Surat Nadira untuk Khansa
Bandung, 12 Maret 2021
Yang terkasih sahabatku,
Khansa Ayu Pertiwi
Teriring salam rindu dan hangat,
Halo cantik. Bagaimana kabarmu? Ku berharap,
kamu baik-baik saja yaa. Aku percaya, kamu selalu sehat dan senantiasa
dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa. Amiiinn …
Khansa sayang, kami sekelas 7C benar-benar mengkhawatirkan
keadaanmu. Khansa sayang, kami sungguh prihatin dengan apa yang kamu alami.
Kami sungguh merasakan bahwa dirimu benar-benar down karena seseorang dewasa
yang seharusnya memberi contoh yang baik, tetapi malah mengecilkan tekadmu.
Kami mengecam tindakan seseorang tersebut.
Khansa sayang, kami ingin memberitahukan hal
yang terbaik untukmu. Seseorang yang mengecilkan tekadmu, sudah dimutasi ke
tempat lain. Ternyata, tidak hanya kamu yang menjadi sasarannya. Tetapi, juga
anak-anak di kelas lain. Mereka selama ini hanya diam. Tidak berani bersuara,
tidak berani mengeluarkan perasaan. Padahal, ada rasa luka yang tertinggal di
hati.
Ketika di kelas, mereka cenderung menunduk.
Seseorang itu menyampaikan sesuatunya dengan nada yang tinggi. Ia banyak memuji
anak-anak yang memiliki kemampuan akademik tinggi. Lalu, anak-anak yang memiliki
keterbatasan, selalu diacuhkannya. Ia mendiskreditkan. Bukan mendampingi. Tentu
saja, hal ini menjadi keprihatinan bagi kami.
Setiap hari, kami menemukan teman-teman yang
menangis. Ketika, kami tanya. Mereka hanya diam. Sebagai bagian dari OSIS, aku
merasa ada hal tidak beres yang dialami oleh mereka. Kami lalu membawa mereka
pada guru BK. Sesampainya di sana, eh malah diberi nasehat yang panjang kali
lebar. “Kamu harus menghormati … Dia bertindak benar …” “Salah sendiri, kenapa
kamu nakal …” dan perkataan lainnya yang justru membuat mereka menjadi
bertambah sedih. Sebisa mungkin, aku dan teman-teman lainnya menguatkan mereka.
Meskipun hati kami, ikutan pedih, kami berusaha kuat. Kami berusaha bertahan.
Hingga suatu ketika, salah satu dari mereka
memperoleh teguran yang keras. Ia dianggap melawan hanya karena mengatakan
tidak mampu mengerjakan soal tersebut. Sontak, nilainya menjadi 0. Teman ini
merasa sedih. Seorang dewasa yang membuatnya sedih, mengatakan kalau anak zaman
sekarang harus menguasai ilmu-ilmu yang berbau angka dan kerumitan. Itu malah
membuat mereka mampu berpikir kritis. Demikian kata-kata orang dewasa tersebut.
Anak ini bercerita pada kami. Kami lalu
mengumpulkan bukti. Diam-diam, kami meminta dua teman kami membawa HP untuk
merekam suara orang dewasa itu. Aku sendiri berpura-pura menjadi orang yang melawan.
Guru itu mengatakan padaku. “Soal ini nggak bisa? Mau jadi apa kamu? Sungguh
otakmu tidak mampu!” Selain itu, masih ada kata-kata lainnya yang kurang mengenakkan
dan tidak pantas ditulis dalam surat ini.
Sebelum kami masuk ke kelas, teman kami yang
membawa HP telah mengaktifkan rekamannya secara diam-diam. Maka, durasi rekaman
itu cukup lama, tetapi bisa menjadi bukti untuk tindakan tersebut. Di kelas
lain, kami juga melakukan hal yang sama. Kami meminta anak kelas lain untuk
merekam suara itu diam-diam. Hasilnya, ada sekitar 10 rekaman suara.
Karena ke guru BK tidak membuahkan hasil, kamu
lalu pergi ke kantor Wakil Kepala Bidang Ketertiban. Di sana, aku dan beberapa
anak OSIS menghadap. Kami menceritakan semua yang dialami oleh anak-anak.
Semula, beliau tidak percaya dan hanya menganggap apa yang dialami oleh mereka
hanyalah lelucon kecil. Namun, kami lalu memperlihatkan bukti rekaman yang ada.
Kami juga memohon pada beliau jika kami membawa HP secara diam-diam ke sekolah.
Padahal, tata tertib sekolah jelas melarang.
Setelah mendengarkan 10 rekaman, barulah beliau
percaya, jika orang dewasa ini pelakunya. Dengan sigap, beliau bertemu dengan
Kepala Sekolah untuk membahas orang dewasa ini. Kepala Sekolah lalu mengadakan
rapat terbatas dengan guru BK dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum. Guru
BK yang meremehkan, hanya tertunduk malu dan merasa bersalah. Selanjutnya,
Kepala Sekolah memanggil orang dewasa itu. Awalnya, orang dewasa tersebut
mengelak. Namun, setelah diperlihatkan semua bukti rekaman, orang dewasa itu
akhirnya mengakui semua perbuatannya. Ia terpengaruh oleh sang istri yang kaya
raya dan bergaul dengan orang tua dengan anak-anak yang pintar. Kepala Sekolah
lalu membuat keputusan untuk memutasikan orang dewasa tersebut, dan ia
menerimanya. Sejak saat itu, orang dewasa itu tidak ada lagi di sekolah.
Khansa sayang, kami sungguh menantikan
kehadiranmu. Kami sungguh menantikan senyumanmu dan celotehmu yang mencairkan suasana
kelas yang tegang. Kehadiranmulah sangat kami rindukan. Khansa yang baik, kami
percaya, kamu bisa melalui semuanya. Kamu tidak sendiri. Ada kami yang selalu
bersamamu. Kami menemanimu. Doa kami, sehat-sehat selalu ya. Kami tunggu,
kehadiranmu.
Salam hormat untuk orang tua Khansa.
Salam kasih,
Nadira Saskia

Kasihan Khansa dibully sama guru sendiri. Alhamdulillah punya pengurus OSIS yang responsif dan teman-teman yang suportif. Semoga Khansa mau kembali ke sekolah
BalasHapusjaman sekarang dokumentasi menjadi penting untuk bukti-bukti seperti ini ya... smg kasus bullly bisa segera bisa diatasi agar tidak muncul korban-korban baru. saya pernah dapat murid yang kena bullywaktu SD 2 tahun, pemulihannya bahkan sampai SMA belum selesai
BalasHapusKetika org dewasa justru tidak memberi keamanan mental pada anak.. Dampaknya pun akan terasa sampai kelak mereka dewasa. Smg kita dijauhkan dari org dewasa yg semacam itu dan smg kita pun bukan termasuk org yg seperti itu.
BalasHapusSurat yang sangat berarti untuk Khansa. Orang dewasa yg seharusnya jadi contoh justru meninggalkan beban psikis yg sangat dalam hingga dia dewasa nanti. Orang seperti itu harus dihukum.
BalasHapusUcapan orang dewasa itu mungkin bagi mereka akan lupa kalau marahnya hilang, tapi bagi anak-anak bisa membekas sampai dewasa.
BalasHapusKadang suka heran sama guru model begini. Apa gitu untungnya menghina anak didik sendiri? Bukannya kalau mereka gagal berarti secara tidak langsung mereka gagal mendidik mereka? Kasihan sekali anak-anak seperti Khansa
BalasHapusBaru sempat baca dan familiar dengan isu ini. Perundungan itu ngga selalu dgn kekerasan, seringkali grooming jg termasuk. Alhasil antara korban jd seperti Khansa atau malah menganggap perundungnya adalah penyelamat.
BalasHapusIni kisah nyata kak?
BalasHapus