Tuhan Bersamaku

 

Sumber:
Diedit menggunakan aplikasi Canva secara pribadi

Aku digoncang oleh tekanan hidup yang hebat. Ekspetasi dari orang-orang sekitar, keinginan diri sendiri, dan hidup yang jalannya kayak roller coaster. Aku sadar kalau apa yang ku alami semakin berat. Terkadang, aku merasa dilema ketika akan memutuskan sesuatu. Takut kalau pilihan dan keputusanku salah. Aku takut dan cemas kalau apa yang ku putuskan ternyata tidak bisa memenuhi ekspetasi orang. Aku hidup dalam bayang-bayang mereka. Akibatnya, aku merasa tertinggal dengan teman-tenanku. Setiap kali, aku lihat story teman-temanku tentang penampilan mereka, kelulusan, liburan, dan keberhasilan lainnya, aku merasa insecure. Diriku terasa semakin ciut. Apalagi, kalau ada orang yang meremehkanku, aku tenggelam dalam keminderanku. Akibatnya, aku cenderung pasif dan lebih suka menyembunyikan diri. Aku menutup pergaulanku dengan teman-teman. Aku takut kalau mereka tidak mau berteman denganku, hanya karena aku seorang yang tidak bisa apa-apa.

Aku jatuh sedalam-dalamnya. Hatiku terasa perih, ketika dihina dan dicampakkan. Ingin berkata-kata keras, tetapi lidah ini terasa kelu. Dada terasa sesak dan menumpuk di dalam. Hal yang ada hanyalah marah dan marah. Menangis dan menangis. Menerima banyak nasihat, rasanya tidak mempan. Menerima kata-kata motivasi rasanya malah berbeban. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku merasa bersalah atas diriku sendiri. Aku menangis dalam waktu yang lama. Mataku terasa bengkak. Aku kehilangan selera makan. Bahkan, aku merasa putus asa.

Aku menyendiri di tengah malam. Aku hanya banyak mengeluarkan air mata. Rasanya begitu lelah. Aku hanya curhat pada Tuhan. Berbicara sedalam-dalamnya melalui air mata. Tuhan mendengarkan semua tangisanku. Tuhan melihat hatiku. Tuhan tidak meninggalkanku. Ia merangkulku dengan penuh kasih. Mendekapku erat. Memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Meskipun hati ini terasa pedih dan dibayangi oleh kecemasan, Tuhan menguatkanku.

Setelah semuanya terjadi, aku hanya mempercayakan sepenuhnya pada Tuhan. Aku melangkah sesuai dengan jalanku. Mungkin, apa yang menjadi pilihan hidupku, tidak bisa memenuhi ekspetasi orang. Perlahan, aku memeluk diriku. Aku mulai mengasihi diriku. Aku hanya perlu fokus untuk diri sendiri. Aku menyadari bahwa aku tak sendiri dan Tuhan selalu bersamaku. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hope

Hati Nana

Ngerasa Gabut? Yuk, Baca Buku yang Ringan!