Tuhan Bersamaku
Aku digoncang oleh tekanan hidup yang hebat. Ekspetasi
dari orang-orang sekitar, keinginan diri sendiri, dan hidup yang jalannya kayak
roller coaster. Aku sadar kalau apa yang ku alami semakin berat.
Terkadang, aku merasa dilema ketika akan memutuskan sesuatu. Takut kalau
pilihan dan keputusanku salah. Aku takut dan cemas kalau apa yang ku putuskan
ternyata tidak bisa memenuhi ekspetasi orang. Aku hidup dalam bayang-bayang
mereka. Akibatnya, aku merasa tertinggal dengan teman-tenanku. Setiap kali, aku
lihat story teman-temanku tentang penampilan mereka, kelulusan, liburan,
dan keberhasilan lainnya, aku merasa insecure. Diriku terasa semakin
ciut. Apalagi, kalau ada orang yang meremehkanku, aku tenggelam dalam keminderanku.
Akibatnya, aku cenderung pasif dan lebih suka menyembunyikan diri. Aku menutup
pergaulanku dengan teman-teman. Aku takut kalau mereka tidak mau berteman
denganku, hanya karena aku seorang yang tidak bisa apa-apa.
Aku jatuh sedalam-dalamnya. Hatiku terasa perih,
ketika dihina dan dicampakkan. Ingin berkata-kata keras, tetapi lidah ini
terasa kelu. Dada terasa sesak dan menumpuk di dalam. Hal yang ada hanyalah
marah dan marah. Menangis dan menangis. Menerima banyak nasihat, rasanya tidak
mempan. Menerima kata-kata motivasi rasanya malah berbeban. Aku tidak tahu
harus bagaimana lagi. Aku merasa bersalah atas diriku sendiri. Aku menangis
dalam waktu yang lama. Mataku terasa bengkak. Aku kehilangan selera makan.
Bahkan, aku merasa putus asa.
Aku menyendiri di tengah malam. Aku hanya banyak
mengeluarkan air mata. Rasanya begitu lelah. Aku hanya curhat pada Tuhan.
Berbicara sedalam-dalamnya melalui air mata. Tuhan mendengarkan semua
tangisanku. Tuhan melihat hatiku. Tuhan tidak meninggalkanku. Ia merangkulku
dengan penuh kasih. Mendekapku erat. Memastikan bahwa semuanya akan baik-baik
saja. Meskipun hati ini terasa pedih dan dibayangi oleh kecemasan, Tuhan
menguatkanku.
Setelah semuanya terjadi, aku hanya mempercayakan
sepenuhnya pada Tuhan. Aku melangkah sesuai dengan jalanku. Mungkin, apa yang
menjadi pilihan hidupku, tidak bisa memenuhi ekspetasi orang. Perlahan, aku
memeluk diriku. Aku mulai mengasihi diriku. Aku hanya perlu fokus untuk diri
sendiri. Aku menyadari bahwa aku tak sendiri dan Tuhan selalu bersamaku.

Komentar
Posting Komentar