Pertemuan di Kota Musico

 

Sumber gambar:
Diedit secara pribadi menggunakan aplikasi Canva

Dingin menghampiri raga. Angin sayup-sayup mengajak raga berbincang, tetapi jaket tebal yang melindunginya, seolah-olah menepisnya. Magdalene, tampak berjalan terburu-buru menuju Kafe Melankolia. Ia seperti dikejar oleh waktu. Sesampainya di sana, gadis yang menggunakan syal berwarna biru tua itu bergegas memesan secangkir hot mocca latte dan roti selai blueberry.

“Brrrr … brrr …” Magdalene menggigil kedinginan. Hawa dingin memeluk raganya.

7 menit kemudian, pesananannya sudah disajikan di atas meja. Magdalene meniup minuman panas itu beberapa saat, lalu meminumnya.

“Hmm … Rasanya nikmat sekali … Benar-benar beraroma mocca,” puji Magdalene. Ia begitu menikmati minuman itu. Tak lupa, gadis yang mengenakan sweater itu juga mencelupkan roti selai ke dalam minuman tersebut.

“You’re not alone … I’m here with you …” Lagu You Are Not Alone yang dipopulerkan oleh Michael Jackson berbunyi dari HP-nya. Ternyata, ada seseorang yang menelponnya. Magdalene lalu mengangkat telepon tersebut.

“Halo …” sapa Magdalene.

“Halo …” sahut suara itu di seberang.

“Magdalene, ini aku John. Aku ingin bertemu denganmu di kafe itu.”

“Oke,” jawab Magdalene singkat. Semburat kekesalan seketika menyelimuti wajah gadis itu. Ia lalu menutup telepon itu. Hatinya terasa dongkol. Ia mengepalkan tangannya karena terasa jengkel.

“John … Laki-laki itu …” Wajah laki-laki yang tak disukainya muncul dalam pikiran Magdalene. Kejadian itu kembali berputar dalam memorinya.

***

Dua tahun silam, saat Magdalene menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Kota Musico, ia dikejar-kejar oleh orang asing yang akan mengganggunya. Magdalene merasa ketakutan. Ia terus berlari tanpa arah hingga menuju sebuah gang buntu. Orang asing itu semakin mendekat ke arahnya dan Magdalene merasa takut. Ia tak mampu berteriak, karena jalanan itu sepi dan suara tertutup oleh dinding tinggi di sepanjang gang buntu itu. Magdalene sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi. Ketika orang asing itu semakin mendekat, tiba-tiba terdengar sebuah teriakan.

“Woi!!!” seru seorang laki-laki.

Keringat dingin membanjiri sekujur raga Magdalene. Tangannya mengepal gugup. Matanya tenggelam dalam ketakutan. Orang asing itu membalikkan badannya ke arah laki-laki. Ia malah menyeringai dan mendekap Magdalene kencang. Sontak, Magdalene terkejut.

“Tolong … Lepaskan aku …” Magdalene meminta tolong dengan lirih.

“Lepaskan perempuan itu!” teriak laki-laki tersebut.

Orang asing malah menyeringai. Di tangannya, ia memegang batu. Tanpa berpikir panjang, laki-laki itu menendang tangan orang asing keras-keras, hingga orang asing tersebut mengaduh kesakitan. Magdalene segera berlari dan bersembunyi di belakang laki-laki itu. Orang asing tersebut menjadi marah. Ia mengayunkan tangannya dan melayangkan pukulan dengan keras. Namun, dengan sigap, laki-laki itu menangis pukulan orang asing. Tak mau kalah, orang asing berkali-kali meluncurkan pukulan, tetapi berhasil ditepis oleh sang laki-laki. Orang asing lengah. Di tengah kelengahannya, laki-laki itu mengunci tangan orang asing lalu mendorongnya keras. Hingga akhirnya, orang asing jatuh ke tanah. Laki-laki itu segera mengajak Magdalene berlari. Mereka terus berlari hingga jauh. Mereka akhirnya sampai di depan kafe.

“Hah … hah …” Nafas Magdalene terengah-engah karena berlari jauh. Begitu juga dengan laki-laki itu.

“Syukurlah kamu tidak apa-apa,” kata sang laki-laki.

Seketika, wajah Magdalene menjadi marah. Ia melemparkan tasnya ke tanah. Sontak, laki-laki itu terkejut. Namun, ia berusaha tenang dan mengambilkan tas itu. Laki-laki tersebut mengembalikan tas itu pada Magdalene.

“Aku memahami perasaanmu. Fokus dulu terhadap dirimu. Aku bersyukur, kamu sudah selamat. Hati-hati ya. Oya, maaf aku harus pergi dulu. Tolong jaga dirimu.” Laki-laki itu segera berjalan meninggalkan Magdalene. Gadis itu hanya terdiam dan masih merasa marah.

Ketika sang laki-laki sampai di tengah jalan, Magdalene berteriak.

“Terima kasih sudah menyelamatkan diriku! Namamu siapa?”

Laki-laki itu menghentikan langkahnya. Ia lalu membalikkan badan.

“Namaku John!” Laki-laki yang bernama John lalu memutuskan melanjutkan perjalanannya. Magdalene hanya terpukau melihat kebaikan sang laki-laki. Ia berharap, bisa bertemu dengan laki-laki itu lagi. Namun sayangnya, sekian lama menunggu, ia tak pernah bertemu dengan laki-laki itu.

***

Kembali ke masa kini, tampak seorang laki-laki paruh baya berdiri di depannya. Hati Magdalene masih terasa kesal.

“Aku menunggumu selama dua tahun! Kenapa kamu tak segera menemuiku?” tanya Magdalene kesal.

Laki-laki itu hanya terdiam.

“Kenapa kamu diam?!” tanya Magdalene kesal.

Laki-laki itu hanya diam. Karena tak sabar, Magdalene lalu menggertak.

“Woi!” seru Magdalene gusar. Akibatnya, laki-laki itu menjadi kaget. Namun, ia berusaha tenang. Magdalene menitikkan air matanya. Laki-laki itu membiarkan Magdalene menangis. Hampir 5 menit, Magdalene menangis. Laki-laki tersebut kemudian mengulurkan selembar tisu padanya. Magdalene lalu menghapus air mata dengan tisu itu. Laki-laki menghela nafas sejenak. Ia lalu berkata,

“Maafkan aku Magdalene … Aku membuatmu lama menunggu. Aku selalu mengirimkan surat padamu selama 2 tahun itu. Kita berkenalan melalui surat dan saling berbagi cerita …”

“Aku trauma! Aku benci diriku sendiri! Apakah semua salahku?! Orang asing itu mengangguku!” Tangis Magdalene mulai pecah. John, laki-laki yang pernah dijumpai Magdalene menjadi iba. Ia merasa prihatin atas trauma yang dialami oleh Magdalene.

“Kamu tahu John … Aku menunggumu, karena aku menginginkan sosok yang mampu melindungiku!”

John menjadi merasa bersalah. Selama 2 tahun itu, ia menyembunyikan diri dari Magdalene. Ia memilih melindungi Magdalene secara diam-diam. Bahkan, tanpa sepengetahuan Magdalene, John sering bertengkar dengan laki-laki lain yang hendak mengganggu keselamatan Magdalene. Ia hanya ingin memastikan Magdalene selamat di kota itu.

“Aku benci John dengan diriku sendiri! Rasanya muak! Capek! Kesal!” keluh Magdalene marah.

“Magdalene, aku tetap melindungimu. Dalam 2 tahun persembunyianku, aku melawan laki-laki yang hendak mengganggu dirimu. Mereka mengancam keselamatanmu. Kota ini tidak aman untuk perempuan. Tetapi, aku berhasil melawan rombongan mereka. Rombongan itu sudah tidak ada di sini, karena telah diproses secara hukum. Aku selalu menjagamu Magdalene. Terlepas apapun masa lalumu, aku menyayangimu. Dirimu berharga,” kata John.

Hati Magdalene menghangat. Butiran bening mulai memenuhi pelupuk matanya. Ia menggenggam erat tangan John. Laki-laki itu juga menggenggam erat tangan Magdalene. Kini, Magdalene merasa nyaman. Ia percaya, dirinya tetap nyaman dan selamat, karena ada John, yang selalu menjaganya …

*Tamat*

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hope

Hati Nana

Ngerasa Gabut? Yuk, Baca Buku yang Ringan!