Dampak Media Sosial terhadap Kehidupan Remaja
Media sosial kian
digandrungi oleh generasi muda di era globalisasi saat ini. Dengan adanya media
sosial, generasi muda dapat mengakses informasi dengan mudah dan cepat. Semua
dilakukan tanpa mengenal tempat dan waktu. Alhasil, generasi muda lebih cepat
menangkap informasi terkini dan perkembangan yang sedang terjadi. Misalnya,
kejadian di negara lain dapat diketahui dengan mudah oleh pengguna media sosial
di suatu negara.
Perlu diingat dan
disadari bahwa tidak semua informasi yang disampaikan bersifat penting dan
aktual. Di media sosial, banyak ditemukan informasi yang sifatnya hoax dan
cenderung berpotensi mengundang kebencian. Berita yang belum diketahui
kebenarannya ramai-ramai diserbu oleh warganet dengan komentar yang negatif.
Bahkan, tak jarang, masih ditentukan adanya kenakalan generasi muda, khususnya
remaja di media sosial. Kenakalan tersebut di antaranya: body shaming,
spam foto yang kurang pantas, menguntit informasi pribadi, dan sebagainya.
Akibatnya, keamanan dan privasi seseorang ketika bermain media sosial menjadi
kurang terjamin. Media sosial yang semula berfungsi sebagai sarana informasi
dan komunikasi, malah menjadi sarana provokasi dan justifikasi tanpa bukti yang
konkret. Komentar yang bernada rasisme, seksisme, dan bullying pun
kian mewarnai dunia maya.
“Ih,
kok penyanyi itu kulitnya putih yaa ...”
“Tangan
cowok itu mulus banget, kayak jalan tol …”
“Cewek
itu harus cantik dan pintar dandan. Jangan berpakaian biasalah. Seenggaknya
bisa menarik perhatian orang …”
Akibatnya, banyak orang
yang cenderung menormalisasi komentar-komentar di atas. Mereka cenderung
beranggapan bahwa komentar di media sosial adalah hal yang wajar dan siapa saja
boleh melakukannya. Padahal, apabila disadari, komentar yang berbau rasisme,
seksisme, dan bullying dapat menimbulkan rasa sakit hati
seseorang. Oleh sebab itu, etika sangat perlu dikedepankan dalam bermain media
sosial.
Berkaitan dengan
persoalan di atas, mengapa etika sangat penting? Karena, pada dasarnya, ketika
kita menggunakan media sosial, kita tidak pernah tahu dengan kenyataan yang
sebenarnya. Ruang media sosial sifatnya ‘maya’, artinya hanya sebatas dari
pandangan manusia dan tidak bersinggungan secara langsung dengan fisik kita,
sehingga tak jarang, kita mudah terpapar informasi yang belum diketahui
kebenarannya dengan jelas. Kita bisa mengenal seseorang dengan cepat, menggali
informasi secara mendalam, dan membagikannya secara instan. Meskipun demikian,
sebagai pengguna media sosial, kita perlu berhati-hati dan waspada, karena
tidak semua isi dalam media sosial sifatnya baik.
Baru-baru ini, terdapat
video yang viral di Instagram, yakni seorang remaja yang
mengobrol dengan gadis sederhana. Penampilan sang gadis sering menjadi sorotan
warganet. Alhasil, banyak warganet yang melemparkan komentar tidak menyenangkan
di kolom media sosial tersebut. Beberapa komentar cenderung mengarah ke beauty
shaming. Padahal, hal tersebut sebenarnya tidak pantas untuk
dilakukan, mengingat penampilan seseorang bukan merupakan bahan candaan. Setiap
orang sebaiknya perlu memiliki kesadaran untuk tidak menghina penampilan
seseorang.
Kasus yang terjadi di media
sosial seperti: beauty shaming, cyber bullying, dan kasus
lainnya ternyata berpengaruh bagi kehidupan remaja. Kita perlu mengetahui bahwa
remaja sedang berada dalam fase pencarian jati diri, sehingga rasa ingin
tahunya tinggi. Ketika bermain media sosial, usia remaja cenderung bergejolak.
Apa yang terjadi di media sosial, dapat berpotensi diikuti oleh remaja pada
masa kini. Contohnya, ketika di media sosial, terdapat video yang menceritakan
tentang seorang anak yang malu dengan pekerjaan ayahnya yang hanya bekerja
sebagai tukang bangunan. Anak tersebut merendahkan sang ayah. Sementara itu, sang
ayah hanya tertunduk diam ketika dihina anaknya. Anak itu lalu berlari
meninggalkan ayahnya.
Video di atas ternyata
berpengaruh di kehidupan nyata. Pada masa kini, sebagian besar remaja merasa
malu dengan orang tuanya sendiri yang telah berusia renta ataupun hanya
menjalani pekerjaan biasa. Beberapa remaja menuntut orang tuanya untuk mencari
pekerjaan yang mapan tanpa memperhatikan kondisi dan situasi. Hal tersebut dilakukan
agar remaja terlihat eksis, tanpa memperhatikan kenyataan yang ada.
Akibat media sosial,
beberapa remaja sering mengejek pekerjaan orang tua temannya yang cenderung
dipandang biasa saja. Ejekan itu dianggap lumrah. Padahal sebenarnya, remaja
yang orang tuanya dihina ini menjadi sakit hati dan minder. Ejekan tersebut
membuatnya kehilangan semangat dan harapan dalam menjalani kehidupan. Hal ini
yang menjadi catatan bersama.
Sebagai manusia, sudah
sepatutnya kita memiliki tanggung jawab untuk membimbing dan mengarahkan remaja
pada masa kini. Kita perlu mengajarkan pada remaja untuk lebih bijaksana dan
berhati-hati dalam menggunakan media sosial. Mulai dari mencari dan memilih
informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, mengikuti akun-akun media sosial
yang bersifat edukatif dan inovatif, dan menyaksikan hiburan yang sehat sesuai
dengan usia remaja. Dengan demikian, media sosial menjadi sarana yang sehat dan
aman bagi remaja, apabila dimanfaatkan secara positif.

Komentar
Posting Komentar