The Secret Enemy
Seluruh warga SMP Maju Jaya gempar! Kania, salah satu
siswi yang berprestasi dan populer di sekolah dikabarkan menghilang. Orang tua
Kania panik bukan main. Pihak sekolah sibuk mencari Kania sambil melibatkan
aparat keamanan. Anak OSIS pun juga ikut terlibat dalam pencarian Kania. Dalam
proses tersebut, desas-desus pun bermunculan. Kania diduga diculik oleh seseorang.
Apalagi, Pak Burhan, ayah Kania adalah pemilik pabrik selimut yang menjadi donatur
di sekolah tersebut. Bahkan, beberapa teman Kania menduga jika Raveena dan
teman-temannya terlibat dalam kasus hilangnya Kania. Selama ini, Raveena dan
kelompoknya sering bersitegang dengan Kania dalam berbagai hal. Hmm, benarkah
demikian? Diam-diam, Seto, Fahri, Oliv, dan Chika menyelidiki kasus ini.
Bagaimana ceritanya? Yuk, kita simak!
***
“Aku heran … Kenapa ya, kok Kania bisa diculik?” tanya
Farah, tangan kanan Raveena.
“Yaa … Namanya aja anak populer. Cantik, pinter,
kesayangan guru lagi! Bisa aja diculik karena cantik!” celoteh Rurin.
“Aku menduga sih, kemungkinan gara-gara Pak Burhan
sering muncul di acara sekolah. Sok-sok jadi donatur sekolah. Si Kania juga
dibanggakan sama guru. Harusnya Raveena sih yang maju!” celetuk Willy, ketua
tim basket sekolah yang menjadi pendukung Raveena.
“Betul Wil! Raveena itu kurang apa coba? Jago
matematika, anak KIR, anak dance, jago basket lagi! Di kelas, sering
masuk tiga besar. Seharusnya, pantaslah dibanggakan sama guru-guru!” timpal Chandra,
ketua tim sepak bola sekolah.
Raveena tersenyum licik mendengar perkataan mereka.
“Tenang guys. Kalian nggak usah khawatir. Aku tetap
bakal jadi anak populer di sekolah,” kata Raveena sambil tersenyum sinis. Semua
temannya mengacungkan jempol.
“Semua guru panik … Orang tua Kania panik … Lihat
Kania, kini kamu merasakan apa yang ku rasakan …” gumam Raveena dalam hati.
***
Enam tahun yang lalu, saat Raveena masih kecil, orang
tuanya bekerja sebagai asisten rumah tangga dan sopir di rumah Kania. Meski memperoleh
gaji yang cukup, tetapi Pak Rano, ayah Raveena dan Bu Tatya, ibu Raveena sering
dimarahi oleh Bu Sisi, ibu Kania yang dikenal galak, sombong, dan pelit. Saat
itu, Raveena ikut tinggal bersama keluarga Kania karena di rumah tidak ada yang
menjaga Raveena.
“Bi Tatya! Cepet bersihkan ruang tamu! Itu lantainya
kotor banget. Nggak enak tau aromanya. Kalau nanti tamu suami saya nggak betah
gimana,” omel Bu Sisi.
“Baik Bu …” kata Bu Tatya menunduk.
“Ibu? Kamu pikir saya ibumu?! Tolong ya, panggil saya
Nyonya!” seru Bu Sisi pongah.
Bu Tatya hanya terdiam ketakutan.
“Ba … baik Nyonya …” Bu Tatya bergegas membersihkan
lantai ruang tamu dengan berhati-hati. Bu Sisi mengawasi kinerjanya. Ketika Bu
Tatya menyapu lantai, tak sengaja sapunya mengenai kursi kesayangan Bu Sisi. Mata
Bu Sisi membelalak kaget.
“Kursiku!!!” seru Bu Sisi. Ia lalu memelototi Bu Tatya.
“Kursi ini mahal Bi! Suamiku beli nggak murah. Kayunya
asli! Harganya ratusan juta! Kalau lecet, gimana? Bi Tatya sanggup ganti?!”
marah Bu Sisi.
Bu Tatya semakin takut. Ia hanya terdiam.
“Besok kamu keluar Bi! Saya khawatir kalau barangku
banyak yang rusak!”
“Nyonya … Maafkan saya … Maafkan saya …” Bu Tatya
semakin memohon.
Bu Sisi hanya terdiam. Ia lalu menyuruh Bu Tatya untuk
mengemasi barangnya. Bu Tatya hanya menangis terisak lalu beranjak berdiri. Bu
Tatya segera mengemasi barang dan mengajak Pak Rano dan Raveena untuk
meninggalkan rumah itu. Ketika selesai dan mereka pamit, Bu Sisi hanya terdiam.
Saat itu, Raveena yang sudah berusia 6 tahun sudah
menduga ada sesuatu yang tidak mengenakkan hati telah terjadi. Ia merasa heran mengapa
ibunya keluar rumah sambil menangis. Ia melihat ke arah belakang. Tampak Bu Sisi
berdiri dengan sombong. Olala. Raveena akhirnya mengetahui apa yang terjadi.
Ternyata, ulah Bu Sisi yang telah mengusir ibunya dan keluarganya. Tak disangka,
muncul benih kebencian dalam hati Raveena. Dalam beberapa waktu yang akan
datang, ia harus membalas dendam atas sakit hati yang dialami oleh ibunya.
***
Kembali ke masa kini, setelah pulang dari sekolah,
Raveena menghubungi seseorang asing.
“Bagaimana keadaan Kania? Kalian tidak menyakitinyakan?”
tanya Raveena.
“Kania baik-baik saja Nona. Intinya, kerja kami sesuai
permintaanmu beres. Donatur sekolah itu segera mengirimkan setengah dari
kekayaannya ke rekening kami,” kata suara seorang pria dengan suara parau.
“Aku benci melihat kebahagiaan dalam keluarga itu.
Kalau bisa, habiskan uangnya. Berikan semua uang itu pada orang yang
membutuhkan. Aku masih sakit hati saat ibuku diperlakukan dengan seenaknya oleh
Bu Sisi, ibu Kania. Aku merasakan sakitnya orang kecil diperlakukan dengan
semena-mena. Kini, giliran Kania yang memperoleh balasannya. Bagaimana sakitnya
diperlakukan oleh orang yang dulu dihina, sekarang telah mapan,” ujar Raveena
dengan tersenyum licik.
“Aman Nona. Kami lakukan sesuai permintaanmu,” jawab
suara di seberang telepon.
“Bagus. Habiskan uangnya. Biarkan Kania dan keluarga
hidup sebagai lapisan bawah. Aku dan keluargaku tinggi dan bisa membantu banyak
orang. Asal, namaku jangan disebut karena membantu orang bawah,” kata Raveena.
“Untuk uang kalian, saya berikan lebih. Itu bisa
mencukupi kalian. Kalau masih kurang, silakan hubungi saya. Jangan teman-teman.
Semua orang jangan sampai tahu. Besok pagi, kembalikan Kania pada keluarganya.
Saya beri waktu 24 jam dari sekarang, untuk mengambil kekayaan Kania dan
keluarga,” perintah Raveena.
“Siap Nona!” sahut suara tersebut lalu menutup telepon.
***
Di kantin sekolah, Seto, Fahri, Oliv, dan Chika duduk
bersama membahas kasus hilangnya Kania. Mereka tampak asyik menyeruput es teh
di bawah sinar matahari yang terik.
“Kemarin, aku udah muter-muter cari Kania. Cari di
tempat yang biasa dia pergi. Ke toko buku Media, ke Kafe Yahud, sampai burjo Ngaret.
Nggak ketemu,” ujar Oliv.
“Ah, paling ulah Raveena,” tukas Oliv.
“Jangan nuduh dulu Liv. Kita belum ada bukti soalnya,”
kata Fahri.
“Aku nggak nuduh Ri … Buktinya, Raveena dan
kawan-kawan yang selama ini sentimen sama Kania. Cewek itu populer, tapi nggak
sombong,” kata Oliv kesal.
“Bisa jadikan, Raveena yang nyulik? Ada duit, suruh orang
buat nyulik!” tambahnya lagi.
Fahri hanya terdiam sambil menghembuskan nafasnya. Ia
tidak mau berdebat dengan Oliv yang keras kepala. Selama ini, ia berusaha
berpikiran positif jika Raveena bukan pelakunya.
***
Keesokan harinya, Kania ditemukan di gerbang rumahnya.
Ia tampak lemas. Sementara itu, Bu Sisi dan Pak Burhan berteriak kaget melihat
kondisi Kania yang lunglai. Tangannya diikat dan rambutnya berantakan.
“Kania!” jerit Bu Sisi. Matanya mulai berair. Ia
memeluk erat putri kesayangannya.
Sementara itu, Pak Burhan menemukan sepucuk surat. Ia
lalu membacanya.
Halo Tuan Burhan dan Nyonya Sisi
Bagaimana kabarnya? Semoga baik-baik saja ya. Terima
kasih karena Tuan dan Nyonya mau membagikan rezekinya untuk orang-orang yang
membutuhkan. Rezeki Anda sudah habis dan menjadi milik mereka yang membutuhkan.
Anda tahukan, bagaimana rasanya orang kecil, orang miskin, dan orang lemah
diperlakukan dengan semena-mena? Kini, Anda dan keluarga merasakan. Selamat menikmati
hidup baru. Saya percaya, Anda sekeluarga, sehat selalu …
Pak Burhan mengernyitkan kening. Ia merasa penasaran dengan
pengirim surat tersebut, karena surat itu tanpa nama. Ia hanya bisa
menduga-duga. Ia menduga jika ada seseorang yang dikenalnya dan mengirim surat
tersebut. Namun, ia berusaha berpikir positif. Ia membuang jauh-jauh pikiran negatif
itu. Sayangnya … Pak Burhan tidak menyadari ada yang tersembunyi dari makna surat
itu. Padahal, isi surat itu jelas menunjukkan makna tersirat yang sesungguhnya.
Makna itu adalah …

Komentar
Posting Komentar