Melodi yang Memeluk Harmoni (Bagian 1)

Sumber:
Diedit menggunakan aplikasi Canva secara pribadi

Pada suatu masa, hiduplah seorang gadis sederhana bernama Melodi. Ia hidup sendirian, di rumah kumuh di sudut kota. Sejak kecil, ia suka sekali mendengarkan musik, terutama musik klasik. Beberapa komposer musik favoritnya seperti Franz Schubert, Johann Sebastian Bach, dan sebagainya. Setiap hari, sepulang dari mencari botol bekas, ia mendengarkan alunan musik klasik di sekolah musik yang dilewatinya. Melodi sering mengintip dari jendela dan menikmati setiap alunan musik yang di dengarnya. Sayangnya, beberapa guru di sana yang tidak menyukai kehadiran Melodi. Mereka akan mengusirnya, jika Melodi ketahuan mengintip. Hati Melodi pun menjadi sedih. Ia bergegas pergi dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

Suatu ketika, saat Melodi melewati sekolah. Ia mendengarkan denting piano yang mengalun indah. Suara itu sungguh memikat hati dan jiwanya. Tanpa berpikir panjang, Melodi kembali mengintip dari balik jendela. Di tengah angin yang sepoi-sepoi meneduhkan, Melodi menikmati alunan musik tersebut. Seseorang yang memainkan piano tersebut, sadar jika ada orang lain yang mengintipnya. Ia lalu pergi ke arah jendela. Tanpa Melodi sadari, orang itu sudah di belakangnya.

"Halo Nak," sapa orang itu ramah.

Melodi tersentak kaget. Ia lalu bergegas untuk pergi. Ia merasa malu, karena aksinya telah diketahui.

"Tidak perlu takut Nak. Marilah, datang kemari," ujar ia dengan ramah.

Dengan takut-takut, Melodi sedikit mendekat. Ia hanya menundukkan kepalanya. Gadis itu merasa minder, karena di hadapannya adalah orang yang berpenampilan rapi dan bersih.

"Nak, tidak perlu takut. Aku tidak galak." Orang itu berusaha membuat Melodi nyaman. Sementara itu, Melodi hanya terdiam sejenak. Pelan-pelan, ia berusaha untuk percaya dan memastikan bahwa orang itu tidak berbuat jahat.

"Namamu siapa Nak?" tanya orang itu.

"Melodi," jawabnya singkat.

Orang itu kaget. Ia menduga, ada sesuatu yang membuat Melodi menjadi takut dan minder.

"Berapa usiamu, Nak?" tanya orang itu.

Melodi menunjukkan angka 7 dengan jarinya, tetapi ia menjawab dengan pelan.

"Delapan."

Orang itu kembali tersentak kaget. Namun, ia tetap tersenyum pada Melodi.

"Baik, Nak. Perkenalkan, namaku Ibu Peregrine. Aku pemilik Musica Academica, sekolah musik ini. Aku sering melihatmu menikmati musik di sini," ujar Ibu Peregrine tersebut.

Muka Melodi mendadak menjadi takut. Ia merasa gugup ketika mendengar perkataan Ibu Peregrine.

"Jangan takut Nak! Besok datang ke sini ya. Latihan piano bersama Ibu," kata Ibu Peregrine ramah.

Hatinya yang semula tegang, kembali menjadi mencair, saat melihat Ibu Peregrine yang ramah dan penuh keibuan.

"Baik Ibu," jawab Melodi.

Ibu Peregrine mengusap lembut rambut Melodi. Ia tidak merasa risih mengusap rambut Melodi, meskipun rambut gadis itu sedikit acak-acakan. Hati Melodi seketika menghangat. Ia merasa memperoleh cinta seorang Ibu. Tanpa Melodi sadari, Ibu Peregrine diam-diam menitikkan air mata. Namun, Ibu Peregrine buru-buru menghapus air matanya. Ia menyadari, jika Melodi adalah putri kesayangannya. Namun, mereka berpisah karena ulah Bibi John, yang selalu iri dengannya. Dalam hati, ia berjanji akan membantu Melodi sekaligus merawatnya.

***

Keesokan harinya, Melodi datang lagi ke sekolah tersebut. Beberapa guru dan murid memalingkan muka karena melihat penampilan Melodi yang kumal. Bahkan, ada yang memicingkan mata dan mencemoohnya.

"Ih, rakyat jelata," cibir salah satu orang.

"Orang kelas bawah tidak boleh masuk sekolah ini!" seru yang lain.

Hati Melodi terasa pedih mendengarnya. Namun, ia buru-buru berlari hingga tak sengaja menabrak seseorang. Olala, ternyata Ibu Peregrine. Melodi tersenyum lega.

"Mari Nak, kita belajar piano bersama," ujarnya.

Melodi mengangguk senang. Ia lalu berjalan mengikuti Ibu Peregrine dari belakang. Sementara itu, beberapa orang yang dijumpainya, melihatnya dengan sinis.

"Emang bisa?" tanya seseorang meremehkan.

"Anak kelas bawah tidak pantas belajar musik!" geram yang lain.

"Apaan tuh?"

"Cuih ... Dia hanya beruntung bertemu dengan Ibu Peregrine. Kalo tidak bertemu, tidak mungkin bisa ..."

Hati Melodi semakin sesak mendengarnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Ibu Peregrine menyadari hal tersebut. Ia lalu menatap tajam beberapa guru dan muridnya. Mereka lalu diam tak berkutik. Ibu Peregrine lalu merangkul Melodi dan menuju ruang utama. Setelah berjalan, mereka akhirnya sampai di tempat yang dituju. Di sana, Ibu Peregrine membuka piano itu lalu meminta Melodi untuk duduk di sampingnya.

Apakah yang terjadi?

(bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hope

Hati Nana

Ngerasa Gabut? Yuk, Baca Buku yang Ringan!