Peluh Bersaksi di Bawah Matahari

Sumber gambar:
Diedit menggunakan aplikasi Canva secara pribadi

Aku sedih. Aku capek. Aku pengin menangis. Gimana rasanya, setiap hari Ibuku ditertawakan hanya sebagai seorang buruh cuci? Aku benci dengan mereka yang menghina Ibuku. Apakah salah dengan pekerjaan buruh cuci? Bukankah jauh lebih mulia, daripada mereka yang berkedudukan tinggi tetapi mengambil hak milik orang lain.

***

Matahari sudah berada di atas kepala. Pekik panasnya tak merenggut semangatku, menjajakan kue buatan Ibu. Sambil berkeliling dari satu rumah ke rumah, aku menjajakannya dengan gembira.

“Kue! Kue! Ada kue lapis! Kue brownies! Murah meriah!” seruku.

Tiba-tiba, tampak seorang anak laki-laki dari balik pagar memanggilku.

“Kak, beli kue,” katanya.

“Okee dek,” sahutku riang.

Sang anak masuk ke dalam rumah. Sementara itu, ibu anak tersebut keluar rumah setelah dipanggil oleh anaknya. Ia menyambutku dengan gembira.

“Kak, ini kuenya satu berapa?” tanya ibu itu.

“Kue lapis harganya 3.000 per buah Bu, kue brownies harga 2.000 per buah. Kalau kue bolu yang besar harganya 3.000 Bu, yang kecil 1.500,” terangku menjelaskan harga-harga kue yang ku jajakan.

“Saya beli kue lapisnya 2, kue brownies-nya 15, sama kue bolunya yang besar 4,” kata ibu tersebut.

“Baik Bu,” jawabku sambil mengambilkan kue sesuai permintaan ibu tersebut dengan penjapit makanan. Kemudian, kue tersebut ku masukkan ke dalam plastik bening yang bersih. Tak lupa, aku juga memasukkannya ke dalam kantong plastik warna hitam berukuran sedang.

“Totalnya 48.000 ya Bu,” kataku sambil menyerahkan kue tersebut.

“Ini ya …” Ibu itu menyerahkan uang Rp50.000 kepadaku. Dengan sigap, aku mengambil kembalian Rp2.000 untuk diberikan pada ibu tersebut.

“Ahh, nggak usah Mbak. Kembaliannya buat Mbak aja,” tolak sang ibu.

“Ta … tapi Bu …”

“Udah Mbak, nggak papa. Buat Mbak aja,” kata ibu dengan tulus.

“Terima kasih Bu. Semoga rezekinya lancar selalu,” ucapku.

“Aminn Mbak,” jawab ibu.

“Kalau begitu, saya pamit ya Bu. Permisi,” pamitku.

Aku lalu keluar dari rumah tersebut dan tak lupa menutup pintu pagar. Sesampainya di luar, aku kembali menjajakan kueku. Di tengah perjalanan, aku bertemu dengan teman sekelasku, Keo dan Feisya. Mereka berdua sering menghina ibuku yang hanya bekerja sebagai buruh cuci.

“Uh … Kasihan ya, usia masih kayak kita, tapi udah susah-susah payah jualan,” ledek Feisya.

“Tadi, ibunya Eni kerja di rumahku. Ya … Nyuci sih …” Keo mencibirku dengan memanyunkan mulutnya.

“Serius? Ihh … Kasihan banget. Buruh cuci itu rendah lho,” hina Feisya.

“Iya! Saking rendahnya, makanya si Eni sering nunggak uang sekolah! Nggak mampu ya?” ejek Keo.

“Duh Eni … Minimal ibumu itu kayak Mamaku. Sosialita dan punya bisnis online shop Nggak susah-susah kerja sana sini. Duit langsung masuk.” Feisya menyombongkan diri.

Aku merasa panas mendengarnya. Aku lalu meninggalkan mereka yang masih sibuk berceloteh. Aku berusaha tidak mempedulikan perkataan mereka. Aku lebih memilih sedikit meringankan beban ibu, daripada hanya berpangku tangan. Aku kembali berjalan dari satu rumah ke rumah untuk menawarkan dan menjajakan kue-kueku. Ketika mereka tidak membelinya, aku mengucapkan terima kasih dan merasa bersyukur. Meskipun terasa lelah, aku merasa bahagia. Sampai sore, kueku ludes terjual.

“Terima kasih Tuhan ... Akhirnya, uangku bisa buat membantu Ibu …” ucapku dalam hati. Aku lalu memutuskan pulang di rumah. Sesampainya di rumah, aku menunggu ibu di teras rumah.

***

Menjelang senja berpamitan pada sang surya, ibuku baru sampai rumah.

“Ibu!” Aku menyambut riang kedatangan ibu.

“Anakku …” Ibu memelukku hangat.

“Bu, hari ini jualanku habis. Ibu ini uang buat ibu,” kataku sambil menyerahkan uang pada ibu.

Ibuku terbelalak kaget melihat uang itu.

“Nak … Ini buat uang sakumu …” Ibu berkaca-kaca memegang uang itu.

“Ibu masih ada. Kebetulan, orderan cuci ibu masih banyak. Kebetulan, mereka suka dengan kinerja Ibu,” kata Ibu.

“Bu, ini hasil dari keringat Eni sendiri. Anggap ini sebagai hadiah buat Ibu,” kataku tulus.

Ibu menerimanya dengan gemetar. Ibu menangis melihatnya. Ia lalu memelukku.

“Maafkan Ibu, Nak … Gara-gara Ibu, kamu jadi ikutan membanting tulang. Padahal sebetulnya, tugasmu adalah belajar.” Ibu merasa bersalah.

“Ibu, justru Eni yang berterima kasih sama Ibu. Besok kebetulan Eni libur, Eni mau bantu Ibu,” kataku sambil tersenyum.

Tak disangka, Ibu mulai bercucuran air mata. Ibu semakin memelukku erat. Aku juga memeluk ibu dengan penuh kasih. Diam-diam, aku menitikkan air mata. Namun, aku cepat-cepat menghapusnya. Takut kalau Ibu berpikir aku kenapa-kenapa. Setelah itu, aku dan ibu lalu masuk ke rumah.

***

Keesokan harinya, aku dan Ibu lalu pergi ke rumah tetangga yang telah memesan jasa mencuci Ibu. Setelah tetanggaku mempersilakan untuk masuk, aku dan Ibu lalu masuk. Tetanggaku lalu menunjukkan tempat mencuci. Betapa terkejutnya aku ketika melihat cucian sebanyak 5 ember. Aku menyadari, jika ternyata selama ini Ibu merasa lelah.

“Mbak, saya suka dengan kinerja Mbak. Kalau ada cucian lagi, datang aja ke sini. Tenang, soal gaji saya tambahkah,” ujar tetanggaku.

“Terima kasih Mbak. Saya mencuci dulu ya,” kata Ibuku.

Tetanggaku mengangguk sambil tersenyum. Ia lalu pergi meninggalkan kami berdua. Kami lalu bergegas mencuci pakaian yang terdapat di dalam ember tersebut.

“Ibu, sini biar Eni yang mencuci,” tawarku.

“Jangan Nak. Kamu istirahat aja …” kata Ibu sambil tersenyum.

“Ah nggak Bu …” Aku lalu mencuci.

Selama mencuci, aku bercanda dengan Ibu agar pekerjaan yang berat ini terasa ringan.

“Nak, jangan pernah malu melakukan pekerjaan sebagai buruh cuci. Pekerjaan ini sungguh mulia, meskipun seringkali dipandang rendah. Lebih baik bekerja biasa-biasa saja daripada terlihat kaya, tetapi di dalamnya mengambil hak milik orang lain. Apalagi menyongsong Indonesia 2024, kita perlu bekerja secara jujur dan disiplin. Perlu menyesuaikan dengan perjalanan zaman, dengan cara transformasi digital. Kita mempromosikan jasa kita, seperti jasa mencuci dan produk kue di media sosial,” nasihat Ibu.

“Setuju Bu. Terima kasih telah menasehati Eni,” kataku sambil tersenyum.

Ibu mengangguk sambil tersenyum. Ia lalu kembali berkata.

“Nak, soal gaji jangan khawatir. Nisaya, kita bekerja dengan tekun. Kita bekerja dengan hati. Menikmati setiap prosesnya. Mau belajar. Apalagi menuju Indonesia 2024, kita mau maju dan bertransformasi digital. Intinya, kita berproses dan berproses. Gaji sesuai dengan proses kita, akan menghampiri kita.”

Aku merasa puas mendengarkan penjelasan ibu. Rasanya aku tidak sabar untuk tetap berproses, meskipun hal tersebut akan menghadapi berbagai tantangan ke depannya.

Hari itu, kami segera menyelesaikan cucian tersebut. Kami melakukannya dengan gembira, meskipun rasa lelah menghampiri kami. Kami merasa bersyukur atas kesempatan dan pengalaman hidup yang berharga ini. Terima kasih Tuhan … Terima kasih Ibu …


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hope

Hati Nana

Ngerasa Gabut? Yuk, Baca Buku yang Ringan!