Ikan Mas Lui
Ketika
kenaikan kelas, Loi dibelikan oleh ibunya berupa ikan mas. Setiap hari, Loi
merawat ikannya dengan penuh kasih. Tak lupa, ia juga membersihkan akuariumnya.
Ia mengganti air di akuarium itu setiap 3 hari sekali. Karena kasih sayangnya,
ikan mas Loi itu tumbuh besar. Ibu Loi turut senang melihat kepedulian Loi
terhadap hewan peliharaannya.
“Kuki,
besok jangan lupa gede ya! Nanti, kalau kamu tambah gede, aku kasih roti kering
kesukaanmu!” ujar Loi senang.
Ikan
mas yang diberinya nama ‘Kuki’ itu berenang dengan lincah kesana kemari. Hewan
itu terlihat centil dan menggemaskan. Mata Loi takjub melihatnya. Ia memandangi
ikan itu dengan penuh kekaguman.
“Tuhan
itu hebat ya Bu. Saking hebatnya, Tuhan menciptakan ikan mas yang indah ini,”
puji Loi dalam hati. Matanya terus bergerak memandangi ikan itu dengan berseri.
***
Pagi
hari, sebelum berangkat ke sekolah, Loi memberikan remahan roti pada ikan mas
kesayangannya. Ikan itu meliuk-liuk dengan lincah, melewati karang dan rumput
laut di akuariumnya. Loi merasa terhibur dengan aksi menggemaskan ikan itu.
Tanpa ia sadari, Kuki, si ikan mas itu berenang ke arah Loi. Anak laki-laki
yang berusia 9 tahun itu mendekat di akuarium. Ia mengamati ikan itu dengan
tersenyum.
“Sesuai
janjiku, aku beri roti kering ya! Tapi, kamu harus rajin makan. Karena, kalau
nggak makan, perutmu sakit,” ujar Loi polos. Ia mengelus-elus akuarium itu
dengan lembut. Seakan mengerti dengan apa yang disampaikan oleh Loi, ikan itu
berenang dengan lincah.
Tiba-tiba,
ibu Loi masuk dari ruang tengah menuju tempat akuarium itu.
“Nak,
kok kamu belum berangkat sekolah?” tanya ibunya heran.
“Loi
mau lihat ikan mas ini dulu Bu. Biar Loi semakin semangat belajar di sekolah!”
celetuk Loi ceria.
Ibunya
tersenyum hangat mendengar jawaban putranya. Ia mengusap kepala Loi dengan
penuh kasih.
“Mantap,
Nak. Ya udah Nak, yuk berangkat ke sekolah. Nanti terlambat lho,” pesan
sang ibu.
Loi
mengangguk riang. Ia segera berpamitan pada ibunya dan bergegas menuju sekolah.
***
Sepulang
dari sekolah, Loi tidak sabar melihat ikan kesayangannya. Namun, matanya terlihat
kebingungan, karena tampak ada yang berbeda di akuariumnya. Ia melihat ada miniatur
istana yang terbuat dari kayu. Loi merasa bahwa dirinya tidak membuatkan ‘rumah’
untuk Kiku.
“Ibu!
Ibu!” panggil si Loi.
“Iya
Nak!” Ibunya yang baru berada di dapur, keluar menemui anaknya.
“Ada
apa Nak?” tanya ibunya keheranan.
“Ibu,
siapakah yang meletakkan miniatur istana di dalam akuarium Kiku?” tanya Lui
penasaran.
Ibunya
mendengarkan pertanyaan Lui dengan tersenyum. Dengan sabar, ibunya lalu menyampaikan
hal tentang miniatur istana di akuarium ikan Lui tersebut.
“Anakku
sayang, tadi saat Lui belajar di sekolah dan ibu sedang membersihkan gudang,
ibu menemukan miniatur istana milik Oly, kakakmu …” Mata ibu menerawang jauh.
Tiba-tiba, wanita itu teringat putri pertamanya yang kini hidup di kota lain
dan jarang pulang. Dada ibu terasa sesak. Hatinya terisak. Ia tak sanggup
melanjutkan kata-katanya. Tanpa disadari, air mata telah menetes di pipinya.
Lui melihat ibunya dengan kebingungan. Dengan sigap, Lui menghapus air mata
ibunya.
“Ibu
… Boleh nangis ya …” kata Lui dengan lembut.
“Terima
kasih, Nak. Oly, kakakmu jarang pulang Nak. Ibu sebenarnya khawatir dengan keadaannya.
Terus terang, ibu sangat merindukannya. Apalagi, miniatur istana ini kesayangan
kakakmu. Ibu memang sengaja meletakkannya di dalam akuarium itu, agar ibu
selalu teringat bahwa Oly, anak ibu, akan segera pulang dan kembali ke rumah
ini …” Mata ibu berkaca-kaca. Lui merasa iba mendengarkan cerita Ibunya.
“Apalagi,
ikan mas adalah hewan kesayangan Oly, kakakmu …” sambung sang ibu.
Lui
mengangguk mengerti. Ia segera memeluk ibunya dengan erat. Lui lalu berkata.
“Bu,
percayalah, ikan ini menjadi kawan ibu juga. Ibu nggak sendiri. Hehe. Aku
berdoa Bu. Tuhan mengabulkan doa ibu dan Kak Oly segera pulang ke rumah …”
Ibu
mengangguk dengan tersenyum. Ia mendekap anaknya dengan penuh kasih. Lui pun
membalasnya dengan erat. Siang itu, mereka larut dalam suasana penuh kehangatan
dan kasih sayang.

Komentar
Posting Komentar