Halo, Bagaimana Keadaanmu?

Namanya Tito. Anaknya biasa-biasa saja di sekolah. Ia jarang mengikuti perlombaan. Bahkan, ia juga tidak terlalu aktif di kelas. Meskipun demikian, ada cerita menarik dengan dirinya. Penasaran? Yuk, kita simak.

Saat jam istirahat, di kelas VI B, ada seorang anak yang tertidur lesu. Kebetulan, semua anak bermain di luar kelas. Anak itu bernama Sasha. Biasanya, Sasha riang. Tapi kali ini, wajahnya diterpa kesenduan. Matanya tampak bengkak. Tiba-tiba, Tito masuk ke kelas. Tito menyodorkan tisu pada Sasha. Anak manis itu terpana saat melihat Tito yang memberikan tisu. Ia lalu mengusap air matanya dengan tisu itu.

"Te ... te ... terima kasih Tito," ucap Sasha terbata-bata.

"Sama-sama. Bagaimana keadaanmu?" tanya Tito.

Sasha hanya terdiam. Ia kembali menitikkan air matanya.

"Tidak apa-apa, jika menangis. Keluarkan saja," kata Tito tulus.

"Maaf ya ... Huuuuu ..." Sasha kembali menangis kencang. Tito mengusap pelan punggung Sasha. Ia hanya diam dan membiarkan Sasha mengeluarkan perasannya. Tito mendengarkan tangisan Sasha dengan sabar. Tak lupa, ia juga mengulurkan tisu untuk Sasha. Ia menangis cukup lama. Hingga akhirnya, tangis itu berhenti.

"Terima kasih ya Tito, sudah mendengarkan tangisanku. Maaf, hatiku terlalu berat karena rasanya ingin menangis dari kemarin. Aku mau menangis, tetapi malu," cerita Sasha.

"Tidak apa-apa Sasha. Menangislah. Menangis itu hal yang wajar," ujar Tito sambil tersenyum. Sasha lalu mengangguk sambil tersenyum. Kemudian, Tito berpamitan untuk menuju kelasnya.

Sesampainya di kelas, Tito terkejut ketika melihat Aryo dan Xena yang hendak berkelahi. Sementara yang lain, hanya melihat dengan takut karena Aryo dan Xena terkenal garang di kelas.

"Kamu yang mulai dulu!" seru Aryo marah.

"Kamu ya!" Xena tidak mau kalah.

Tanpa banyak bicara, Tito berlari menuju mereka dan merangkul keduanya. Tito membiarkan kedua kawan itu merasakan amarahnya masing-masing. Suasana kelas pun seketika menjadi tegang, mengingat guru hampir masuk. Untunglah, guru belum masuk. Setelah amarah mereka mulai surut, Tito lalu membawa mereka keluar.

 

Di luar, Tito menempatkan mereka sendiri-sendiri. Tito lalu mendatangi Xena dan memberinya air putih.

"Terima kasih Tito," ucap Xena.

"Sama-sama. Bagaimana keadaanmu?" tanya Tito.

"Masih marah, soalnya Aryo memancing emosiku," ujar Xena.

Tito mengangguk-angguk mengerti.

"Aku kesal. Aku marah." Xena meremas-remas ujung bajunya. Ia tampak masih kesal dengan Aryo.

"Aku memahami perasaanmu. Marah itu manusiawi, dan perasaan itu valid," ujar Tito.

Xena mengangguk-angguk. Kemudian, laki-laki berambut pirang menceritakan semuanya pada Tito. Sementara itu, Tito mendengarkannya dengan penuh pengertian. Setelah lega, Xena memutuskan kembali ke kelas. Tito tersenyum penuh arti.

Kemudian, Tito mendekati Aryo. Rupanya, anak itu masih marah! Aryo menyobek kertas lalu membuangnya sembarangan. Tanpa marah, Tito memunguti robekan kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah. Ia lalu duduk di depan Aryo.

"Mau apa kamu?" tanya Aryo ketus.

"Aku ke sini mau menemanimu," ujar Tito tulus.

Ia berusaha agar tidak terpancing emosi.

"Kamu membela Xena kan? Buktinya, Xena senyum-senyum!" tuduh Aryo.

Tito menggelengkan kepala.

"Lalu, kamu mau ngapain di sini? Mau cari masalah?! Ayo lawan aku!" Aryo menantang Tito dengan keras kepala.

"Aku di sini tidak ingin berkelahi denganmu. Aku tahu, perasaanmu masih marah. Mari, kita rasakan perasaan itu bersama," ujar Tito.

"Sok bijak!" cibir Aryo. Tito hanya terdiam.

"Jadi orang jangan sok tahu deh! Kamu cari perhatian kan, supaya aku takut sama kamu? Aku sih paling pemberani!" Aryo menyombongkan diri.

Tito hanya menggelengkan kepala. Ia membiarkan Aryo marah-marah. Hingga akhirnya, Aryo merasa lelah.

"Aku capek marah ..." keluhnya.

Tito merasa iba. Ia lalu memberikan air putih pada Aryo.

"Terima kasih!" ucapnya.

"Sama-sama. Bagaimana keadaanmu?" tanya Tito.

"Lebih baik. Terima kasih ya," ucap Aryo tulus.

Tito mengangguk dengan penuh arti. Ketika Aryo mulai tersenyum, Tito mengajaknya untuk masuk kelas.

Di dalam kelas, Xena menyambut kedatangan Aryo dengan hangat. Mereka lalu berpelukan dan saling bersalaman. Seisi kelas pun merasa gembira karena ketegangan telah menurun. Sementara itu, Tito menyaksikan peristiwa dengan gembira. Dalam hati, ia tidak merasa hebat. Ia justru menyadari bahwa perasaan teman-temannya valid dan layak untuk didengarkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hope

Hati Nana

Ngerasa Gabut? Yuk, Baca Buku yang Ringan!