Tentang Perjalanan
Waktu dan pertemuan memberikan makna yang berharga
dalam hidup. Entah manis dan pahit, mereka memiliki porsi mengisi kehidupan.
Terkadang, kita menginginkan sesuatu yang indah. Tetapi, justru kepahitan yang
datang menghampiri. Tak jarang, tangis lebih banyak mewarnai. Aku merasa
bingung, harus bagaimana lagi.
Ketika bangun pagi, hati ini terasa berat. Sisa-sisa
air mata semalam, telah mengering di pinggiran mata. Aku bertanya-tanya. Apakah
semalam telah berlalu? Ternyata, sisa-sisa rasa perih di hati, masih
tertinggal. Rasanya aku ingin sendiri. Tanpa diganggu oleh siapapun. Mengajak
diriku untuk berdialog. Mengizinkan diri untuk merasakan semuanya. Meskipun
pahit, aku berusaha memeluknya. Aku melalui pagi itu dengan hati yang sedih.
Aku masih berharap. Semua kenangan di masa silam kembali
ada di kenyataan hidupku. Aku ingin dikelilingi oleh orang-orang yang
mengasihiku. Tetapi, aku akhirnya aku sadar: people come and go. Aku
lebih banyak merenung dan berdiam diri. Aku takut kalau mengeluarkan emosiku.
Apa yang ku rasakan. Rasanya tidak ada orang yang benar-benar peduli, kecuali
diri sendiri. Validasi dan ekspetasi orang lain justru menutup diriku.
Aku kembali menjumpai malam. Rasanya temaram. Hati ini
memeluk segala sedu. Sudah satu hari ini, dari malam kemarin, aku meneguk
kepahitan. Aku hanya ingin mengeluarkan air mata lagi. Aku hanya ingin
berbicara tentang apa yang ku rasakan. Apakah menangis adalah hal yang
memalukan? Apakah marah adalah hal yang tidak wajar? Setiap hari, apakah aku
harus benar-benar tersenyum? Apakah aku tidak boleh ya mengeluarkan perasaanku?
Aku bukan robot. Aku manusia. Aku berusaha bersuara ketika aku jatuh
sedalam-dalamnya. Tetapi … Hati ini telah berpelukan dengan segala perih. Aku
memilih memeluk diri. Aku ingin memeluk diri dan mengeluarkan semuanya dengan
bebas.
Aku tersadar. Hatiku sendiri. Aku masih mengenang,
setiap perjalanan dan kenangan. Proses penyadaran dan pemulihan diri ditemani
oleh lagu Yura Yunita yang berjudul Sudut Memori. Lagu ini mengajarkanku
bahwa aku mengakui perasaanku tanpa menyalahkan perasaanku saat ini. Aku merasa
sedih dan tidak akan menyalahkan kesedihanku. Dunia sendiri. Itulah yang ku rasakan
saat ini. Aku lebih banyak terjaga dan menuangkan isi kepala yang tidak bisa ku
sebutkan satu per satu hanya di dalam tulisan dan garis Sang Pencipta.
Rasanya asing ya, dengan diriku. Kenangan sudah usang.
Semua tenggelam dalam lorong waktu. Aku berusaha terbangun dengan hati yang
memeluk pahit. Ada perjalanan yang harus ku lalui. Ada hal-hal lain yang harus
ku selesaikan. Jadi, aku menutup refleksi diri ini, dengan tangis dan seuntai
doa di pinggiran hari …


Komentar
Posting Komentar