Malaikat Kecil di Kelasku

 

Tak banyak bermain dalam ribuan kata. Tak banyak juga dalam alunan gemuruh dialog, antara aku dan kamu, sehingga menjadi kita. Hanya kasih yang terurai dalam perbuatan kecil. Meskipun tidak diagungkan dan ditinggikan, tetapi kebaikan itu mampu menyentuh setiap hati. Bagaimana tidak, seorang yang biasa-biasa saja, dengan perbuatan sederhana dan hati bersahaja, menjadi penyejuk di tengah kemarau hati. Ia bagaikan mata air, yang dirindukan oleh manusia saat memeluk dahaga. Ia tak seperti seorang lainnya, yang bergulat dalam ketinggian, keagungan, kekayaan, dan keindahan. Ia hanya menyimpulkan kasih nan sederhana, tanpa banyak kata-kata yang menakjubkan, tetapi memiliki kedalaman makna. Namanya tak banyak diketahui banyak orang, karena saking biasanya. Tapi, dari hal yang biasa, ia memiliki hati yang luar biasa …

Namaku Anggrek. Orang tuaku menamaiku demikian, karena mereka sangat menyukai bunga anggrek. Kata mereka, bunga anggrek itu beragam jenisnya. Ada anggrek bulan, anggrek macan tutul, dan sebagainya. Meski harganya mahal, jika ditekuni, usaha bunga anggrek bisa mencapai omzet ratusan juta. 

Oya, kita nggak akan membicarakan soal bunga anggrek nih. Hehehe. Saat ini, aku adalah seorang guru yang mengajar di SMP Bakti Nusa. Di sekolahku, aku mengajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kebetulan aku memiliki kisah menarik di beberapa kelasku. Salah satunya di kelas 7H. Ku ceritakan kisah itu ya ...

Suatu hari, aku mengajar materi gaya bahasa di kelas 7H. Ku lihat, Shireen menangis. Ku dekati Shireen. Sementara itu, banyak murid di kelasku yang asyik dengan tugas mereka masing-masing. 

"Mengapa kamu menangis, Nak?" tanyaku penasaran sambil memegang pundak Shireen. Ia menunjukkan pensilnya yang patah padaku. Tak lama kemudian, datanglah Kasih, salah satu muridku yang paling pendiam di kelas itu. Ia menyodorkan pensil dan tisu kepada Shireen. Gadis yang masih sembab matanya itu menerima pemberian dari Oliv. Ketika Shireen akan mengucapkan terima kasih, Oliv telah pergi ke tempat duduknya. Jujur saja, aku terkesima melihat pemandangan itu. 

 

Saat jam istirahat tiba, aku melihat ada dua anak yang bertengkar hebat. Ku lihat, bapak ibu guru sudah bersusah payah melerai kedua anak itu, tetapi mereka lumayan keras kepala. Tapi ... Tiba-tiba ... Oliv mendatangi mereka berdua, lalu mengajak  kedua anak itu berbincang sejenak. Entah apa yang mereka bicarakan. Setelah mereka berbincang bersama, kedua anak itu menjadi ceria dan rukun kembali. Bapak ibu guru yang berusaha melerai kedua anak tadi, mendekati Oliv. Dari cerita Oliv, mereka menjadi tahu, Oliv memberikan jajanan yang telah dibelinya kepada kedua anak tadi, dengan janji mereka tidak akan bertengkar kembali. Rupanya, Oliv memiliki 'cara yang bijak' untuk menyelesaikan masalah. Aku tersenyum melihat kebaikan hati Oliv.

Terakhir, selesai jam pelajaran, aku melihat tumpahan minuman cokelat yang berceceran di lantai kantin. Tampak sekelompok anak saling mengalahkan. Tanpa banyak bicara, Oliv mengambil alat pel. Dengan sigap, ia membersihkan tumpahan itu dengan sigap. Sementara itu, sekelompok anak yang saling menyalahkan, tertunduk malu melihat aksi Oliv. Selesai mengepel, Oliv mengembalikan alat pel lalu pergi. Aku menyaksikan pemandangan itu dengan penuh arti. 

Dari Oliv, aku menjadi belajar bahwa bukan berapa banyak ucapan yang kita berikan, tetapi lewat tindakan yang kita lakukan. Meskipun Oliv pendiam, tidak menyurutkan kebaikan hatinya untuk membantu sesama. Terima kasih, Nak. Hatimu sungguh mulia. Itulah kisah si Oliv, 'malaikat kecil' di kelasku.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hope

Hati Nana

Ngerasa Gabut? Yuk, Baca Buku yang Ringan!