Masih Relevankah Beauty Shaming?

 

Sumber gambar

Diedit pribadi menggunakan aplikasi Canva


Halo teman-teman! Bagaimana kabarnya? Semoga sehat selalu yaa. Aku percaya, kalau teman-teman selalu dalam keadaan sehat. Hehehe. Oya teman-teman, di sini aku mau cerita nih ke teman-teman. Wahh, cerita apa tuh??? Yuk, kita obrolin sama-sama ya!

Teman-teman, apakah kalian pernah melihat atau mendengar tentang istilah beauty shaming? Yupss ... Istilah itu marak mewarnai media sosial saat ini. Menurut pendapatku, beauty shaming itu adalah suatu bentuk perundungan terhadap kecantikan seseorang. Dalam hal ini, mengomentari kecantikan seseorang, penampilannya, dan wajahnya itu termasuk kategori beauty shaming. Bahkan, bercanda soal tubuh, pakaian, aksesoris, atau make up seseorang itu terkesan beauty shaming lho. So, jangan menormalisasi beauty shaming. Nggak banget deh pokoknya, kalau melakukan beauty shaming. Lebih baik, apresiasi kecantikan seseorang. Kalau semisal ada sesuatu yang membuat diri kalian kurang nyaman terhadap penampilan seseorang, lebih baik jangan mengatakan sesuatu yang kurang mengenakan hatinya ya. Kalau seseorang itu nggak meminta saran, lebih baik kita belajar untuk menghargai usaha dirinya dalam meng-upgrade diri. Hindari deh ngasih saran yang sifatnya menggurui atau seolah-olah kita lebih tahu, daripada dirinya. Maksud kita sih baik, tetapi kita nggak tahukan bagaimana hatinya. Mungkin saja, dirinya merawat diri karena memang benar-benar mengasihi dirinya.

Oya teman-teman, dari sedikit ngomong-ngomong di atas, aku pernah nih mengalami beauty shaming. Aku sering mendengar pernyataan 'kamu cantik, kamu aman'. Rasanya geram dan jengkel sih kalau denger pernyataan itu. Apalagi, pernyataan itu seakan-akan dinormalisasi. Sedihnya, kalau banyak teman-teman cewek yang berlomba-lomba untuk cantik, tetapi mendiskreditkan sesamanya. Berlomba-lomba untuk dapat pengakuan dan pujian. 'Ini lho aku cantik, kamu ketinggalan', 'aku mah fashionable', dan sebagainya. Anggapan-anggapan itu seringkali membuat sesama perempuan menjadi minder dan tidak percaya diri. Mereka malah memilih untuk menutup diri dan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan potensi. Padahal, kalau kita sadari, semua perempuan itu cantik dan nggak bisa dibanding-bandingkan. Setiap perempuan punya kekuatan dan kecantikannya masing-masing. Please, stop deh bandingin kecantikan setiap cewek! Rasanya itu sedih ya, kalau kecantikan dan penampilan dikomentari. Hmm, punya pengalaman beauty shaming itu nggak mengenakkan teman-teman. Aku pernah berkumpul di suatu tempat bareng teman-teman cewek. Kebetulan, semua cewek di tempat itu ber-make up. Hanya aku aja yang berpenampilan biasa. Yaa ... Pakai kemeja kotak-kotak,  rambut dikuncir satu, dan berkacamata. Itulah kekhasan diriku. Sampai di sana, teman-teman ini melihat diriku. Aku merasa ada yang  aneh dengan diriku. Tiba-tiba, mereka berceletuk.  'Minimal itu ber-make up yaa, biar seger dilihat', 'eh, ketika kamu ber-make up, teman-temanmu nyaman sama kamu'kan?', 'coba deh, belajar pakai skincare, biar kulitmu nggak kusam'. Beberapa perkataan itu membuatku merasa minder dan sedih. Aku memutuskan untuk menutup diri. Aku merasa diriku tidak layak. Aku merasa kalau diriku ini tidak pantas. Bahkan, aku merasa kalau diriku tidak berharga. Akibatnya, aku sering mengurung diri di kamar. Aku menutup media sosial. Aku mengurangi pergaulanku dengan teman-teman lain. Orang tuaku merasa sedih melihat perubahan diriku. Ibuku berusaha mendekatiku. Ia membesarkan dan menguatkan hatiku. Ibu mengatakan padaku. "Nak, kamu itu cantik. Kamu itu punya banyak bakat. Kamu itu suka lho membantu bapak ibu dan orang lain. Terkadang orang yang hidupnya udah di atas, jarang mau menyapa orang-orang yang sering dipandang remeh, kayak petani, buruh bangunan, dan tukang ojek. Tapi, kamu berbeda, Nak. Kamu sering menyapa mereka. Kamu selalu berpikiran bahwa semua orang memiliki kedudukan yang sama." Perkataan ibu inilah yang menguatkan hatiku. Secara perlahan, rasa minderku berkurang. Aku jadi bodo amat dengan penilaian dan komentar orang lain. Sejak saat itu, aku jadi fokus sama diriku.

Bicara soal beauty shaming, menurutku udah nggak relevan sih pada zaman sekarang. Apalagi, banyak perempuan yang lebih meng-upgrade diri tanpa menjustifikasi sesama atau berkompetisi demi sebuah validasi. Aku senang melihat perempuan bisa berkarya dan berproses menjadi diri sendiri. Menurutku, kecantikan itu relatif ya, sehingga nggak bisa disamakan. Setiap perempuan cantik sesuai dengan dirinya masing-masing. Cantik itu definisinya juga luas. Bisa soal wajah, penampilan, kebaikan, pengetahuan, etika, dan sebagainya. So, yuk kita coba buat apresiasi diri sendiri. Kalian boleh kok mencoba-coba mix and match fashion atau merawat diri. Asal sesuai dengan dirimu yaa. Jangan sampai ikut-ikutan teman. Hehehe.

Begitu teman-teman ceritaku tentang beauty shaming! Semoga, persoalan beauty shaming segera berkurang, ya! Kita perlu menerima dan menyadari bahwa setiap perempuan itu cantik sesuai dengan dirinya masing-masing.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hope

Hati Nana

Ngerasa Gabut? Yuk, Baca Buku yang Ringan!