Ketika Santi Menggambar
Ketika
hidup mengatakan bahwa kita melangkah, apakah semuanya mudah? Tentu saja,
melangkah bukan hal yang mudah. Terkadang, rasa menyerah menghampiri kita.
Namun, kita perlu berusaha. Jika lelah, jangan lupa untuk beristirahat.
***
Namaku
Santi. Saat ini, aku duduk di bangku kelas 3 SD. Aku sering menguap di kelas.
Apalagi, kalau soal pelajaran matematika dan IPA. Nilai ku sering mendapat
solmisasi doremi. Aku paling suka mumet kalau lihat angka-angka.
"Santi,
silakan kerjakan soal pecahan di papan tulis!" pinta Bu Sarmi, guru
matematika.
"Aih
..." keluhku sambil melangkah malas menuju depan kelas.
Aku
lalu menghitungnya asal-asalan. Aku merasa tidak niat sama sekali.
"Santi,
apakah kamu sudah memahami rumus penjumlahan dari pecahan dengan baik?" tanya Bu Sarmi.
Aku
hanya menggelengkan kepala.
"Hoooahhheemm
..." Aku menguap panjang di depan kelas.
Seisi
kelas menertawakanku. Bu Sarmi menatapku dengan tersenyum. Beliau tidak marah.
"Nak,
jika kamu mengantuk, silakan kamu cuci muka dulu ya," pesan Bu Sarmi bijak.
Aku
menganggukkan kepala. Aku segera keluar kelas dan menuju kamar mandi. Di sana,
aku membasuh mukaku. Rasanya begitu mengantuk setiap kali melihat deretan angka
di papan tulis. Pikiranku terasa berat. Ahh ... Aku merasa kalau pelajaran
Matematika itu sulit. Setelah selesai, aku bergegas menuju kelas.
*
Ketika
jam istirahat, Fajar, temanku yang jago matematika menghampiri tempat dudukku.
"Aduh
San ... Kamu kenapa kalo ngantuk pas pelajaran matematika? Semalam main game
yaaa ..." ledek Fajar.
"Enak
aja! Aku nggak pernah main game lho!" celetukku kesal.
"Hmm,
yakin nih? Aku lihat di bawah lacimu, banyak gambar! Kamu malas belajar
matematika yaa??" selidik Fajar.
Lama-lama,
aku malas mendengar celotehan Fajar. Aku bergegas meninggalkan Fajar, hingga
anak itu bengong melihat kepergian. Aku menuju ke kantin sekolah dan membeli es
teh. Aku meminum es teh dengan muka kesal. Tanpa disangka, datanglah Zea
temanku. Ia duduk di sebelahku. Zea heran melihat wajahku.
"Kamu
kenapa Santi?" tanya Zea penasaran.
"Malas
aku!" seruku kesal.
"Kenapa?"
tanyanya lagi.
Aku
mendengus sebal.
"Fajar!
Dia bilang kalau aku ini malas belajar matematika, gara-gara banyak gambar di
laciku! Dia sih pintar matematika! Aku?!" keluhku.
"Aku
pengin marah sama Fajar!" marahku.
Zea
mengangguk-angguk mengerti. Ia benar-benar memahami perasaanku.
"Kamu
nggak harus suka matematika kok. Kalau kamu suka menggambar, lakukan aja. Soal
matematika, itu kamu kerjakan semampumu aja. Jangan dipaksakan," saran
Zea.
Tiba-tiba,
seutas senyum merekah di wajahku.
"Terima
kasih Zea," ucapku.
Zea
mengangguk-angguk sambil tersenyum.
*
Sejak
saat itu, aku berusaha menanamkan saran Zea dalam hatiku. Aku berusaha belajar
matematika sesuai kemampuanku. Aku tidak memaksakan diriku. Ketika aku sudah
selesai mengerjakan rumus, aku mengoreksinya kembali.
"Emang
bisa? Yakin deh nggak bisa ..." celetuk Fajar meremehkan diriku. Aku
terdiam dan tidak menggubrisnya.
"Bagi
yang sudah selesai, silakan melakukan aktivitas apapun! Asal jangan membuat
keramaian!" pesan Bu Sarmi.
"Baik
Bu!" sahut kami serempak.
Aku
memutuskan untuk menggambar. Aku mencoba untuk membuat ilustrasi wajahku.
Kebetulan, aku membawa foto diriku. Aku menggambar menggunakan pensil 2B di
selembar kertas. Aku berusaha menikmati aktivitasku. Goresan dan arsiran pensil
yang lembut dan tajam menggambarkan perasaanku. Semakin tajam dan gelap,
semakin muncul ketegasan dalam gambar tersebut.
"Hmm,
menggambar itu nggak keren! Yang keren itu kalau jago matematika!" celoteh
Fajar yang iri melihat gambarku.
Aku
hanya memilih diam dan berusaha fokus menyelesaikan gambarku. Saat aku menoleh
sejenak ke arah Fajar, ia melihatku dengan sinis.
"Hmm,
gambar gitu doang mah aku bisa!" serunya sambil menepuk dada. Aku hanya
menggelengkan kepala.
"Kamu
sombong banget Jar! Coba deh, hargai karya orang lain," celetuk Zea kesal.
Fajar
hanya bungkam. Ia tidak mampu berkata-kata lagi.
Aku
tersadar, ada seseorang yang berada di samping bangkuku. Olala, ternyata Bu
Sarmi berdiri di sampingku. Beliau memandangiku sambil tersenyum.
"Gambar
apa Nak?" tanya Bu Sarmi ramah.
"Gambar
diri saya Bu," ujarku sedikit malu-malu.
"Ibu
izin melihat gambarmu yaa ..." Bu Sarmi melihat gambarku. Ia memandangi
gambar itu dalam. Tatapan beliau terpana.
"Wahhh
Santi ... Gambarmu benar-benar hidup. Goresan pensilmu kuat sekali. Gambarmu
ini mirip sekali dengan foto dirimu. Keren, Nak," puji Bu Sarmi sambil
berdecak kagum.
Aku
hanya menunduk malu-malu. Aku merasa tidak pantas mendapat pujian. Sementara
itu, raut muka Fajar menjadi kesal karena gambarku dipuji oleh Bu Sarmi.
"Nak,
nanti ibu sampaikan gambarmu pada Pak Dika, guru kesenian ya. Kalau nanti ada
lomba menggambar, kamu yang mewakili sekolah," tukas Bu Sarmi sambil
tersenyum.
Aku
mengangguk-angguk sambil tersenyum.
"Terima
kasih Bu," ucapku.
Bu
Sarmi mengangguk setuju.
*
Bu
Sarmi kini mengerti diriku. Bakatku memang bukan di bidang matematika, tetapi
di bidang menggambar. Aku lebih menikmati proses ketika menggambar. Tentu saja,
aku seringkali merasa lelah dan ingin menyerah, ketika aku kehilangan ide dan
niat menggambar. Saat ingin menyerah, aku memutuskan untuk istirahat. Setelah
bertenaga, aku melanjutkan aktivitas menggambarku. Tentu saja, aku dibimbing
secara khusus oleh Pak Dika, guru kesenian di sekolah.
"Ceritakan
saja hatimu melalui gambar!" pesan Pak Dika.
Aku
selalu mengingat pesan itu. Saat aku marah, aku pernah menggambar suasana sawah
yang diliputi oleh mendung yang gelap. Ketika aku gembira, aku menggambar
sekelompok anak yang bermain meniupkan gelembung. Aku benar-benar menghadirkan
perasaanku ke dalam sebuah gambar. Hingga suatu ketika, Pak Dika menemuiku.
"Santi,
besok ikut lomba menggambar yang diselenggarakan oleh maskapai penerbangan ya.
Kebetulan ini tingkat nasional. Bapak tahu, pesertanya ribuan dan kegiatan ini
menjadi tantangan bagimu. Tetapi tenang saja, Bapak selalu mendampingi dan
membimbingmu," kata Pak Dika.
Aku
terkejut. Aku merasa cemas, karena ini lomba menggambar tingkat nasional yang
pertama kali ku ikuti.
"Bapak
tahu, kamu cemas Nak. Tapi, nikmatilah cemas itu. Tuangkan kecemasanmu ke dalam
sebuah gambar," pesannya bijak.
Aku
mengangguk mengerti. Sejak saat itu, aku berlatih menggambar di bawah bimbingan
Pak Dika. Aku sering mengobrol dengan Pak Dika untuk mencari ide dan menemukan
gagasan yang tepat untuk menggambar. Kata Pak Dika, kalau menggambar nggak
perlu hal-hal yang spektakuler, tetapi hal-hal sederhana yang diperindah dengan
sajian gambar 'hidup' dan tatanan warna yang apik.
"Coba
Nak. Mainkan imajinasimu. Misalnya, temanya tentang negeri kebahagiaan. Kamu
gambarkan, seorang gadis kecil yang baik sedang menunggang kupu-kupu raksasa.
Tetapi, di sekelilingnya, buatlah awan-awan raksasa. Dalam awan itu, berisi
kebaikan yang dilakukan oleh gadis kecil itu. Itu contoh imajinasi sederhana
sesuai dengan jiwa kita," saran Pak Dika.
Aku
berusaha membuat gambar sesuai dengan arahan Pak Dika. Terkadang, aku menangis
karena merasa lelah menggambar. Aku benar-benar ingin berhenti. Apalagi, si Fajar terus meledek dan bilang
kalau menggambar itu nggak keren. Aku merasa kehilangan harapan dan malas
menggambar. Namun, Pak Dika tidak lelah membimbingku. Beliau terus menyemangati
dan mengarahkan diriku. Lama kelamaan, aku bodo amat dengan sikap Fajar. Aku
berusaha fokus dan menikmati prosesnya.
*
Seiring
waktu berjalan, hari H lomba menggambar itu pun tiba. Aku datang ke tempat
acara bersama Pak Dika. Kebetulan lomba menggambar itu bertema tentang
'Impianku'. Aku menggambar dengan
tenang. Ketika lomba berlangsung, aku menuangkan imajinasiku. Aku membayangkan,
aku naik pesawat mimpi dan terbang di antara negeri awan. Di dalamnya, ada
beberapa mimpi yang ingin ku capai. Salah satunya, ingin menjadi pelukis
terkenal . Setelah 3 jam, akhirnya aku menyelesaikan gambar itu. Aku lalu
mengumpulkannya pada panitia. Setelah itu, aku menemui Pak Dika. Karena aku
lelah, Pak Dika mengajakku makan siang lalu mengantarku pulang.
*
Beberapa
minggu kemudian, ketika upacara bendera, aku melihat sebuah piala yang tinggi.
Aku berpikir kalau piala itu pasti diraih dari kejuaraan matematika. Setelah
upacara berakhir, Bu Kikan, selaku wakil kepala sekolah menyampaikan pengumuman
penting.
"Anak-anakku,
betapa bangganya sekolah memiliki anak-anak hebat seperti kalian. Anak-anak
yang mau belajar dan bertumbuh dalam setiap prosesnya. Kali ini, beberapa waktu
yang lalu, teman kita mengikuti salah satu lomba menggambar tingkat nasional.
Kata guru pembimbing, ia sering merasa lelah dan ingin menyerah. Namun,
tekadnya kuat, karena ia sungguh menikmati prosesnya. Ia tidak memikirkan
kejuaraan dan semuanya hanya ia serahkan pada Tuhan. Anak-anakku, mari kita
sambut teman kita, Santika Kinasih yang berhasil meraih juara pertama dalam
Lomba Menggambar tingkat Nasional!" seru Bu Kikan. Sorak dan tepuk tangan
warga sekolah bergemuruh pagi itu. Aku terperangah kaget mendengar perkataan Bu
Kikan. Aku masih tak percaya kalau aku meraih juara pertama. Padahal selama
ini, aku sering mengeluh ingin menyerah. Meskipun demikian, aku hanya berfokus
pada prosesku saja. Aku lalu maju ke depan.
"Selamat
ya Nak. Ibu mewakili bapak kepala sekolah, mengucapkan terima kasih atas proses
dan perjuanganmu dalam lomba ini," ucap Bu Kikan berseri.
"Terima
kasih kembali Ibu. Terima kasih Pak Dika yang telah membimbing saya selama ini,"
ucapku sambil melihat ke arah Pak Dika. Beliau mengacungkan dua jempol padaku.
Aku tersenyum bahagia. Aku lalu memberikan piala kejuaraanku pada pihak
sekolah. Selain memperoleh piala, aku juga memperoleh piagam kejuaraan dan uang
pembinaan. Aku tidak sedikitpun merasa hebat. Aku merasa biasa-biasa saja.
Setelah selesai, pasukan upacara pun membubarkan peserta upacara. Saat aku
berjalan menuju kelas, Fajar mendekatiku. Ia mengulurkan tangannya padaku.
"Maafkan
aku ya Santi. Selama ini, aku meremehkan bakat menggambarmu," ucapnya
tulus. Ia benar-benar menyesali sikapnya selama ini.
Aku
mengangguk sambil tersenyum.
"Sudah
... Aku udah maafin kamu kok," ucapku riang.
Fajar
menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lega. Kami berdua lalu bergegas menuju
kelas dan siap mengikuti proses pembelajaran pada hari itu.
Tamat

Komentar
Posting Komentar