Roti Bakar Buatan Nala
Pada suatu sore, Nala diajak oleh ibunya pergi ke
pasar untuk membeli sayur. Di pasar, suasana begitu ramai. Tampak hiruk pikuk
antara penjual dan pembeli melakukan transaksi jual dan beli. Ketika ibu sedang
membeli sayur wortel pandangan Nala tertuju pada seorang penjual roti bakar.
Tangan penjual roti bakar itu lincah ketika membalikkan roti bakar yang telah
diolesi mentega dan selai. Tak terasa, air liur menetes di mulut Nala. Ia
tampak kepengin mencicipi roti bakar itu. Matanya membulat dan penuh kekaguman.
Ia membayangkan kelezatan dan kenikmatan aroma dan rasa roti bakar tersebut. Sementara
itu, ibu Nala baru saja yang baru saja selesai melakukan pembayaran keheranan
melihat sikap putrinya.
“Kamu kenapa Dek?” tanya sang ibu.
Nala masih melamun dan memandang proses pembuatan roti
bakar itu lekat-lekat. Ia tidak menggubris pertanyaan ibunya. Pandangannya
fokus ke arah roti bakar yang dilempar dan dibakar di atas kompor.
“Ah … Rasanya pasti enak sekali …” ujar Nala sambil
menelan air liurnya. Ibu Nala tersenyum gemas melihat tingkah putri kecilnya. Ibu
itu mengerti jika putrinya sangat menginginkan roti bakar.
“Dek Nala mau makan roti bakar ya?” tanya ibunya
sambil tersenyum.
“Iya Bu …” sahut Nala sambil mengangguk-anggukkan
kepala.
“Nala mau roti bakar rasa apa?” tanya ibunya.
“Nala, mau isinya selai blueberry dan cokelat,
Bu. Kalau diberi parutan keju. Ada manis asinnya Bu. Enak banget!” tukas Nala
riang.
Ibu mengangguk tersenyum sambil mengusap lembut rambut
Nala. Ibu lalu mengajak Nala untuk bergegas menuju ke penjual roti bakar. Di
sana, ibu Nala menyampaikan pesanan Nala pada sang penjual.
“Bang, roti bakarnya satu ya. Isinya varian selai blueberry
dan cokelat. Di atas isinya, diberi parutan keju ya …” pesan ibu Nala.
“Siap Bu!” Abang penjual roti bakar segera memotong
roti bakar dan membaginya menjadi dua bagian. Bagian pertama berisi selai blueberry
dan bagian kedua berisi selai cokelat. Selanjutnya, ia memarut keju di atas
selai blueberry, kemudian di atas selai cokelat. Setelah selesai, ia
menutup roti bakar dan mengolesinya dengan mentega. Ketika semua siap, abang penjual
lalu memanggangnya di atas wajan kotak. Tak lupa, abang itu juga melelehkan
mentega di sisi roti bakar. Ia juga membolakbalikkan roti bakar di atas lelehan
mentega, sehingga aroma nikmat roti bakar itu mulai tercium.
“Hmm … Enaknya …” Nala menikmati aroma roti bakar
tersebut.
Abang itu membolakbalikkkan roti bakar berkali-kali
dan memastikan agar makanan itu terbakar secara merata. Setelah selesai, abang
tersebut membungkus roti bakar ke dalam kotak yang dilapisi kertas minyak. Ia lalu memberikan kotak yang berisi roti
bakar itu pada ibu Nala. Sang ibu lalu mengulurkan uang sesuai dengan daftar
harga roti bakar yang dipesannya. Setelah selesai, mereka lalu pulang ke rumah.
***
Sesampainya di rumah, Nala segera mencuci tangan. Setelah
itu, Nala membuka kotak itu dan mengambil roti bakar.
“Wahh … Lezatnya!” kata Nala dengan mulut yang penuh
dengan makanan. Ibu Nala tertawa geli melihat tingkah putrinya.
“Dek Nala, kalau lagi makan, jangan sambil ngomong.
Nanti tersedak lho!” pesan ibu sambil tersenyum. Nala mengangguk riang.
Gadis kecil benar-benar menikmati roti bakar kesukaannya. Ia menyantap roti itu
sampai habis dengan ibunya.
“Bu, besok Nala minta tolong belikan roti tawar, selai
strawberry, dan mentega ya Bu. Sama daun mint Bu, untuk hiasan di
atasnya. Hehe. Nala mau belajar membuat roti bakar,” ujar Nala.
Ibunya membelai rambut Nala dengan lembut.
“Boleh Nak. Besok pagi, ibu ke pasar dulu ya. Habis
itu, ibu damping Nala membuat roti bakar!” ujar ibu Nala.
“Hore!!!” Nala bersorak gembira.
***
Keesokan harinya, ibu Nala pergi ke pasar untuk membeli
sayur dan bahan-bahan roti bakar sesuai dengan permintaan Nala. Sang ibu tahu
jika putrinya ingin belajar sesuatu yang baru, sehingga ia ingin membantunya.
Setelah selesai, ibu lalu pulang di rumah. Sesampainya di rumah, ibu Nala
memanggil putri kesayangannya.
“Nala! Nala!” panggil ibunya.
“Iya Bu …” Nala keluar dari kamarnya.
“Nak, yuk membuat roti bakar. Ibu udah beli bahannya
nih!” kata ibu Nala.
“Ayo Bu!” sahut Nala riang.
Mereka berdua lalu menuju ke dapur. Sesampainya di
dapur, Nala segera mencuci tangannya. Ia lalu menyiapkan peralatan dapur,
seperti wajan dan spatula untuk membolakbalikkan roti. Dengan dibantu ibunya,
Nala mengoleskan selai strawberry ke sisi dalam roti tawar. Lalu, ia menutup
kedua lembar roti tawar itu. Nala juga mengoleskan mentega ke sisi depan dan
belakang roti tawar. Tak lupa, sisi kanan dan sisi kiri roti tawar juga
diolesinya dengan mentega. Setelah itu, Nala didampingi oleh ibunya bergegas
menyiapkan wajan dan spatula lalu meletakkannya di atas kompor. Nala lalu
menekan kemasan mentega dan mengoleskannya di atas wajan. Kemudian, Nala
menyalakan api kompor. Tentu saja, ibu Nala mendampingi putrinya dan memastikan
semuanya dalam keadaan aman. Mentega itu akhirnya meleleh. Setelah meleleh,
Nala memasukkan roti bakar di atas wajan dan menggorengnya. Dengan lincah, Nala
membolakbalikan roti itu sampai benar-benar matang.
“La … la … la … roti bakar nikmat buatan Nala!” Nala
bersenandung senang. Seperti chef-chef terkenal di TV, Nala juga
melemparkan roti bakar itu ke udara. Roti bakar itu mendarat mulus di atas
wajan. Ia kembali menggoreng roti bakar itu dengan lincah. Ibu Nala takjub
dengan kemampuan memasak putri kecilnya. Nala memastikan roti bakar itu matang
dengan sempurna dan tidak gosong. Nala menuntaskan semua roti bakar itu. Beberapa
lama kemudian, Nala menyajikann roti bakar itu di atas piring hias yang cantik.
Nala meletakkanya dengan miring dan bertumpuk-tumpuk. Nala menghiasinya dengan
daun mint di atas roti bakar dan mengolesinya dengan selai strawberry
tipis di pinggir piring. Ibu Nala semakin terpana melihat kepiawaian Nala
dalam membuat roti bakar.
“Yeyyy! Roti bakar strawberry buatan Nala siap
dinikmati!” seru Nala riang.
“Wah … Dek Nala hebat! Keren!” puji ibunya.
Nala tersenyum cerah. Ia lalu memberikan satu roti
bakar untuk ibunya.
“Silakan dicicipi Bu,” kata Nala. Ibu segera mencicipi
roti bakar buatan putrinya.
“Wahhh enak sekali Nak! Kamu berbakat masak!” puji
ibunya.
“Terima kasih Bu!” ucap Nala senang.
Hati Nala merasa gembira. Ia tak sabar ingin mencoba
resep lainnya. Ia ingin belajar memasak lagi. Namun, tentu saja, tetap
didampingi ibunya karena dirinya masih kecil. Dalam hati, Nala ingin berusaha belajar,
agar dirinya semakin terampil dalam memasak.
(Tamat)

Komentar
Posting Komentar