Dampak Media Sosial terhadap Kehidupan Remaja

        

 

Sumber: Diedit pribadi menggunakan aplikasi Canva

Media sosial kian digandrungi oleh generasi muda di era globalisasi saat ini. Dengan adanya media sosial, generasi muda dapat mengakses informasi dengan mudah dan cepat. Semua dilakukan tanpa mengenal tempat dan waktu. Alhasil, generasi muda lebih cepat menangkap informasi terkini dan perkembangan yang sedang terjadi. Misalnya, kejadian di negara lain dapat diketahui dengan mudah oleh pengguna media sosial di suatu negara.

Perlu diingat dan disadari bahwa tidak semua informasi yang disampaikan bersifat penting dan aktual. Di media sosial, banyak ditemukan informasi yang sifatnya hoax dan cenderung berpotensi mengundang kebencian. Berita yang belum diketahui kebenarannya ramai-ramai diserbu oleh warganet dengan komentar yang negatif. Bahkan, tak jarang, masih ditentukan adanya kenakalan generasi muda, khususnya remaja di media sosial. Kenakalan tersebut di antaranya: body shaming, spam foto yang kurang pantas, menguntit informasi pribadi, dan sebagainya. Akibatnya, keamanan dan privasi seseorang ketika bermain media sosial menjadi kurang terjamin. Media sosial yang semula berfungsi sebagai sarana informasi dan komunikasi, malah menjadi sarana provokasi dan justifikasi tanpa bukti yang konkret. Komentar yang bernada rasisme, seksisme, dan bullying pun kian mewarnai dunia maya.

“Ih, kok penyanyi itu kulitnya putih yaa ...”

“Tangan cowok itu mulus banget, kayak jalan tol …”

“Cewek itu harus cantik dan pintar dandan. Jangan berpakaian biasalah. Seenggaknya bisa menarik perhatian orang …”

Akibatnya, banyak orang yang cenderung menormalisasi komentar-komentar di atas. Mereka cenderung beranggapan bahwa komentar di media sosial adalah hal yang wajar dan siapa saja boleh melakukannya. Padahal, apabila disadari, komentar yang berbau rasisme, seksisme, dan bullying dapat menimbulkan rasa sakit hati seseorang. Oleh sebab itu, etika sangat perlu dikedepankan dalam bermain media sosial.

Berkaitan dengan persoalan di atas, mengapa etika sangat penting? Karena, pada dasarnya, ketika kita menggunakan media sosial, kita tidak pernah tahu dengan kenyataan yang sebenarnya. Ruang media sosial sifatnya ‘maya’, artinya hanya sebatas dari pandangan manusia dan tidak bersinggungan secara langsung dengan fisik kita, sehingga tak jarang, kita mudah terpapar informasi yang belum diketahui kebenarannya dengan jelas. Kita bisa mengenal seseorang dengan cepat, menggali informasi secara mendalam, dan membagikannya secara instan. Meskipun demikian, sebagai pengguna media sosial, kita perlu berhati-hati dan waspada, karena tidak semua isi dalam media sosial sifatnya baik.

Baru-baru ini, terdapat video yang viral di Instagram, yakni seorang remaja yang mengobrol dengan gadis sederhana. Penampilan sang gadis sering menjadi sorotan warganet. Alhasil, banyak warganet yang melemparkan komentar tidak menyenangkan di kolom media sosial tersebut. Beberapa komentar cenderung mengarah ke beauty shaming. Padahal, hal tersebut sebenarnya tidak pantas untuk dilakukan, mengingat penampilan seseorang bukan merupakan bahan candaan. Setiap orang sebaiknya perlu memiliki kesadaran untuk tidak menghina penampilan seseorang.

Kasus yang terjadi di media sosial seperti: beauty shaming, cyber bullying, dan kasus lainnya ternyata berpengaruh bagi kehidupan remaja. Kita perlu mengetahui bahwa remaja sedang berada dalam fase pencarian jati diri, sehingga rasa ingin tahunya tinggi. Ketika bermain media sosial, usia remaja cenderung bergejolak. Apa yang terjadi di media sosial, dapat berpotensi diikuti oleh remaja pada masa kini. Contohnya, ketika di media sosial, terdapat video yang menceritakan tentang seorang anak yang malu dengan pekerjaan ayahnya yang hanya bekerja sebagai tukang bangunan. Anak tersebut merendahkan sang ayah. Sementara itu, sang ayah hanya tertunduk diam ketika dihina anaknya. Anak itu lalu berlari meninggalkan ayahnya.

Video di atas ternyata berpengaruh di kehidupan nyata. Pada masa kini, sebagian besar remaja merasa malu dengan orang tuanya sendiri yang telah berusia renta ataupun hanya menjalani pekerjaan biasa. Beberapa remaja menuntut orang tuanya untuk mencari pekerjaan yang mapan tanpa memperhatikan kondisi dan situasi. Hal tersebut dilakukan agar remaja terlihat eksis, tanpa memperhatikan kenyataan yang ada.

Akibat media sosial, beberapa remaja sering mengejek pekerjaan orang tua temannya yang cenderung dipandang biasa saja. Ejekan itu dianggap lumrah. Padahal sebenarnya, remaja yang orang tuanya dihina ini menjadi sakit hati dan minder. Ejekan tersebut membuatnya kehilangan semangat dan harapan dalam menjalani kehidupan. Hal ini yang menjadi catatan bersama.

Sebagai manusia, sudah sepatutnya kita memiliki tanggung jawab untuk membimbing dan mengarahkan remaja pada masa kini. Kita perlu mengajarkan pada remaja untuk lebih bijaksana dan berhati-hati dalam menggunakan media sosial. Mulai dari mencari dan memilih informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, mengikuti akun-akun media sosial yang bersifat edukatif dan inovatif, dan menyaksikan hiburan yang sehat sesuai dengan usia remaja. Dengan demikian, media sosial menjadi sarana yang sehat dan aman bagi remaja, apabila dimanfaatkan secara positif.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hope

Hati Nana

Ngerasa Gabut? Yuk, Baca Buku yang Ringan!