Tentang Aku (bagian 1)


Sumber gambar: Diedit menggunakan aplikasi Canva secara pribadi

Aku tak perlu menjadi orang lain. Ketika sekitarku memintaku untuk berhenti melangkah, aku tetap berusaha. Ketika sekelilingku memintaku untuk berhenti mengembangkan potensi, aku tetap melakukannya.

Halo. Perkenalkan, namaku Jeje. Usiaku baru menginjak 17 tahun. Betapa usia yang manis, bukan? Namun sayangnya, usia tersebut tidak menggambarkan kemanisan dalam hidupku. Aku tinggal dalam keluarga yang sama sekali tidak mendukung diriku. Orang tua jarang peduli. Mereka lebih sayang dengan kakakku yang tinggi semampai dan sangat cantik. Sementara aku? Hanya seorang gadis biasa dengan tubuh gempal bulat dan pantas disebut nol besar. Ketika aku berjalan bersama kakakku, orang-orang pasti memuji kecantikan kakakku. Orang-orang cenderung memalingkan muka saat melihatku. Terkadang, aku merasa sedih atas hidupku. Aku mengutuk diriku sendiri.

Suatu ketika, sepulang dari sekolah, aku bertemu dengan Mama. Seperti biasa, aku menceritakan kisahku di sekolah meskipun Mamaku tidak peduli. Ia sibuk chat dengan rekan bisnis properti di HP.

"Ma, tadi Jeje dapat nilai bahasa Inggris 100," kataku.

"Oh, bagus tuh," puji Mama singkat sambil memainkan HP -nya.

"Ma, Jeje semalam menghapalkan vocabulary ..."

Tiba-tiba, HP Mama berdering. "Sebentar ya Jeje ..." kata Mama.

"Halo Rina. Gimana kabarnya? Oh, mau bisnis bareng aku? Boleh-boleh." Mama tampak sibuk dengan rekan bisnisnya tanpa peduli padaku. Aku mendengus kesal melihatnya. Aku bergegas menuju ke kamarku. Di sana, aku berganti pakaian dan lebih memilih me time daripada ngobrol dengan Mama.

Ketika makan malam, Asya, kakakku seperti biasa menceritakan proyek penelitian di kampus.

"Pa, Ma, aku diajak dosenku terlibat proyek penelitian di situs cagar budaya lho. Di situ, aku mempelajari peralatan manusia zaman pra aksara. Kayak kapak genggam, kapak perimbas ... Pokoknya seru deh! IP Asya kan 3.9, jadi dipilih sama dosen," cerita Kak Asya panjang lebar.

"Oya? Wahh, hebat banget tuh anak Mama," puji Mama sambil mengusap rambut Kak Asya. Kakakku mengerling manja, sedangkan aku menatapnya dengan sinis.

"Asya, jadwal modelling-mu aman kan?" tanya Papa.

"Aman Pa," kata Kak Asya riang.

"Papa percaya Asya bisa membagi waktu dengan baik," ujar Papa.

"Jelas dong Pa. Asya ini anak Papa yang hebat. Udah tinggi, cantik lagi. Persis Mama," puji Mama bangga.

Kak Asya senyum-senyum sendiri. Aku mencibir melihatnya. Papa tersenyum melihatku.

"Jeje, bagaimana dengan dirimu?" tanya Papa.

"Nggak perlu tahu Pa!" jawabku kesal.

Pandangan Mama seketika menjadi jengkel melihatku.

"Jeje! Bisakah kamu sopan terhadap Papa?!" tanya Mama dengan suara meninggi.

"Jeje, kamu harus menghormati Papa," kata Papa.

"Kamu ikuti saran Papa. Masuk di program studi Akuntansi, jangan di Komunikasi. Apaan itu." Papa mulai meremehkan diriku.

"Lihat Kak Asya. Dia pintar, cantik, tinggi, sopan, dan taat pada orang tua. Teladani kakakmu." Mamaku mulai membanding-bandingkan diriku dengan Kak Asya. Sementara itu, Kakakku hanya menunduk terdiam.

Darah di dalam diriku mulai mendidih.

"Mama dan Papa sama saja! Mama Papa nggak punya hati! Nggak peduli sama Jeje!" seruku marah. Aku lalu berlari meninggalkan mereka.

Papa terheran-heran melihatku, sementara itu Mama malah jengkel.

 

Sejak kejadian itu, Mama mulai membenciku. Ketika aku berpamitan untuk bersekolah, Mama sering menepis tanganku. Saat aku berbicara dengan Mama, beliau malah memalingkan muka. Aku bingung dengan sikap Mama. Aku malah dipenuhi oleh perasaan bersalah. Setiap hari, hanya Kak Asya yang disapa dan diperhatikan Mama. Papa pun juga sama. Ikut-ikutan dengan Mama. Karena sering diperhatikan, Kak Asya mulai semena-mena dengan diriku.

"Je, tolong ambilkan tas kakak,"pinta Kak Asya.

"Ya," jawabku singkat sambil mendengus kesal.

"Jangan kesal dong!" seru Kak Asya.

Aku mengambilkan tas kak Asya lalu melemparkannya ke lantai. Mata Kak Asya terbelalak kaget saat melihat sikapku.

"Tasku!" pekik Kak Asya. Tangannya lalu mengambil tas tersebut.

"Jeje, ini tas mahal! Kamu tahu, ini tas branded yang belikan Papa sebagai hadiah keberhasilanku di dunia modelling. Kamu nggak bisa dapatkan tas ini kan?" tanya Kak Asya marah.

"Kak, mau tas itu mahal kek. Mau tas itu murah kek. Aku nggak peduli Kak!" Aku langsung keluar dari ruangan itu. Kak Asya jengkel melihatku.

"Jejeee!!!" teriaknya.

 

Kejadian itu tidak hanya terjadi sekali. Besoknya, Kak Asya menyuruhku lagi. Sepulang dari les modelling atau aktivitas di kampus, Kak Asya memintaku untuk memijat badannya. Setelah itu, aku diminta untuk menyiapkan air panas untuk mandi. Ternyata, hal ini menjadi kebiasaannya. Mama dan Papa tidak pernah menegur Kak Asya. Mereka malah semakin memanjakan Kak Asya dengan menuruti semua kemauannya. Lama kelamaan, aku merasa capek. Aku diperlakukan tidak adil di rumah ini.

"Jeje, kamu makan pizza yang kecil ya, karena kamu adik," kata Mama.

"Asya, kamu yang besar ya, karena kamu anak teladan di keluarga ini," puji Mama.

"Jelas dong Ma!" tukas Kak Asya dengan nada yang sombong. Tiba-tiba, Kak Asya tersenyum licik denganku. Dengan sengaja, tangannya mulai menyenggol pizza itu.

"Auuu! Ma, pizza Asya jatuh! Huuu!" Kak Asya berpura-pura menangis. Mama tiba-tiba panik. Ia buru-buru menenangkan Kak Asya.

"Sayang, makan pizza milik Jeje aja ya," tawar Mama.

"Atau, mau Papa belikan yang gede?" tawar Papa.

"Makan punya Jeje aja Ma ... Pa ..." Bibir Kak Asya manyun manja.

"Ini sayang, silakan." Mama memberikan pizza-ku pada Kak Asya. Aku hanya diam saja dan bergegas mengambil sapu untuk membersihkan pizza yang jatuh. Aku lalu membersihkannya, sementara mereka masih bercanda. Setelah itu, aku memutuskan untuk ke kembali ke kamar tanpa mempedulikan mereka.

Di kamar, aku memilih untuk beristirahat. Tiba-tiba, telepon berbunyi. Tring!!!

Ternyata, Bude Ning, kakak Mama yang menghubungiku. Aku kaget.

"Gawat! Kalo Bude Ning telepon, berarti ada sesuatu! Apalagi Bude paling nggak suka kalo Mama lebih peduli sama Kak Asya!" pikirku. Aku lalu memutuskan untuk mengangkatnya.

"Halo Bude," sapaku.

"Halo Jeje," jawab Bude Ning di seberang.

"Jeje, besok Bude mau ke rumah. Tolong jangan bilang ke Mama dan Papa ya. Intinya, Bude ingin ngomong sama kalian," kata Bude Ning.

Aku terdiam mendengarnya. Kalau Bude Ning besok main ke rumah, itu tandanya Mama, Papa, dan Kak Asya akan berurusan dengan Bude Ning. Budeku tahu, semenjak aku lebih tertarik di bidang komunikasi, Mama jarang memberi perhatian padaku. Mamaku lebih sering memberi perhatian lebih pada Kak Asya. Padahal, Bude Ning berulang kali memperingatkan Mama untuk memberikan perhatian secara adil bagi Kak Asya dan aku.

"Kalo begini ... Urusannya akan panjang lagi ..." pikirku sedih.

(Bersambung...)


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hope

Hati Nana

Ngerasa Gabut? Yuk, Baca Buku yang Ringan!