Buried Under Words
Gadis itu hanya terduduk diam di
bangku taman sekolah. Rambut panjangnya yang hitam dan lebat, dikuncir
setengah, sehingga tampak setengah rambutnya terurai. Tak lupa, pita berwarna
hijau lumut mempercantik rambutnya. Sungguh indah. Namun sayangnya, ia hanya
menunduk sembari membuka buka. Sementara itu, di sekelilingnya, banyak siswa
yang berlalu lalang tak mempedulikan keberadaan gadis tersebut. Aku penasaran
dengan gadis itu? Siapakah dia? Mengapa ia selalu termenung pada jam-jam
istirahat?
Oya, aku mau memperkenalkan diri.
Namaku Astuti. Teman-teman sering memanggilku Tuti. Lebih singkat sih, kalau
Astuti kan kepanjangan. Hehehe. Aku bersekolah di salah satu SMA yang
menurutku expensive kalo dari kelasku. Aku berasal dari
keluarga yang biasa-biasa saja. Meskipun demikian, aku tidak minder. Ada dua
sahabatku, yang selalu bersamaku, Keke dan Misha. Mereka selalu mendukungku dan
mendorongku untuk terus maju.
Memang sih, ada kelompok yang
katanya berkuasa di sekolah ini. Kelompok itu namanya Amel and The
Friends alias ATF. Anggotanya berjumlah 4 orang, yaitu: Amel si 'lady bos',
Pingkan si modis sebagai tangan kanan Amel, Jeje yang lembut, dan Ilona
yang hobi update status di media sosial setiap hari. Bagi
mereka, eksis dan terkenal adalah poin yang penting dalam segala hal. Apalagi
Pak Bambang, ayah Amel yang menjadi komite sekolah sekaligus donatur tetap bisa
melakukan segala cara untuk melakukan pendekatan kepada pihak
sekolah. Selain itu, Amel dan ketiga kawannya aktif di kegiatan sekolah,
membuat guru-guru tak begitu mempermasalahkan keberadaan mereka. Akibatnya,
Amel dan teman-temannya menjadi sombong dan merasa paling ‘berkuasa’. Siswa
yang terlihat lemah dan berpenampilan sederhana menjadi sasaran bully-annya.
Sebagian besar siswa menjadi takut dan tidak mau berurusan dengan mereka.
Meskipun demikian, aku tidak takut. Apalagi, aku tidak sekelas dengan mereka
dan jarang bertemu. Tapi … Misha takutnya bukan main. Ia sering berlari tiap
kali ATF akan masuk ke kelas. Untunglah, ada Keke, si tomboy yang melindungi
Misha. Keke dikenal sebagai cewek yang galaknya seperti cabai level 10.
Keke-lah yang kerap kali berurusan dengan ATF. Namun, ATF memilih mengalah
akhir-akhir ini karena mengancam akan mem-viralkan kelakuan Amel dan teman-teman.
Diam-diam, hal ini membuat ATF kesal terhadap Keke.
***
Suatu ketika, saat menginjak di
bangku kelas XI, kami bertiga sekelas dengan Amel dan teman-temannya. Ketika
kami melewati bangku depan, tampak Amel dan komplotannya yang duduk di barisan
depan memandang kami dengan sinis. Aku dan Keke lalu menajamkan pandangan
dengan mata melotot. Sementara itu, Misha lebih menunduk. Sontak, ATF terkejut
dengan tingkah kami. Amel dan teman-temannya tidak menyangka mengapa kami bisa
galak. Seketika, mereka menjadi merasa dendam terhadap kami.
"Woi!" teriak Pingkan.
Kami baru saja selesai menaruh tas
di bangku tengah. Kami lalu membalikkan badan dan berdiri menghadap ke arah
mereka.
"Wih, berani benar ya sama
kita? Sopan dikit dong!" seru Pingkan.
Kami hanya terdiam dan merasa
kebingungan.
"Jangan bermain keras ya, kalau
nggak mau cari gara-gara," ujar Jeje lembut.
"Update dulu guys. Jangan
lupa ATF lagi duel sama kelompok anak bawah," kata Ilona.
Amel tersenyum bahagia mendengar
perkataan temannya.
"Girls, baru hari pertama aja, mereka udah ngrasa jadi penguasa di kelas ini. Hello dear. You know about us? Yeah, they're my sister. And we are ATF. So, kamu jangan cari masalah ya dengan kita. Kamu keras, habis sayang," ujar Amel dengan licik.
Aku dan Keke merasa biasa
mendengarnya. Sementara itu, Misha tampak takut.
"Takut?" Keke
mengernyitkan kening mendengarnya.
"Yes baby. Keke, kita udah pernah sekelas ya. Kamu udah tahulah bagaimana ATF ini eksis sampai sekarang. Jadi, please, kamu dan kedua kawanmu tolong hormati kami ya," kata Amel sambil tersenyum. Sementara yang lain mengganggukkan kepala, sebagai tanda menyetujui apa yang disampaikan oleh Amel.
Keke cengar-cengir mendengarnya. Ia lalu memonyongkan mulutnya. Matanya
berputar dan menatap Amel dengan malas.
"Buat apa kami harus
menghormati orang yang suka mem-bully?" tanya Keke.
"Lucu sih," tambahku singkat.
Tanpa disadari, Amel meradang.
Tangannya hampir menjambak rambut Keke. Untunglah, Keke berhasil
menangkisnya.
"Tanganmu kotor Amel kalau bersentuhan denganku," ujar Keke santai.
Amel menjadi kesal sendiri.
Sementara itu, Pingkan dan kedua kawan yang lain menenangkan Amel.
"Udah, jangan ladeni mereka.
Nanti mereka malah semakin bahagia," ujarku.
"Percuma bahagia, kalau hobi
mem-bully orang," kata Keke sambil tersenyum.
"Yuk pergi ..." bisik Misha pelan.
Kami lalu pergi meninggalkan mereka yang masih jengkel dengan kelakukan kami. Sementara itu, dari jauh, tampak seorang gadis berambut panjang masuk ke kelas dengan berhati-hati. Pandangannya menoleh ke kanan kiri seperti memastikan diri dalam keadaan aman.
"Ehhh, gadis soto. Sini yuk ...
Kita ketemu lagi nih!"
Gadis itu seketika menjadi panik. Ia
mencoba berlari, tetapi sayangnya terlambat. Tangan Pingkan dan Jeje telah
memegangnya erat. Sementara itu, Ilona memegang HP dan membuat status.
"Gadis soto membuat ulah. Hobi
hutang ke Amel tapi nggak pernah diganti," tulis Ilona.
"Uuu, panik ya sayang? Kenapa
panik? Aduh kasihan ya? Gini ya, sekarang kita sekelas. Dulu, kamu pernah
hutang sama aku 50 ribu sebanyak 2 kali ya. Totalnya, 100 ribu. Sampai sekarang,
kamu belum melunasi. Mana hutangmu?! tagih Amel dengan keras.
" A ... A ... Amel aku pernah
melunasi uang itu 100 ribu. A ... a ... aku kasih langsung ke kamu ..."
ujarnya pelan.
"Kapan?! Oh, yang dulu
ya?" tanya Amel.
"I ... i ... iya,"
jawabnya lirih.
"Iya sayang ... Aku ingat.
Tapi, aku kayaknya pernah bilang deh. Kamu wajib ngasih aku uang 100 ribu dua
minggu sekali kan ya? Sebagai tanda, kalau kamu tunduk denganku," ujar
Amel sambil tersenyum sinis.
"Sekarang, serahkan uangmu ke
kita!" pinta Pingkan keras.
"Kamu mau cari gara-gara ya cantik?" tanya Jeje lembut.
Gadis yang berambut panjang dan
lebat itu hanya diam. Ia tampak takut dan pasrah dengan kelakukan Amel dan
teman-temannya. Tanpa disadari, Ilona lalu mengambil kacamata gadis itu. Akibatnya,
gadis itu tidak bisa melihat dengan jelas.
"Tolong ... tolong ... aku
minta kacamataku," mohonnya memelas.
"Minta?! Kasih dulu
uangmu!" seru Pingkan.
Gadis itu tak mampu melihat dengan
jelas. Pandangannya menjadi semakin buyar. Ia berseru minta tolong. Namun
sayangnya, seruan itu tidak dihiraukan oleh Amel dan teman-temannya. Mereka
malah menertawakan gadis itu sampai terpingkal-pingkal.
"Aduh, dia nggak bisa
melihat!" seru Pingkan.
"Story dulu guys! Si gadis soto ternyata cantik juga guys kalau nggak pakai kacamata! Yuk, yang cowok, buruan merapat!"
Amel
tersenyum penuh kemenangan. Ia merasa puas dengan aksi dirinya dan
teman-temannya. Amel membusungkan dada. Ia seakan-akan merasa menjadi sosok
yang paling ditakuti di sekolah. Dengan aksi tersebut, semua siswa akan
mengakui dan menghormati dirinya dan teman-temannya.
Sementara
itu, tampak gadis berambut lebat itu berusaha melepaskan tangannya dari
genggaman Pingkan dan Jeje. Kulit di tangannya memerah karena dipegang
erat.
"Amel
... Tolong ... Aku nggak bisa lihat ..." rintihnya lirih.
"Apa?
Lepasin kamu? Oh no baby! Kecuali, kamu udah bayar tagihan,
baru deh aku lepasin."
"Amel ... tolong!" teriak gadis itu ketakutan. Ia mulai menangis.
"Ih,
mulai cengeng! Manja ah!" seru Pingkan kesal.
"Kamu pikir, dengan menangis, semua akan dengar sayang? Jangan harap ya ..." ujar Jeje sambil tersenyum.
Tangis
gadis itu semakin kencang. Sementara itu di luar yang jauh dari ruang kelas,
Misha seperti mendengar sesuatu.
"Ti,
Ke, kayaknya ada yang nangis deh," ujarnya.
"Iya,
ya. Aku denger," tukasku.
"Kita
samperin yuk," ajakku.
"Ah
jangan ... Siapa tahu, itu penunggu sekolah kita ..." Misha mulai
ketakutan.
"Misha,
kita kan bareng-bareng. Yuk ah, kita samperin. Siapa tahu, ada seseorang yang
membutuhkan pertolongan," kataku mulai cemas.
"Iya, aku takutnya. Dia itu korbannya si Amel dan kawan-kawan," timpal Keke.
Kami
lalu bergegas menuju sumber suara. Ternyata, sumber itu berasal dari ruang
kelas. Ketika memasuki kelas, betapa terkejutnya kami. Tampak seorang gadis
tengah menjadi sasaran Amel dan teman-temannya. Mata gadis itu terlihat bengkak
karena lelah menangis. Saat kami tiba, ATF sendiri tidak menyadari kehadiran
kami.
"Woi!"
seruku dengan lantang.
Mereka
tampak terkejut mendengar seruanku.
"Lepaskan
dia sekarang!" seru Keke.
"Apa?!"
Amel tidak takut menghadapi Keke.
"Lepasin
Mel! Jangan cari gara-gara. Dia manusia lho, nggak bisa kau perlakukan
seenaknya!" ujarku.
"Kamu
itu siapa Tuti? Tolong ngaca deh. Kamu itu kelas bawah. Orang nggak punya.
Penampilan biasa aja. Nggak selevel sama kita. Nggak usah ceramah!" seru
Pingkan.
"Aduh Tuti ... Gadis ini sudah berbuat ulah sama Amel. Wajar dong kalau diberi pelajaran," kata Jeje.
Aku
mengernyit memandangi gadis itu. Olala. Ternyata, gadis itu yang ku jumpai
kemarin. Ia sering duduk tertunduk di bangku taman sekolah. Aku baru paham
sekarang.
"Oke.
Apa mau kalian sekarang? Asal kalian melepaskan gadis itu?" tanyaku.
Amel
tersenyum licik.
"Mulai
besok, tolong bawakan tas kami sampai di dalam kelas!" ujarku.
Keke
mulai naik darah mendengarnya.
"Apa?! Jadi orang jangan seenaknya Mel!"
Amel
hanya diam tersenyum.
"Keke,
itu kemauan Tuti sendiri. Bukan kami yang minta lho," kata Jeje lembut.
"Nggak usah sok lembut Je! Kalian berempat sama aja! Seenaknya semua!" marah Keke sambil menunjuk ke arah mereka.
Amel
yang dari tadi hanya diam, mulai meradang.
"Kamu
maunya gimana Keke sayang? Oya, cewek yang body-nya B aja dan
penampilannya membosankan kayak kamu, cocoknya jadi pembantu!"
cerocos Amel.
"Apa
kau Mel?! Kamu kira aku takut sama kamu?!" Keke mulai memanas.
"Udah
Ke ... Udah ..." Misha menenangkan Keke.
"Mau
kamu apa Mel? Mau lapor Pak Bambang? Denger ya, komite sekolah tahun ini mau
diganti! Jadi, jangan harap kamu bisa seenaknya di sini!" seru Keke.
"Satu lagi, jam 12 siang nanti, kita ketemu di lapangan basket. Kita tanding basket. Siapa yang paling banyak memasukkan bola ke ring, dia pemenangnya!" tantang Keke.
Amel
terdiam mendengarnya. Ia tidak bisa bermain basket. Apalagi, ketiga temannya.
Ia merasa gengsi untuk mengakui ketidakmampuannya itu. Namun, ia tiba-tiba
mendapat ide.
"Oke!"
Amel menyetujui tantangan tersebut. Pingkan dan Jeje lalu melepaskan gadis
itu.
"Aduh!"
seru gadis itu kesakitan. Ia terjatuh karena
didorong oleh Pingkan dan Jeje.
Kami
terkejut melihat kejadian itu dan tidak menyangka, tindakan yang dilakukan oleh
Amel dan teman-temannya sudah berlebihan.
"Denger ya! Jika gadis ini masih mencari gara-gara sama kita, lihat aja ya!" ancam Amel.
Gadis itu hanya tertunduk ketakutan. Sementara itu, kami bertiga merasa geram dan kesal karena melihat aksi Amel dan teman-temannya. Mereka lalu meninggalkan kami sambil memainkan rambutnya. Sementara itu, gadis itu sudah meninggalkan kami.
"Kita
jangan takut. Lakukan apa yang sudah dikatakan tadi," ujar Tuti.
"Betul,
jika takut, kita bisa menjadi sasaran mereka," timpal Keke.
"Aku
takut sih. Oya, soal gadis itu aku tahu! Dia namanya Saskia. Dia dulu sekelas
sama aku. Anaknya ceria sih dan humble. Sayang, dia pernah nggak bawa uang
untuk bayar apa gitu, lalu pinjam ke Amel. Nah, jadi sasarannya si Amel dkk.
nih. Padahal, si Saskia ini udah bayar. Amel aja yang suka memperpanjang
masalah dan koar-koar yang nggak-nggak soal Saskia. Akibatnya, Saskia mendadak
jadi pendiam dan lebih suka menyendiri. Ya kayak tiap harinya sih kalau jam-jam
istirahat. Teman-teman lain yang sebenarnya peduli malah jadi takut karena
kalau menolong Saskia, jatuhnya ntar di-bully ATF," cerita Misha
panjang lebar.
Kami berdua mengerti dengan cerita Misha. Sejenak, kami berdiskusi strategi yang pas untuk menghentikan aksi Amel dkk.
"Bagus!
Dengan begini, kita bisa menghentikan aksi si paling jagoan itu!" seru
Keke.
"Kita
melakukan aksi itu besok ya?" tanyaku.
"Siap!"
sahur Keke dan Misha serempak.
"Misha,
tolong kamu pantau Saskia ya. Kalau dia ada sesuatu, tolong sampaikan ke
kita," ujarku.
Misha menganggukkan kepala mengerti.
Setelah berdiskusi, kami siap melanjutkan rencana kami besoknya. Sementara itu, Keke bergegas ke halaman sekolah. Ia menunggu kehadiran ATF di sana. Selama kurang lebih hampir setengah jam ia menunggu, ATF tidak kunjung datang. Hingga waktu menunjukkan pukul 12.00, ATF tidak datang. Keke kembali menunggu hingga bel masuk kelas pukul 12.20 berbunyi. Ketika bel masuk kelas berbunyi, mereka ternyata tidak juga datang. Keke menjadi kesal dan memutuskan untuk kembali ke kelas.
***
Keesokan harinya, aku sengaja berangkat awal di sekolah. Aku menunggu kedatangan Amel dan teman-temannya. Tak lama kemudian, tampak mobil berwarna hitam elegan masuk ke halaman sekolah. Betapa terkejutnya aku! Untuk keluar dari mobil saja, Amel dibukakan pintu oleh sopirnya. Bukannya malah terima kasih, Amel hanya diam dan tidak peduli ketika sang sopir berbicara dengannya.
"Jadi, begini ya kelakuan Amel yang sebenarnya ..." gumamku dalam hati.
Beberapa saat kemudian, tampak Pingkan, Jeje, dan Ilona menyusul dengan mobil terbuka. Entah kenapa, tiba-tiba, aku membayangkan mereka berempat naik mobil pickup datang ke sekolah ini. Sontak, aku tertawa geli membayangkan peristiwa itu. Tanpa ku sadari, mereka telah berdiri di depanku.
"Update
dulu ah. Anak aneh tertawa sendiri di depan jalan masuk ke dalam sekolah,"
ujar Ilona.
"Woi!"
seru Pingkan.
"Eh,
ada kalian. Aduh maaf, aku tadi ngalamun. Sini, aku bawain," ujarku.
Aku lalu membawakan semua tas mereka dan berjalan di belakang mereka.
"Lumayan berat sih ..." pikirku.
Tiba-tiba,
dari kejauhan, tampak banyak temanku melihat kami dengan aneh. Di situ, juga
ada Keke.
"Ya
ampun, kayak anak kecil aja, bawa tas dibawain!" seru salah satu temanku.
"Amel and The Friends manja-manja ya? Pantas, anak cari aman," celetuk yang lain.
Keke
tertawa geli mendengarnya. Sementara itu, Amel merasa panas dan ia
memandangiku.
"Aku?" Aku pura-pura kebingungan.
"Mel,
emang kamu mager ya? Masa, bawa tas aja nggak bisa! Bawa beban kehidupan kali
ya, yang bisa!" komentar salah satu cowok.
"Mel,
katanya paling kuat di sini, kok bawa tas aja nggak kuat?" celetuk cowok
lainnya.
"Hahaha," tawa mereka keras.
Komentar
mereka membuat Amel dan teman-temannya menjadi meradang. Amel dkk. menghentikan
langkahnya dan mulai mengambil tasnya lalu bersiap melemparkan ke arah cowok
itu.
Tiba-tiba,
Keke maju dan menghadang si Amel
"Mau apa Mel? Mau menyerang mereka? Lawan aku dulu. Baru lawan mereka," ujar Keke berani.
Amel hanya diam membisu. Ketika Amel terdiam, kawan-kawannya ikut diam.
"Kenapa diam?!" tanya Keke keras.
Tiba-tiba, Saskia lewat. Seketika, Amel dan kawan-kawannya menjadi gercap. Ia menangkap dan menahan tangan Saskia ke arah belakang. Sontak, Saskia terkejut dengan ulah Amel dkk.
"Woi, lepasin dia!" seruku. Aku lalu membuang tas mereka.
ATF
terkejut dengan kelakuanku.
"Berani
ya, membuang tas kami!" marah Pingkan.
"Emang
kenapa? Kami nggak takut!" sahutku.
"Dih,
beraninya ramai-ramai!" cibir Jeje.
"Siapa yang takut? Kenapa kemarin aku tunggu sampai jam 12 siang, kalian nggak datang? Takut ya?" tanya Keke sambil tersenyum.
Mereka
hanya terdiam.
"Kami
nggak takut!" tukas Amel cepat.
"Kami lapar kemarin, makan di kantin!" tambahnya beralasan.
Keke
menggelengkan kepalanya dengan malas.
"Lepaskan Saskia atau kamu viral sekarang juga." Tampak Misha telah mendokumentasikan kejadian itu sejak dari tadi.
ATF
terkejut dengan aksi kami.
"Kami hanya ingin membantumu terkenal," ujar Keke santai. Misha lalu menghentikan rekaman videonya. Ia lalu diam-diam mengirimkan rekaman itu ke nomor kepala sekolah.
"Tenang
aja Amel. Suatu saat, kami pasti segan denganmu," kataku.
"Pilihannya hanya dua, lepaskan Saskia atau kalian berempat akan menjadi terkenal," tambahku lagi.
Mereka hanya terdiam.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba, Pak Sanusi, Kepala Sekolah dan Pak Bambang, ayah Amel datang. Sontak, Amel dkk. terkejut dengan kehadiran mereka secara tiba-tiba.
"Amel
dan teman-teman, silakan ikut kami ke kantor kepala sekolah," kata Pak
Sanusi.
"Kalian ikut juga," kata beliau sambil menunjuk ke arah kami.
Kami lalu bergegas menuju kantor kepala sekolah. Sementara itu, Amel dkk. hanya terdiam tertunduk. Sesampainya di kantor kepala sekolah, kami lalu masuk dan duduk karena ruangan Pak Sanusi yang sangat luas.
"Saya mendengar keluhan dari beberapa siswa, jika Amel dan teman-temannya sering mem-bully. Salah satu siswa yang menjadi korban adalah Saskia. Saya sudah memantau Amel dkk. sejak lama. Ini ada CCTV menunjukkan semuanya," jelas Pak Sanusi panjang lebar.
Amel dkk. sangat terkejut. Mereka baru tersadar, jika perbuatan mereka terekam di CCTV. Selama ini, mereka tidak pernah menyadari keberadaan CCTV yang memantau seluruh aktivitas di sekolah.
"Ada juga video tadi yang barusan terjadi. Sudah beberapa kali Saskia menjadi sasaran perundungan? Berulang kali? Amel dkk., kalian anak berprestasi di sekolah. Namun sayangnya, sikap dan tingkah laku kalian tidak mencerminkan karakter pelajar yang sesungguhnya. Kalian tidak mempunyai adab. Kalian bertindak semaunya. Akibatnya, banyak siswa yang merasa tidak nyaman dan takut di sekolah," ceramah Pak Sanusi.
"Saya ambil tindakan. Jika perbuatan itu berulang kali terjadi, saya akan men-skors kalian berempat dari sekolah," kata beliau. "Saya keluarkan SP1 sekarang untuk kalian. Jika sampai kena SP2 dan kalian masih mengulangi perbuatan itu lagi, kalian berempat, silakan beranjak kaki dari sekolah ini!" tegas Pak Sanusi.
Mereka hanya terdiam dan tertunduk ketakutan. Aku baru pertama kali melihat Amel dkk. merasa takut. Saskia juga ikut-ikutan takut
"Ka
... ka ... kami masih mau sekolah Pak," kata Amel terbata-bata.
"Iya
Pak, kami takut. Apalagi saya. Saya jauh dari Papa saya yang kerja di Jerman
Pak. Saya takut kalau sampai Papa saya tahu saya dikeluarkan dari sekolah,
beliau akan marah besar Pak. Apalagi, Mama udah lama meninggal, jadi Papa
seorang diri bekerja di sana. Saya juga di rumah sendiri," cerita Pingkan.
"Saya
juga Pak. Papa Mama saya menuntut saya berprestasi. Kalau mereka tahu saya
berbuat ulah, saya dikurung di rumah. Apalagi, Mama saya, sangat over
protective. Saya takut Pak. Mama saya keras sama saya. Saya nggak boleh jelek
pokoknya. Padahal, saya sendiri suka berbuat ulah di sekolah." Jeje mulai
menangis.
"Saya Pak. Papa dan Mama bertengkar terus hanya gara-gara saya selalu minta barang terbaru ke mereka," aku Ilona.
Aku tak menyangka kalau mereka punya kesedihannya masing-masing. Selama ini, aku menduga kalau mereka baik-baik saja. Ternyata, permasalahan di keluarga yang membuat mereka jadi suka mem-bully sesamanya. Diam-diam, aku penasaran dengan cerita Amel.
Tampak Pak Bambang menghela napas. Beliau lalu berbicara.
"Atas
nama Amel, putri saya dan teman-temannya, saya minta maaf ya Pak. Amel kurang
kasih sayang ibunya. Sudah hampir 10 tahun, Kasih, Ibu Amel pergi meninggalkan
kami. Setelah kepergian sang ibu, Amel menjadi berontak. Apalagi, setelah saya
menikah kedua kalinya dengan Susi, ibu angkat Amel. Susi selalu mendidik Amel
dengan keras dan disiplin. Ia berbeda dengan istri saya sebelumnya, yang selalu
mendidik Amel dengan lembut. Susi selalu menegur Amel jika berbuat salah.
Akibatnya, Amel menjadi semakin memberontak. Ia sering tidur di rumah Pingkan
dan jarang di rumah. Amel menjadi jauh dengan saya. Sementara itu, kami
berusaha mencari Amel. Kami sungguh kehilangan Amel.
Secara pribadi, saya merasa bersalah terhadap Amel, putri saya," cerita Pak Bambang mulai menitikkan air matanya.
Keke
lalu mengambilkan tisu untuk Pak Bambang.
"Terima
kasih Nak," ucap Pak Bambang.
"Sama-sama Pak," jawab Keke.
Pak Sanusi mulai mengangguk-angguk mengerti mendengarkan cerita mereka. Beliau lalu berkata.
"Saya benar-benar memahami cerita Bapak dan anak-anak. Saya turut berempati dengan apa yang telah disampaikan oleh Bapak dan anak-anak. Ternyata, hal ini yang melatarbelakangi semuanya. Namun pesan saya hanya satu. Jika masih ingin melanjutkan pendidikan di sekolah ini, silakan hentikan perbuatan bullying kalian," ujar Pak Sanusi berwibawa.
Amel lalu memandang ketiga kawannya. Ketiga kawannya menganggukkan kepala.
"Pak,
secara pribadi, saya mohon maaf ya Pak. Atas ulah saya selama ini. Buat Saskia,
Tuti, Keke, dan Misha, aku minta maaf ya kalau selama ini perbuatanku membuat
kalian jadi takut dan kesal," ucap Amel menyesal.
"Aku
juga minta maaf ya. Apalagi selama ini aku yang paling keras," sesal
Pingkan.
"Aku
minta maaf ya, kalau aku hobi buat story yang aneh-aneh," ucap Ilona.
"Maaf ya, aku terlalu lembut tapi semaunya ke kalian." Jeje ikut minta maaf pada kami.
Mereka berempat menyesali perbuatannya selama ini. Akibat perbuatannya, banyak siswa yang menjauhi mereka. Banyak siswa yang merasa tidak nyaman dan merasa takut. Apalagi, siswa yang sering terkena sasaran bully ATF. Meskipun demikian, ATF benar-benar menyesali perbuatannya. Mereka akhirnya menyadari ternyata sikap bullying itu dilatarbelakangi oleh persoalan diri masing-masing. Mereka berempat lalu memeluk kami. Sementara itu, tampak Keke masih merasa kesal dengan sikap mereka.
"Masih
mau bully lagi?" tanya Keke.
"Udah Ke ..." ujarku.
Amel dan ketiga kawannya menggeleng-gelengkan kepala.
"Anak-anakku, mulai hari ini, jangan mem-bully lagi ya! Perbuatan bullying itu menimbulkan luka di hati dan proses pemulihannya memerlukan waktu yang cukup lama. Bullying juga berdampak terhadap fisik dan psikologis seseorang, seperti mental, pikiran, dan perasaan. Kalau korban ketakutan dan merasa kenyamanannya terganggu, kan kasihan? Jadi, kurangi perbuatan mem-bully ya. Lebih baik, kalian fokus belajar. Fokus mengembangkan diri dengan potensi kalian masing-masing," nasihat Pak Sanusi.
Kami terdiam sejenak merenungkan nasihat Pak Sanusi. Apa yang disampaikan oleh beliau, benar adanya. Apalagi, ku lihat, wajah Amel dan ketiga temannya mulai kusut karena dari tadi mereka menangis. Mereka benar-benar menyesali perbuatannya.
"Aku
memaafkan kalian," ujar Saskia tulus.
"Aku
juga," sahutku.
"Iya
... aku juga memaafkan kalian. Maaf ya, kalau kami sering galak ke kalian
juga," ujar Keke masih malas. Aku menyenggol Keke.
"Maaf
ya ..." ucapnya lagi.
"Aku juga," kata Misha.
ATF lalu memeluk kami. Rasanya tiba-tiba hangat seketika. Kami lalu berganti memeluk ATF. Suasana yang semula tegang menjadi cair seketika. Sementara itu, Pak Sanusi dan Pak Bambang melihat pemandangan itu dengan haru.
Setelah kejadian itu, beberapa bulan kemudian, sikap Amel dkk. menjadi berubah. Dulu, ia dan ketiga temannya dikenal sebagai tukang bully. Namun, pandangan itu mulai berubah. Mereka menjadi salah satu empat sekawan yang doyan belajar dan membentuk klub berbagi nasi. Mereka rutin membagikan nasi setiap hari Sabtu, baik di lingkungan sekolah atau di luar sekolah. Teman-teman yang lain pun mulai mendekat ke Amel dkk. ATF pun mulai berbaur dengan banyak teman. Mereka yang dulu sinis dan sombong, sekarang ramah dan suka membantu. Ah, kami bertiga menjadi bahagia melihat perubahan mereka. Tak jarang, kami juga sering berkumpul dengan mereka. Semua kejadian yang telah berlalu sungguh memberikan pelajaran yang berharga bagi hidup kami.
*Tamat*
.png)
Ya ampun ini salah satu sikap perundungan sama temen ya. Jahat bgt sikapnya, kasian yg di bully. Tapi, Alhamdulillah ATF udah sadar dan jadi baik ya.
BalasHapuspesan moralnya tersampaikan dengan halus di setiap dialog karena cerpennya bagus, mengalir kata-katanya..
BalasHapusKayaknya emang cara ngelawan pembully adalah semuanya harus kompak. Kalau yg berjuang cm sendirian, biasanya mereka semakin berkuasa krn pembully itu juga biasanya bawa2 temen.. Tapi bersyukur ya, si pembully di cerita ini akhirnya bertaubat.. Hehe
BalasHapusPembully memang harusnya dilawan. Kalau kita takut, mereka semakin senang ngebullynya
BalasHapusEmang bullying ini sangat meresahkan.
BalasHapusSebenarnya mereka yang merundung itu bisa jadi pernah dirundung, karena biasanya jadi lingkaran setan. Cuma ya tetep aja perundungan itu jahat. Ceritanya kaya denger orang curhat.
BalasHapussay no to bullying!
BalasHapusSumpah ya bullying tuh bikin emosi. Biar apa coba ngebully anak orang? Ishhh
BalasHapusKasus bullying masih jadi persoalan yang belum terselesaikan, ya. Kasihan korban dan pelakunya
BalasHapusAda hikmah dibalik setiap peristiwa...
BalasHapus