Catatan Hati tentang Matematika

 

Sumber gambar: 
Diedit pribadi menggunakan aplikasi Canva


Halo Ibu Nashwa. Ini dengan saya sendiri, Kea. Bagaimana dengan kabar Ibu? Doa saya, Ibu Nashwa selalu dalam keadaan sehat ya. Tuhan selalu menjaga Ibu Nashwa. Amiinnn … Di sini, Kea juga dalam keadaan sehat, Bu dan tentunya masih berproses.

Ibu, Kea masih teringat, kalau masa-masa SMA itu masa yang indah, sekaligus pahit ya Bu. Hehehe. Kea teringat Bu. Kalau dulu, Kea sering diremehkan di sekolah. Kea dibilang ‘nggak cantik’, ‘nggak pintar Matematika’, ‘nggak jago bahasa Inggris’, ‘badannya gempal kayak balon’, dan masih banyak kata-kata yang menggores di hati. Kea merasa sedih Bu, ketika teringat masa lalu yang pahit. Kea hanya punya beberapa kawan dan dua sahabat yang benar-benar memahami perasaan Kea. Mereka selalu ada buat Kea. Mau mendengarkan Kea dan menerima apa adanya. Kea rasanya mau nangis Bu kalau ingat sama kebaikan dan kesetiakawanan mereka.

Bu, Kea masih ingat Bu, kalau pelajaran matematika di kelas. Kea selalu ditertawakan oleh guru matematika. Kea masih sering lupa rumus-rumus matematika. Ketika Kea nggak paham dan bertanya dengan guru itu, Kea malah dimarahi. Eh, teman-teman yang bimbingan di tempat bimbingan belajar terbaik malah menertawakan Kea. Mereka mereka meremehkan Kea karena peringkat tiga besar di kelas tapi kok nggak bisa matematika. Pedih ya Bu rasanya kalau mengingat itu. Apalagi, mereka sering membawa buku rumus dan latihan soal matematika yang besar-besar. Kayak bukunya dosen matematika Bu, bikin Kea minder banget. Kea pernah ngumpet di kolong meja karena ditertawakan satu kelas. Kea nggak bisa matematika. Semua karena berawal Kea yang marah ditantang sama anak kesayangan guru itu. Kea diminta kerjakan soal matematika yang menurut Kea paling sulit. Kea takut sama soal ini Bu. Siapa lagi, kalau bukan aljabar. Bu, Kea benar-benar keringat dingin saat itu. Hati Kea benar-benar sedih Bu. Selain aljabar, Kea takut sama limit, volume bangun ruang, sama soal cerita. Wah, bener-bener puyeng kepala Kea.

Di sekolah, kalau pas pelajaran matematika, Kea lebih memilih kabur di UKS atau nggak tidur di kelas. Kea selalu dicari guru matematika itu. Akibatnya, Kea sering dimarahi dan dibanding-bandingkan dengan anak yang ikutan bimbingan di tempat bimbel mahal itu. Mereka kan mau masuk PTN yang favorit dan memilih jurusan SAINTEK. Sedangkan, Kea’kan condong ke ilmu humaniora, entah mau masuk filsafat atau sastra. Kedua fakultas ini pilihan Kea. Karena sering diremehkan, diledek, dan dibanding-bandingkan, Kea memilih diam di sekolah. Kalau ditanya, lebih menggelengkan kepala. Kea kehilangan semangat belajar. Kea tidurnya kurang. Malas makan. Kehilangan harapan. Kalau dulu suka nulis, jadi nggak nulis lagi. Benar-benar rasanya berada di titik terbawah.

Tapi ternyata, Tuhan itu punya rencana yang indah Bu, buat Kea. Ada seorang teman Kea. Namanya, Raisa. Dia dari kelas sebelah Bu. Anaknya jago matematika. Dia menawarkan diri jadi tutor sebayanya Kea. Setiap pulang sekolah, ia mengajarkan matematika buat Kea Bu. Sekitar 20 – 30 menit Bu. Di samping itu, Raisa juga ngasih rekomendasi guru privat matematika. Namanya Bu Oni. Bu Oni ternyata pilihan yang tepat buat Kea Bu. Orangnya lucu, tetapi cerdas. Bu Oni selalu memberikan resep matematika yang menyenangkan dan anti mumet.

Setiap kali les, Kea selalu disuguhkan latihan soal langsung. Kalau salah, diperbaiki. Salah lagi, perbaiki. Salah lagi, mengulang lagi. Sampai, rumus itu benar-benar di luar kepala. Akhirnya, Kea bisa matematika Bu dan mengalami perkembangan.

Saat maju di kelas, Kea ditantang sama guru matematika dan teman yang suka meremehkan. Ternyata soal aljabar yang menakutkan buat Kea. Kea lalu mengerjakan dengan tenang dan tidak menaruh kebencian. Guru matematika Kea kaget melihat proses dan hasil pekerjaan Kea. Teman Kea itu juga diam dan tak bisa berkutik. Guru matematika itu baru percaya kalau Kea bisa matematika. Di samping itu, Kea mulai membagikan resep matematika buat mereka. Teman yang tadinya meremehkan Kea, jadi mendekat ke Kea.

Sampai saat ini Bu, Kea bersyukur dengan adanya pengalaman itu. Kea akhirnya memilih kuliah di jurusan Matematika murni Bu, di sini di Bandung. Dulu, mereka menertawakan Kea karena Kea nggak jago matematika. Tapi ternyata Bu. Karena Raisa dan Bu Oni, Kea jadi mencintai matematika.

Ibu Nashwa sayang. Terima kasih. Karena dulu ketika SMA, ibu selalu mendengarkan curhatan Kea. Ibu Nashwa jadi ibu yang sangat baik di tanah rantauan. Kini, Kea sudah berkumpul dengan mama dan papa Kea lagi. Mereka masih sibuk, tapi sudah meluangkan waktu buat Kea. Terima kasih Ibu Nashwa untuk semua kebaikan Ibu, selama Kea di tanah rantau. Doakan Kea ya Bu, agar Kea bisa membahagiakan Ibu Nashwa juga. Ibu, Kea pengin banget main di Klaten. Ibu Nashwa sehat-sehat yaa. Bapak Dudi juga sehat dan adikku semuanya, si Jea dan Fino. Kea menyayangi Ibu sekeluarga. Terima kasih Ibu Nashwa sayang …

Salam hormat dan rindu,

 

 

Keolina Alfrey Raveena

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngerasa Gabut? Yuk, Baca Buku yang Ringan!

Hope

Mengenal Dee Lestari, Penulis dan Musikus Indonesia