Selenophile
Sumber gambar: Diedit menggunakan aplikasi Canva secara pribadi
Beberapa waktu silam, ketika seorang bayi manis
terlelap dalam tidurnya, seorang wanita bergaun kuning keemasan dan rambutnya
berkilauan membelai bayi itu dengan lembut. Di depannya, tampak seorang pria
berwajah teduh nan bijaksana. Ia menggendong bayi manis dengan penuh kasih
sayang.
“Sayang, aku titip anak kita. Aku telah mendongenginya
setiap malam hingga usia 5 tahun saat ini. Dia akan mengingat setiap dongengku tentang
Ibu Bulan. Kelak, dia akan mengetahui sendiri siapakah ‘Ibu Bulan’ yang
sesungguhnya. Jaga dan cintai dia sepenuhnya,” pesan wanita itu.
“Selena, anak ini akan ku jaga baik-baik. Aku berdoa,
semoga ia tumbuh menjadi anak yang tulus hatinya,” kata pria itu.
Wanita bernama Selena itu mengangguk dengan penuh
senyuman.
“Aku harus pergi ke bulan, Malvis. Tugasku menjaga
Sania telah selesai. Sekarang, giliran dirimu. Jangan beritahukan siapakah ‘Ibu
Bulan’ sesungguhnya. Aku harus bertakhta di atas bulan hingga Sania berusia 17
tahun. Aku ingin melihat kebaikan-kebaikan Sania di bumi. Kebaikan itu akan
terlihat, ketika Sania menjejakkan langkahnya. Semua makhluk hidup mengetahui,
jika ia adalah putriku. Aku sendiri akan menemuinya, ketika bulan purnama
melingkar dengan sempurna, tepat Sania berusia 17 tahun,” jelas wanita itu.
Tak disangka, air mata mulai memenuhi pelupuk mata
pria itu.
“Selena, itu berarti, aku berpisah denganmu dalam
waktu yang lama?” tanya Malvis mulai sedih. Ia memegang tangan Selena.
“Iya Malvis. Tetapi, jangan khawatir, sayang. Aku
tetap menemanimu dari sini. Aku akan selalu mengirimkan sinar bulan untukmu dan
Sania. Sinar bulan itu akan memenuhi keinginanmu, asalkan kamu telah berbuat
baik dengan tulus hati,” kata Selena bijak.
“Baik sayangku. Aku jaga anak kita, sebaik cintaimu
pada Sania. Kalian berdua perempuan terbaik dalam hidupku.” Pria itu mulai
menangis.
“Sayang, kamu boleh menangis. Air matamu akan
meneduhkan hatiku. Aku tetap mencintaimu, sampai kapanpun. Selamat tinggal Malvis
dan Sania … Aku menyayangi kalian …”
Wanita itu lalu membalikkan tubuhnya. Tampak seberkas
sinar kuning keemasan yang lembut membelah cakrawala luas. Wanita itu menyambut
sinar yang telah mengelilingi dirinya. Sementara itu, Malvis menangis menyaksikan
pemandangan itu.
***
Setahun kemudian …
Sania menatap jauh ke langit atas. Tampak sang dewi
malam berpendar kuning keemasan. memembayangkan, dirinya bisa pergi ke sana dan
bertemu dengan Ibu Bulan, sosok yang sangat diidolakannya. Sejak kecil, ibunya
sering menceritakan tentang kebaikan Ibu Bulan yang selalu menolong manusia di
bumi. Namun sayangnya, sang ibu telah pergi meninggalkannya entah kemana. Sania
begitu merindukan ibunya. Apalagi, Sania merasakan bahwa ibunya perhatian dan
penuh kasih sayang, seperti Ibu Bulan yang diceritakan oleh sang ibu.
“Oh, andaikan Ibu di sini … Ibu pasti akan
menceritakan kebaikan Ibu Bulan …”
“Sania! Sania!” panggil Ayahnya.
“Iya Yah!”
“Sania, minum susu hangat dulu yuk! Ayah sudah menyiapkan
roti selai blueberry untukmu!”
Sania lalu berlari keluar menuju ruang makan. Di sana,
sang ayah telah menunggunya dengan penuh senyuman. Sania membalas senyum sang
ayah dengan gembira.
“Ayah, roti ini untukmu,” ujar Sania sambil
menyodorkan roti.
“Terima kasih Nak,” jawab Ayahnya sambil tersenyum.
“Ayah?”
“Iya Nak?”
“Bolehkah aku bertanya sesuatu?”
“Silakan Nak …”
“Ayah, dimana Ibu berada?” tanya Sania penasaran.
Brrufftghh! Tiba-tiba, ayah Sania tersedak mendengar
pertanyaan anaknya. Seketika Sania menjadi panik. Ia buru-buru mengambilkan
segelas air putih untuk ayahnya dan memberikannya. Sang ayah lalu meminum air
putih tersebut sampai habis. Tak disangka, matanya menjadi berkaca-kaca. Sania,
mulai merasa bersalah. Melihat kepolosan hati putri kecilnya, sang ayah
buru-buru menenangkan Sania.
“Nak … Ayah tidak apa-apa. Ayah tidak ada masalah,”
ujar Ayahnya sambil tersenyum.
“Ayah … Beneran?” tanya Sania khawatir.
“Tidak apa-apa Nak,” kata Ayah sambil tersenyum miris.
Dalam hatinya, ia merasakan betapa sedihnya hati sang anak karena merindukan
sosok ibunya. Ia ingin memberitahu yang sebenarnya, tetapi hal itu akan sulit
dimengerti oleh putrinya mengingat usianya baru 6 tahun. Ia ingin menangis,
tetapi tangisan itu dipendamnya. Tak terasa, butiran bening mulai memenuhi
pelupuk matanya …
“Ayah …” Sania mulai kebingungan dengan sang ayah yang
mulai menangis.
“Hu … hu … hu …” Sang ayah menangis dengan
sesenggukkan.
“Ayah … Ayah … Ayah nggak boleh nangis ya? Ini dilap
dulu ya …” Sania tampak mengusap air mata ayahnya. Sang ayah melihat ketulusan
hati putri kecilnya.
“Ayah … Maafkan Sania ya, kalau ucapan tadi melukai hati
Ayah,” ucap Sania tulus.
Ayahnya menghela napas pelan, lalu ia menenangkan
Sania.
“Anakku sayang, tidak apa-apa Nak. Ayah akan baik-baik
saja Nak,” ujar ayah Sania dengan bijak.
Perlahan-lahan, hati Sania menjadi cair. Semula,
hatinya diliputi oleh ketakutan karena khawatir ayahnya kenapa-kenapa. Tapi, ia
percaya, sang ayah akan baik-baik saja dan keadaan akan kembali seperti biasanya.
Sania lalu memutuskan untuk memberikan waktu sejenak pada Ayahnya untuk menenangkan
diri.
Di kamarnya, Sania dihujani oleh berbagai pertanyaan.
Ia masih penasaran, dengan siapakah sosok ‘Ibu Bulan’ yang sesungguhnya.
“Siapakah ‘Ibu Bulan’ yang sesungguhnya? Mengapa ibu
dulu selalu menceritakan kebaikan ‘Ibu Bulan’?” gumam Sania dalam hati.
Meskipun demikian, ia tidak berani menanyakan hal
tersebut pada sang ayah. Sania takut jika ayahnya menangis lagi.
***
Setiap harinya, Sania berusaha melakukan kebaikan pada
setiap makhluk hidup. Ia takut menyakiti sesamanya. Apalagi, menyakiti hewan
yang tak bersalah. Suatu ketika, saat Sania pergi melewati desa, ia melihat rombongan
semut yang sedang mencari makan.
“Halo semut. Kalian sedang apa?” tanya Sania ramah.
“Halo gadis kecil. Kami sedang mencari makanan. Tapi
sayang, kami belum mendapatkan makanan satupun,” kata salah satu semut.
“Oh, baiklah. Ku beri remahan roti. Silakan, kalian
memakannya ya!” ujar Sania riang sambil meremaskan remahan-remahan roti.
Rombongan semut itu menyambut remahan roti dengan
gembira. Dengan sigap, mereka bergotong royong mengangkut remahan roti tersebut.
“Terima kasih gadis kecil!” ucap para semut serempak.
Sania menganggukkan kepala dengan ceria. Ia lalu
kembali melanjutkan perjalanan. Dari kejauhan, Sania tidak mengetahui bahwa para
semut rupanya mengerti jika terdapat jejak sinar bulan di setiap langkahnya.
Meskipun masih suasana pagi, jejak itu akan terlihat jika satu kebaikan telah
dilakukan dengan ketulusan hati.
“Rupanya … Gadis kecil itu adalah putri ‘Ibu Bulan’!” seru
salah satu semut.
“Pantas, hatinya terlihat tulus,” celetuk semut yang
lain.
“Kita harus melindunginya jika ia diganggu oleh
siapapun!” tegas semut gempal.
“Setuju!” sahut mereka serempak.
Hari berganti hari. Waktu terus berjalan. Sania tidak
kenal lelah melakukan kebaikan. Meskipun ia pernah dihina oleh teman mainnya,
ia tidak berniat membalasnya. Suatu ketika, saat Daffodil terjatuh dari sepeda,
Sania dengan sigap mengobati lukanya.
“Daffodil, jika bermain sepeda, hati-hati ya,” pesan
Sania sambil mengobati lukanya. Daffodil tampak menahan perih karena obat yang
dioleskan oleh Sania.
Sementara itu, tampak Zamora dan Benelyn lewat di
depan mereka. Kedua anak itu terkenal suka meledek sesamanya.
“Hahaha. Kasihan Daffodil! Lemah sekali!” ledek
Zamora.
“Iya … Sok jago bermain sepeda sih!” timpal Benelyn.
“Hahaha.” Keduanya tertawa mencemooh.
Daffodil terlihat kesal mendengarnya. Ia akan
melemparkan kerikil ke arah mereka, tetapi dihentikan oleh Sania. Anak itu menghentikan
aksinya, meskipun hatinya terasa konyol.
“Yuk kita pergi … Jangan sampai bermain dengan mereka!”
tukas Benelyn.
“Yuk!” sahut Zamora sambil memalingkan muka.
Mereka lalu pergi meninggalkan Sania dan Daffodil. Setelah
mereka pergi, Sania bergegas mengantar Daffodil hingga ke rumahnya. Sesampainya
di rumah Daffodil, Sania berpamitan untuk pulang. Ketika Sania telah jauh
langkahnya, betapa terkejutnya Daffodil. Jejak langkah Sania meninggalkan
seberkas sinar berwarna kuning keemasan. Daffodil teringat dengan apa yang
diceritakan oleh ibunya tentang sosok ‘Ibu Bulan’ yang baik hatinya.
“Itu sinar bulan! Berarti … Sania adalah putri ‘Ibu
Bulan!’” seru Daffodil tiba-tiba.
Entah kenapa, hati Daffodil menjadi menghangat. Ia
merasa teduh ketika mengingat kebaikan Sania dan menyaksikan sinar itu.
***
Keesokan harinya, Sania kembali melewati desa untuk bermain
di taman. Namun, ia mendengar teriakan minta tolong dari kejauhan.
“Tolong! Tolong! Huuu … Tolong kami!” Teriakan itu terdengar
dengan keras.
Sania segera berlari menuju ke arah sumber suara. Ternyata,
Zamora dan Benelyn. Tampak luka gatal-gatal di kaki mereka.
“Huuu … Tolong kami Sania! Gara-gara, kami menghapus
jalur semut, mereka menggigit kaki kami!” tangis Zamora.
“Huuu … Semut itu jahat! Kami mau injak mereka!” seru
Benelyn kesal.
Sania kaget mendengarnya. Namun, ia berusaha sabar. Sania
lalu menemui para semut dan berbicara dengan mereka. Sementara itu, Zamora dan
Benelyn kaget melihatnya.
“Semut yang baik, apakah kalian telah menggigit kaki
mereka?” tanya Sania ramah.
“Iya! Habis mereka menghapus jalur kami!” gerutu salah
satu semut.
“Mereka pantas diberi pelajaran! Gara-gara dihapus,
kami merasa bingung mencari jalan pulang!” tukas semut yang lain.
Sania mengangguk-angguk mengerti.
“Kalian telah menghapus jalur mereka. Minta maaflah
pada para semut,” kata Sania.
“Ih, nggak mau ah! Masa, minta maaf sama hewan,”
celetuk Benelyn kesal.
“Iya … Semut jahat. Gara-gara mereka, kakiku gatal!” gerutu
Zamora.
Sania menghela napas perlahan.
“Aku akan mengobati kalian. Meminta maaf pada semut
menunjukkan kalau kalian berhati luas,” ujar Sania bijak.
Mendengar perkataan itu, Zamora dan Benelyn lalu
meminta maaf kepada para semut. Sania tersenyum mendengar hal itu. Begitu juga
dengan para semut. Setelah mereka berbaikan, Sania memutuskan untuk pulang.
Dari kejauhan, Zamora dan Benelyn melihat seberkas sinar dari jejak Sania.
Betapa terkejutnya mereka.
“Apa?! Ada sinar di jejak kaki Sania?!” tanya Zamora
penasaran.
“Ibuku pernah menceritakan padaku tentang sosok ‘Ibu
Bulan’ yang ditandai dengan sinar bulan. Itu adalah sinar bulan!” tukas Sania
cepat.
“Wah … Indah sekali sinarnya …” Zamora terpengarah terpana.
“Entah kenapa … Hatiku yang semula jengkel sekarang
jadi damai ya?” tanya Benelyn penasaran.
Berita tentang jejak Sania yang memancarkan seberkas
sinar bulan mulai menyebar ke penjuru desa. Para penduduk desa mulai memburu
sinar itu karena ingin memperoleh kedamaian di hati. Sementara itu, Sania tidak
tahu menahu mengetahui sinar tersebut. Ia terus berusaha berbuat kebaikan
semampunya.
***
Waktu terus berjalan. Tak terasa, Sania telah menginjak
usia 17 tahun. Pada suatu malam, tepat bulan purnama melingkar dengan sempurna,
tampak seberkas sinar bulan yang berwarna kuning keemasan membelah cakrawala malam.
Dari sinar itu, keluarlah sosok wanita yang berbalut cahaya kuning keemasan. Wajahnya
memancarkan keteduhan, membuat siapapun yang melihatnya akan terasa tenang dan
damai.
Ayah Sania lalu keluar rumah. Ia tampak terkejut
melihat pemandangan itu. Sementara itu, para penduduk desa yang penasaran mengelilingi
rumah Sania. Gadis yang kini telah tumbuh dewasa itu juga penasaran dengan hal
yang terjadi.
“Siapa sosok itu Ayah?” tanya Sania penasaran.
Mata Ayah Sania berkaca-kaca. Ia menatap dalam sosok
wanita yang mulai berjalan ke arahnya.
“Selena …” Ayah Sania menitikkan air matanya. Ia begitu
rindu dengan istri tercintanya.
“Mavis sayang …” Wanita itu mulai mengulurkan
tangannya untuk suaminya. Mereka saling berpelukan melepas rindu.
“Siapakah itu?” celetuk salah satu penduduk desa.
“Mungkin istrinya Mavis!” kata penduduk yang lain.
“Apakah istrinya sosok ‘Ibu Bulan’?” tanya seorang
penduduk.
“Mungkin …” jawab yang lain.
Sementara itu, Sania mulai mendekat ke arah mereka.
“Siapakah Ibu?” tanya Sania penasaran.
Mavis menangis kencang. Ia lalu berkata secara
terbata-bata.
“Sa … Sa … Sania. Wanita ini … a … a … adalah … Ibumu,
Nak! Dia adalah ‘Ibu Bulan’ yang selama ini kamu rindukan!” Mavis tak mampu
menghentikan air matanya. Ia berusaha memeluk Sania yang tampak kebingungan. Sementara
itu, Selena, ‘Ibu Bulan’ mendekat ke arah Sania.
“Kemarilah Sayang …” Selena mengulurkan tangannya
untuk Sania. Gadis itu melangkah ke arah ibunya. Ia lalu memeluk sang ibu, dan
Selena mendekapnya erat.
“Anakku … Kamu telah berusia 17 tahun sekarang. Kamu
semakin cantik dengan ketulusan hatimu,” puji Selena.
“Terima kasih Ibu. Bertahun-tahun, aku merindukan Ibu.
Kapan Ibu pulang? Apakah Ibu tidak merindukan Ayah dan Sania?” tanya Sania penasaran.
“Ibu merindukan kalian, Anakku. Ibu adalah penguasa
bulan. Selama ini, Ibu bertakhta di atas sana. Ibu selalu mendampingi ayah dan
dirimu, Nak. Kini, kamu telah melihat Ibu,” kata Selena dengan tersenyum.
Hati Sania mulai menghangat. Tanpa disadari, air mata
telah berjatuhan di pipinya.
“Apakah Ibu akan pergi lagi?” tanya Sania sedih.
Wajah Selena mulai berubah. Ia tampak sedih mendengar
pertanyaan Selena.
“Maafkan Ibu Nak. Ibu adalah bagian dari makhluk
bulan, dan dirimu adalah manusia. Kita berbeda secara entitas Nak. Tetapi, hati
kita tetap bersatu, karena kita saling menyayangi,” kata Selena dengan lembut.
“Jadi … Ibu akan meninggalkan Sania dan ayah?” tanya Sania
menangis.
“Ibu tidak meninggalkan kalian, sayang. Ibu tetap
bersama kalian. Ibu tetap sayang Sania dan Ayah,” ucap Selena tersenyum haru.
Ia tak kuasa menahan tangisnya.
“Ibu, apakah Ibu tidak bisa tinggal di bumi? Apakah
Ibu tidak mau mencicipi roti selai blueberry kesukaan Ayah? Ibu suka
makanan apa? Oya, Ibu dulu suka makan roti pisang, kan?” Sania menghujani
Selena dengan pertanyaan.
Hati Selena menjadi bertambah sedih. Ia begitu sakit
ketika tidak bisa hidup bersama Sania, putri kesayangannya dan Mavis, suaminya.
Mavis hanya terdiam dan tidak mampu berkata-kata.
Selama ini, ia menyimpan kesedihan di dalam hatinya. Ia berusaha tegar di depan
Sania.
“Anakku, Ibu tetap akan mengunjungimu setiap bulan
purnama melingkar dengan sempurna. Setiap malam, Ibu akan mengirimkan seberkas
sinar bulan untuk memelukmu dan memeluk ayahmu. Kalian akan merasakan kasih
sayangku setiap harinya,” kata Selena lembut.
“Ibu … Ibu jahat! Ibu mau meninggalkan kami lagi!” Tangisnya
semakin keras.
Hati Selena bertambah sedih. Dalam hatinya, ia ingin
sekali tinggal bersama putri dan suaminya. Namun, karena Selena adalah makhluk
bulan, ia tidak bisa tinggal bersama manusia di bumi. Untuk memohon kepada dewa
tertinggi di bulan, rasanya sulit karena sang dewa jarang menampakkan diri di
hadapan makhluk bulan.
“Sayang … Bulan purnama akan sering bersinar. Ibu
berjanji. Kita bertemu. Kita berbagi kasih sayang. Ibu juga akan melimpahkan keteduhan
untuk semua penduduk desa,” kata Selena sambil menangis.
“Ibu … Sampai kapanpun, Sania menyayangi Ibu! Sania
akan menunggu Ibu!” Sania memeluk erat Ibunya. Selena balas memeluknya. Mavis
pun memeluknya. Penduduk desa merasa terharu melihat pemandangan itu.
Tiba-tiba, sinar bulan perlahan meredup. Waktu untuk
kembali ke bulan telah tiba. Sebelum pergi, Selena berpamitan.
“Anakku, jaga diri baik-baik ya. Suamiku cintai dan jaga
Sania sebaik-baiknya. Aku akan kembali secepatnya …”
Sania dan Mavis yang bercucuran air mata menganggukkan
kepala. Mereka bertiga lalu saling berpelukan. Ketika sinar bulan kembali
membentang, Selena membalikkan badan dan berjalan mengikuti sinar itu.
Sania dan Mavis menangis ketika melihat Selena meninggalkan
mereka. Rasa rindu itu belum terobati sepenuhnya. Penduduk desa juga tampak
menitikkan air mata. Mereka turut merasakan kesedihan yang dialami oleh Sania
dan ayahnya.
Sejak saat itu, Sania mulai rajin menghitung waktu
bulan purnama melingkar dengan penuh. Ia selalu memanfaatkan waktu dengan baik.
Pertemuan antara Sania dengan Selena lalu dikenal dengan istilah Selenophile,
yang berarti orang yang mencintai bulan.
.png)
Bitter sweet ceritanya.
BalasHapusYah,selena gak bisa bareng keluarganya...
BalasHapusterima kasih bagi diriku telah menuliskan keteduhan di hati
BalasHapusYah sad ending :(
BalasHapusBerasa baca cerita fantasi yang alurnya mengalir begitu saja. Suka ceritanya, kak. 😄
BalasHapusKok sedih sih huhuhu. Akan ada kelanjutannya lagi gak kak? Istilahnya unik ya Selenophile, hehe.
BalasHapusMembayangkan dibuat animasi pasti indah. Tapi ceritanya sedih 🥲
BalasHapusrasanya ingin menjadi saksi pertemuan antara Sania dengan Selena.
BalasHapus