Masih Zaman Mem-bully? (1)
Pagi
yang bermandikan dingin menemani perjalanan Ciko menuju sekolah. Si kutu buku
ini melangkahkan kakinya dengan riang. Ia tak sabar ingin segera sampai di
sekolah, karena bisa mengulang materi yang telah dipelajarinya semalam. Hanya
dalam waktu 10 menit, Ciko telah sampai di sekolah. Ia berjalan menuju
kelasnya. Di depan kelas, ternyata Bian dan Arza, yang suka berbuat usil telah
berdiri dengan berkacak pinggang. Rupanya, mereka menantikan kehadiran Ciko.
Saat itu, di kelas, hanya ada beberapa anak perempuan yang ketakutan melihat
Bian dan Arza.
"Eh
Ciko ... Ternyata kamu berangkat awal ya ..." ujar Bian dengan
sinis.
"Bagus
sih Ciko ..." puji Arza licik.
Ciko
merasa takut. Ia gemetar ketika kedua temannya itu maju ke arahnya. Ciko segera
berlari. Tapi sayangnya, ia kalah cepat dengan Bian yang telah menghadangnya di
depan. Ciko membalikkan badan. Ternyata, Arza ternyata di belakangnya. Ciko
sudah pasrah dikepung kedua anak yang terkenal nakal di kalangan anak kelas 1-
4 ini.
"Ampun
Bian ... Ampun Arza ... Maaf, kalau aku berbuat salah ..." ujar Ciko
takut.
"Salah?
Benar! Mana bukumu?" tanya Arza yang kini menelikung tangan Ciko dari
belakang. Ciko berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Arza. Namun
sayangnya, ia kurang bertenaga karena tubuh Arza yang besar dan kuat. Bian
tertawa puas melihat ketakutan Ciko. Dengan sigap, ia segera membuka tas Ciko.
Ia mengambil buku matematika milik Ciko.
"Ini
buku matematikamu kan?" tanya Arza.
Ciko
mengangguk pasrah.
"Berikan
jawabanmu untuk kami! Jika kamu sampai berani melapor pada Bu Dwi, awas
ya!" ancam Arza sambil mengacungkan telunjuknya. Matanya melotot garang ke
arah Ciko, membuat nyali anak laki-laki mungil itu semakin ciut.
"Hahaha.
Lemah!" ejek Bian. Ia lalu mendorong Ciko, hingga anak itu terjatuh.
Sementara itu, anak perempuan yang dari tadi ketakutan segera menolong Ciko dan
membantunya berdiri.
Duo
anak nakal itu tertawa puas melihat Ciko yang merintih kesakitan. Anne, salah
satu dari kelompok perempuan itu merasa kesal dengan mereka melemparinya dengan
remahan kertas.
"Kalian
nakal!" seru Anne kesal.
Arza
dan Bian marah mendengarnya. Arza segera melemparkan remahan itu ke arah Anne.
Tak disangka, tangannya tertahan dari belakang. Arza terkejut. Ia lalu menoleh
dari belakang. Ternyata, Jasmine, ketua kelas yang disegani di kelas. Jasmine
adalah sosok yang jarang bicara, tetapi dikenal tegas. Ia tak segan-segan
memberikan ketegasan bagi teman-teman di kelas yang terbukti melakukan
perbuatan tak terpuji.
"Jangan
lawan Ciko. Tetapi hadapi aku dulu," kata Jasmine dengan berani.
Bian
dan Arza tak bisa berkata-kata. Ia hanya menunduk ketika Jasmine menatap mereka
lekat-lekat.
"Di
kelas ini, semua kawan. Silakan tidak menyukai. Tetapi jangan sampai
mem-bully," ujar Jasmine.
Bian
dan Arza hanya diam.
"Entah
kalian diam atau bagaimana, aku membuat peringatan jika hal itu terjadi
lagi," tegas Jasmine.
Bian
dan Arza tertunduk malu. Mereka tidak mau berurusan dengan Jasmine yang bagi
mereka galak. Mereka lalu pergi meninggalkan Jasmine. Setelah mereka keluar,
Jasmine mengambil buku Ciko dan menyerahkan buku itu pada Ciko. Anak yang
berkacamata itu terpana melihat Jasmine. Gadis yang tegas itu segera keluar
kelas.
"Syukurlah
ada Jasmine ..." Ciko merasa lega.
***
Keesokan
harinya, Arza dan Bian tidak kapok lagi. Mereka berdiri di depan gerbang
sekolah. Kebetulan, Pak Satpam belum datang. Mereka menghadang adik kelas dan
memalak uang jajan.
"Hei!
Serahkan uang jajan kalian!" hardik Bian. Beberapa adik kelas merasa
ketakutan. Dengan terpaksa, mereka menyerahkan uang saku kepada Bian dan
Arza.
"Cepat!
Cepat!" tukas Arza. Mereka lalu berlari sambil menangis. Dari kejauhan,
tampak Jasmine dan Bu Santi, wali kelas 4 SD mendengar suara tangisan itu.
Jasmine dan Bu Santi segera bergegas menuju ke mereka.
"Bian!
Arza!" panggil Bu Santi.
Mereka
terkejut dengan suara Bu Santi. Ciko dan Arza ingin berlari, tetapi kurang
enak.
Bersambung …

Komentar
Posting Komentar