Tentang Perjalanan

 

Sumber:
Diedit  secara pribadi menggunakan aplikasi Canva

Waktu dan pertemuan memberikan makna yang berharga dalam hidup. Entah manis dan pahit, mereka memiliki porsi mengisi kehidupan. Terkadang, kita menginginkan sesuatu yang indah. Tetapi, justru kepahitan yang datang menghampiri. Tak jarang, tangis lebih banyak mewarnai. Aku merasa bingung, harus bagaimana lagi.

Ketika bangun pagi, hati ini terasa berat. Sisa-sisa air mata semalam, telah mengering di pinggiran mata. Aku bertanya-tanya. Apakah semalam telah berlalu? Ternyata, sisa-sisa rasa perih di hati, masih tertinggal. Rasanya aku ingin sendiri. Tanpa diganggu oleh siapapun. Mengajak diriku untuk berdialog. Mengizinkan diri untuk merasakan semuanya. Meskipun pahit, aku berusaha memeluknya. Aku melalui pagi itu dengan hati yang sedih.

Aku masih berharap. Semua kenangan di masa silam kembali ada di kenyataan hidupku. Aku ingin dikelilingi oleh orang-orang yang mengasihiku. Tetapi, aku akhirnya aku sadar: people come and go. Aku lebih banyak merenung dan berdiam diri. Aku takut kalau mengeluarkan emosiku. Apa yang ku rasakan. Rasanya tidak ada orang yang benar-benar peduli, kecuali diri sendiri. Validasi dan ekspetasi orang lain justru menutup diriku.

Aku kembali menjumpai malam. Rasanya temaram. Hati ini memeluk segala sedu. Sudah satu hari ini, dari malam kemarin, aku meneguk kepahitan. Aku hanya ingin mengeluarkan air mata lagi. Aku hanya ingin berbicara tentang apa yang ku rasakan. Apakah menangis adalah hal yang memalukan? Apakah marah adalah hal yang tidak wajar? Setiap hari, apakah aku harus benar-benar tersenyum? Apakah aku tidak boleh ya mengeluarkan perasaanku? Aku bukan robot. Aku manusia. Aku berusaha bersuara ketika aku jatuh sedalam-dalamnya. Tetapi … Hati ini telah berpelukan dengan segala perih. Aku memilih memeluk diri. Aku ingin memeluk diri dan mengeluarkan semuanya dengan bebas.

Aku tersadar. Hatiku sendiri. Aku masih mengenang, setiap perjalanan dan kenangan. Proses penyadaran dan pemulihan diri ditemani oleh lagu Yura Yunita yang berjudul Sudut Memori. Lagu ini mengajarkanku bahwa aku mengakui perasaanku tanpa menyalahkan perasaanku saat ini. Aku merasa sedih dan tidak akan menyalahkan kesedihanku. Dunia sendiri. Itulah yang ku rasakan saat ini. Aku lebih banyak terjaga dan menuangkan isi kepala yang tidak bisa ku sebutkan satu per satu hanya di dalam tulisan dan garis Sang Pencipta. 

Rasanya asing ya, dengan diriku. Kenangan sudah usang. Semua tenggelam dalam lorong waktu. Aku berusaha terbangun dengan hati yang memeluk pahit. Ada perjalanan yang harus ku lalui. Ada hal-hal lain yang harus ku selesaikan. Jadi, aku menutup refleksi diri ini, dengan tangis dan seuntai doa di pinggiran hari …

Sumber:
Diedit  secara pribadi menggunakan aplikasi Canva


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hope

Hati Nana

Ngerasa Gabut? Yuk, Baca Buku yang Ringan!