Merajut Rindu

 


Aku memang tidak mudah untuk mencari dan menemukan diri. Sebab, aku terlalu lama tenggelam dalam masa lalu dan memeluknya erat dalam pikiran. Aku merasa, ‘diriku’ sungguh mencintai waktu silam dan melepaskan angka-angka kalender untuk bersua lagi di bentangan waktu. Mungkin, terdengar mustahil, bukan? Benar. Hal itu tentu saja mustahil. Akupun sebenarnya tersadar, jika aku hidup dalam masa saat ini. Masa lalu sifatnya usang dan sisa yang tertinggal hanyalah kenangan. Sayangnya, masa lalu lebih manis daripada sekarang. Kehidupan dan seluruh isinya tidak bisa digantikan oleh siapapun, dalam dimensi ruang dan waktu.

Dulu, aku begitu mencicip ‘sajian-sajian manis’ dalam hidupku. Hidup terasa indah karena alam begitu menawan. Burung-burung mengidungkan nyanyian untuk menyemarakkan pagi. Bahkan, pepohonan mendekapku erat dengan kerindangannya. Aku begitu merasakan damai di hati. Angin juga sangat baik padaku. Ia selalu membasuh jiwaku dengan keteduhannya. Ah … Meskipun ku teguk pahitnya hidup, rasanya seperti tidak ada beban. Semua kesulitan ku hadapi dengan keluasan hati.

Namun sayang, semua berubah ketika keindahan itu disirnakan. Kelabu mulai membumbung di angkasa. Burung-burung telah kehilangan harapan. Pepohonan mulai layu dan menangisi segala kerindangan yang ada. Begitu juga kawan lainnya. Semua memohon dan memelas, agar semarak alami itu bersemi kembali. Tapi, apa daya … Semua hanya tersisa dalam angan …

Diam-diam, aku melambungkan doa kecil pada Sang Pencipta. Mengapa mereka yang berhati temaram sungguh meredupkan hiruk pikuk alam? Mengapa mereka begitu melupakan dimana mereka berpijak dan menjejakkan langkahnya? Setiap malam, aku berkanjang dalam air mata. Dengan sayu, aku menghitung butiran air mata yang mungkin saja telah mengering di telaga waktu. Aku ingin membasuh seduku dengan keelokan alam, tetapi hati ini begitu masygul.

Suatu pagi, aku berlari ke tengah kegersangan hutan. Hati terjerat oleh lara dan pelik. Kawanku telah sirna. Semua hanya tersisa kering kerontang. Kemarau insan telah mengoyak mereka. Sungguh … Aku tidak tahu, harus bagaimana lagi. Aku hanya merintih, merintih, dan merintih … Namun, aku tidak boleh menyerah. Aku harus berdiri. Aku berusaha bertahan, bertahan, dan bertahan.

Aku menenun kembali harapan. Aku mencari dan menemukan ‘kawan mungil’ berwarna hijau. Aku mencintainya, layaknya anakku sendiri. Aku merawatnya dan menyanyikannya setiap hari. Aku mendoakannya agar berusaha kuat dan tegar ketika badai kehidupan menerpa. Kemarau dan hujan menghampiri silih berganti, tetapi ia bertahan. Seiring berjalannya waktu, ia bertumbuh dengan kuat dan hebat. Daunnya menghijau cantik, memendarkan kerindangan. Angin menjadi sahabat karibnya. Lama kelamaan, ia berkembang dan memiliki putera-puteri alam yang cantik. Oh … Betapa bahagianya hatiku. Semua juga berkat Sang Pencipta. Jagalah dirimu selalu. Jika bersedih, sampaikan pada angin, tentang segala sedumu. Izinkanlah aku, menghapus air matamu …

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hope

Hati Nana

Ngerasa Gabut? Yuk, Baca Buku yang Ringan!