang Ringan!